SuaraJogja.id - Pemutusan hubungan kerja kepada sejumlah tenaga kesehatan dilakukan oleh salah satu rumah sakit di Jogja. Padahal, kasus virus corona di Jogja belum menunjukkan adanya tren penurunan.
Salah satunya Ela Wulan Rahmawati (28) yang sudah enam tahun bekerja sebagai bidan di salah satu rumah sakit di Jogja.
Meski rumah sakit tempatnya bukanlah rujukan pasien Covid-19, namun interaksi dengan banyaknya pasien tidak menutup kemungkinan adanya penularan.
Pada Kamis (11/6/2020) lalu, Ela menerima Surat yang berisi pemutusan kontrak kerja. Sontak, Ela pun mempertanyakan alasan pemutusan kontrak tersebut.
"Direksi bilang kalau kondisi keuangan rumah sakit sedang tidak bagus. Alasannya untuk efisiensi," katanya melansir Harian Jogja, Minggu (5/7/2020).
Belakangan, wabah virus corona memang membuat berbagai bidang kesulitan bertahan karena tekanan ekonomi.
Menurut penuturannya, sejak April lalu, pihak rumah sakit sedikit terlambat dalam menjalankan operasional yang mengacu pada protokol kesehatan yang dianjurkan.
Ia menyayangkan respon pihak rumah sakit yang tidak cepat tanggap dalam menghadapi gelombang pertumbuhan krisis Covid - 19. Salah satunya soal standar alat perlindungan diri (APD).
Tak hanya itu, gaji yang diterimanya setiap bulan 'hanya' ada di angka Rp1,3 Juta. upah tersebut berada dibawah upah minimum Kota Jogja tahun 2020 sebesar Rp2.004.000 per bulan. Terlebih, Ela juga tak mendapatkan uang jasa medis yang seharusnya ia terima secara berkala.
Baca Juga: Detik-detik Warga Bongkar Peti Jenazah Pasien Covid-19, Riuh Suara Tangis
Tunjangan Hari Raya (THR) tahun ini juga tidak ia terima secara penuh. Meski dalam hal ini dia tak mempermasalahkan. Lantaran, nasib Ela terbilang sedikit beruntung. Ia jadi salah satu nakes yang bisa bekerja hingga kontraknya habis, tidak sedikit kawan sejawatnya yang terpaksa berhenti kerja karena pemutusan kontrak.
"Saya memang masih kerja sampai kontrak habis, tapi saya gak dapat kejelasan sekarang. Teman saya itu diputus kontraknya beberapa hari sebelum kontraknya habis. Harusnya kan tidak bisa dadakan seperti itu," ujarnya.
Disampaikan oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia [IDI] DIY, Joko Murdiyanto, masyarakat jangan menganggap paramedis bakal menerima uang banyak saat tidak sedikit pihak yang kesulitan pandemi.
Kenyataannya, nakes juga tidak terhindar dari krisis yang ditimbulkan karena pandemi virus corona. Biaya perawatan bagi apsien Corona memang mahal, tapi bukan berarti paramedis mendapatkan uang yang berlebih.
"Semua dokter termasuk saya, kalau boleh memilih mending tidak ada Covid," ujarnya.
Tag
Berita Terkait
-
Kena PHK, Warga Klaten Ajak Istri dan Bawa Balitanya Curi Motor
-
Kesal di-PHK saat Wabah Corona, Baihagi Bakar Warung, Toko, dan 2 Mobil
-
Banyak Korban PHK yang Tak Lolos Program Kartu Prakerja
-
Akibat Covid-19, Airbus PHK 15 Ribu Karyawannya
-
Presiden KSPI Perkarakan PHK Gojek, Gun Romli: Aroma Pesanan Sangat Kuat
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kawal Kasus Little Aresha, Orang Tua Korban Dorong Penambahan Pasal Berlapis dan Hak Restitusi
-
Siklus Megathrust Pulau Jawa Tinggal 30 Tahun, Pakar Kegempaan Ingatkan Kesiapsiagaan DIY
-
Niat Keluar Cari Sasaran, Komplotan Remaja Bacok Pemuda di Jalan Godean Sleman
-
Efisiensi Anggaran Bikin Pekerja Seni di Jogja Kelimpungan, Berburu Hibah demi Bertahan Hidup
-
Tim Hukum Peduli Anak Pemkot Jogja Bidik Pidana Korporasi hingga Pembubaran Yayasan Little Aresha