SuaraJogja.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turun langsung ke Kabupaten Gunungkidul untuk memantau kasus antraks di wilayah ini. Kemenkes ingin memastikan, semua langkah yang diambil oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul telah benar dan sesuai prosedur.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono mengatakan, ia ditugaskan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto untuk memastikan bahwa upaya penanggulangan antraks yang ada di Gunungkidul dilakukan secara komprehensif.
"Bukan hanya dari aspek kesehatan manusia semata, tetapi juga dari kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan," ujar Anung, Jumat (17/1/2020), di Rumah Dinas Bupati Gunungkidul.
Jika berbicara tentang antraks, lanjutnya, maka ada tiga area yang harus dijaga: kesehatan orang, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Sebab, sifat spora dari antraks ini sangat tahan di segala cuaca.
Baca Juga: Medvedev Mundur, Mikhail Mishustin Terpilih Jadi Perdana Menteri Rusia
"Dan spora antraks diduga sudah menyebar ke beberapa wilayah meski perlu pengujian lebih lanjut," tambahnya.
Anung menyebutkan, Kemenkes memiliki gradasi di dalam menangani sebuah kejadian penyakit. Jika ada suatu jenis penyakit yang jumlahnya meningkat dua kali lipat dari periode sebelumnya, maka di dalam tatanan kesehatan, kasus tergolong sebagai kejadian luar biasa (KLB).
"Kalau kemarin enggak ada hari ini ada, satu saja, saya menyebutnya adalah kejadian luar biasa," ujar Anung.
Anung menandaskan, peristiwa antraks di Kabupaten Gunungkidul merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB), sehingga rentetan peristiwa terpaparnya manusia dan hewan dengan bakteri antraks tersebut harus ditangani secara komprehensif lintas sektoral agar segera bisa teratasi.
Kendati demikian, jelas Anung, satu kejadian yang ada saat ini menyebar ke berbagai wilayah ia sebut sebagai outbreak. Sementara, jika penyakit sudah menyebar ke semua wilayah, maka kasus itu disbeut wabah.
Baca Juga: Mari Elka Pangestu Blak-blakan soal Posisinya di Bank Dunia
"Dan hal tersebut pernah terjadi, misalkan cerita soal puluhan tahun lalu, yaitu sekitar tahun 90-an, di mana semua orang terkena flu, maka itu disebut wabah," terangnya.
Berita Terkait
-
Siswa Rentan Tertular Penyakit, Ketua IDAI Minta Pelaksanaan Vaksinasi di Sekolah Terus Diperkuat
-
29 Kasus Cacar Monyet Terkonfirmasi, Akankah jadi Kejadian Luar Biasa?
-
Sejarah Wabah Antraks di Indonesia, Kasus Pertama Ditemukan Lebih dari Satu Abad Lalu
-
Fakta-fakta Antraks di Gunungkidul: 3 Warga Tewas, Kuburan Sapi Digali untuk Dikonsumsi Dagingnya
-
Mengenal Apa Itu Tradisi Brandu, Diduga Jadi Sarana Penyebaran Antraks di Gunungkidul
Tag
Terpopuler
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Lisa Mariana Pamer Foto Lawas di Kolam Renang, Diduga Beri Kode Pernah Dekat dengan Hotman Paris
- JakOne Mobile Bank DKI Diserang Hacker? Ini Kata Stafsus Gubernur Jakarta
- Chat Istri Ridwan Kamil kepada Imam Masjid Raya Al Jabbar: Kami Kuat..
Pilihan
-
Nova Arianto: Ada 'Resep Rahasia' STY Saat Timnas Indonesia U-17 Hajar Korea Selatan
-
Duh! Nova Arianto Punya Ketakutan Sebelum Susun Taktik Timnas Indonesia U-17 Hadapi Yaman
-
Bukan Inter Milan, Dua Klub Italia Ini Terdepan Dapatkan Jay Idzes
-
Cerita Trio Eks Kapolresta Solo Lancarkan Arus Mudik-Balik 2025
-
Gawat! Mees Hilgers Terkapar di Lapangan, Ternyata Kena Penyakit Ini
Terkini
-
Prabowo Didesak Rangkul Pengusaha, Tarif Trump 32 Persen Bisa Picu PHK Massal di Indonesia?
-
Viral, Mobil Digembosi di Jogja Dishub Bertindak Tegas, Ini Alasannya
-
Tanggapi Langkah Tarif Trump, Wali Kota Jogja: Kuatkan Produk Lokal!
-
Masa WFA ASN Diperpanjang, Pemkot Jogja Pastikan Tak Ganggu Pelayanan Masyarakat
-
Kurangi Kendaraan Pribadi Saat Arus Balik, Menhub Lepas 22 Bus Pemudik di Giwangan