Dikatakan Diana bahwa awalnya warung itu berada di dekat Alun-alun Wates. Namun berhubung harus direlokasi karena satu dan lain hal maka pihaknya berpindah ke tempat yang baru yang sekarang di tempati ini. Jaraknya juga tetap tidak terlalu jauh dari Alun-alun Wates.
Mula-mula, Diana bercerita bahwa teman-teman Warkop mendapat bantuan dari Pemkab Kulon Progo yang bekerja sama dengan salah satu bank. Ia menjadi salah satu yang terlibat dalam penandatanganan surat perjanjian kerjasama atau Memorandum of Understanding (MoU).
"Tanggal pastinya juga saya lupa tapi yang jelas kita [komunitas Warkop] mendapat bantuan uang sekitar Rp.12 juta. Sebelum itu juga sempat ditanya, mau digunakan untuk apa uang tersebut, mau dibikin salon atau usaha apa. Setelah kita rapat sama anggota komunitas yang lain, akhirnya kita putuskan untuk mendirikan warung sembako," ucapnya.
Diana melanjutkan, warung itu juga didapatkan setelah mendapati ada sebuah kios kosong yang terbengkalai. Dari situ semua anggota rupanya setuju hingga akhirnya diputuskan untuk memanfaatkan kios itu untuk dibangun warung sembako atau kelontong yang sekarang ini. Walaupun tidak terlalu besar tapi warung tersebut dikelola oleh teman-teman Warkop sendiri.
Tidak hanya bantuan dana yang digunakan sebagai modal usaha saja yang diberikan pemerintah kepada komunitas Warkop. Sejak awal terbentuknya pun komunitas Warkop sudah sering dilirik oleh pemerintah daerah untuk diundang ikut mengisi acara dari panggung ke panggung. Mulai dari organ tunggal hingga acara kesenian lainnya.
Dari situ Pemkab Kulon Progo dalam hal ini Dinas Kebudayaan, yang waktu itu dirangkul oleh mantan Sekretaris Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito yang sekarang menjadi Kepala Dinas Pariwisata, untuk mengikutsertakan teman-teman Warkop dalam acara atau kegiatan kesenian di Kulon Progo. Salah satunya adalah partisipasi komunitas Warkop dalam Sanggar Singlon.
Dari Sanggar Singlon itulah teman-teman Warkop akhirnya mendapat ruang yang layak untuk dapat mengeksplorasi bakatnya sekaligus membangkitkan kembali gairah masyarakat terhadap kesenian tradisional.
Melihat potensi yang ada dari para anggota Warkop, Joko Mursito yang juga sebagai pemilik Sanggar Singlon itu kemudian membentuk sebuah kesenian yakni Jatilan Kreatif bertajuk Jaran Progresif. Berangkat dari sini kegiatan kesenian Warkop terus berkembang hingga saat ini.
"Bahkan mas, kita pernah menyabet gelar juara pertama selama tiga kali secara terus-menerus di tingkat DIY kalau tidak salah," kata Diana sambil menunjukkan piala yang terdapat di warungnya.
Baca Juga: Tiga Pasien Positif Covid-19 Asal Kulon Progo Dinyatakan Sembuh
Diana melanjutkan bahwa Warkop juga tidak hanya ikut dalam Sanggar Singlon saja tapi juga turut ikut salah satu sanggar di Kutoarjo yang sempat dipegang langsung oleh mantan Bupati Purworejo almarhum Kelik Sumrahadi yang sekarang dipindah kepada Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti.
Namun sayang, berbagai kegiatan kesenian yang sering diikuti oleh Warkop sekarang harus terhenti sementara akibat adanya pandemi Covid-19. Hal itu tidak dipungkiri oleh Diana yang mengaku sangat merasakan perbedaan atau berkurangnya jumlah kegiatan dari sebelum pandemi hingga saat ini dalam pandemi.
"Kalau biasanya warung kita ini sering tutup karena kesibukan kita dapat job untuk pentas kemana-mana ya kalau sekarang selama pandemi jadi lebih sering jaga warung," katanya.
Namun Warkop juga tidak tinggal diam, pasalnya selama pandemi Covid-19 pihaknya mendapat bantuan dana sekitar Rp500.000 selama enam bulan yang berasal dari IWAYO. Dari bantuan itu, komunitas Warkop memilih untuk membuat dapur umum setiap bulannya.
Di dapur umum itu kadang menjadi ajang berkumpulnya semua anggota komunitas untuk memasak bersama. Makanan yang telah dimasak bersama-sama itu tadi selain dinikmati oleh teman-teman Warkop sendiri juga akan dibagikan untuk warga yang berada di sekitar warung.
Mengenai jumlah anggota Waria Kulon Progo yang sementara ini sudah terkoordinir, Diana menyebut sudah tercatat sebanyak 12 orang. Namun dikatakan Diana bahwa masih banyak teman-teman waria lainnya di Kulon Progo yang dirasa takut untuk menampakan diri.
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Ars Longa: Generatio, Awal Trilogi ARTJOG Bicara soal Warisan Luka
-
Geger di Lintasan Mandiri Jogja Marathon, Insiden Marshal dan Ajudan Danrem Berakhir Damai
-
4.664 Kasus Perceraian di DIY, Trauma Anak Jadi Luka yang Jarang Dibahas
-
Tempat Hiburan di Jogja Ludes Terbakar, Owner Soroti Pemadaman Listrik Berulang
-
Seniman ARTJOG Lapor ke LBH, Soroti Dugaan Represi di Ruang Seni Yogyakarta