Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Sabtu, 10 Oktober 2020 | 17:30 WIB
Potongan video demonstran diintimidasi preman/ormas di Jogja - (Twitter/@belummati_)

SuaraJogja.id - Sebuah utas yang membahas tentang komentar seorang warganet yang mengkritik kebiasaan orang Jogja mempertanyakan daerah asal viral di media sosial. Komentar warganet itu diberikan untuk video dari akun @belummati_ ketika seorang demonstran diintimidasi preman atau anggota ormas Jogja.

Dalam utasnya, akun dengan nama geng legendaris Jogja tersebut menyoroti komentar seorang warganet soal pertanyaan daerah asal.

Akun tersebut mengunggah sebuah foto tangkapan layar yang berisi komentar dari @satrzky yang terbaca, "'Asli neng di mas? [asli mana mas?]' itu kalimat yang paling aku benci. Di seluruh daerah di Indonesia, cuman di sini aja yang suka mengkotak-kotakan orang sesama Indonesia sebagai 'orang asing'."

Ia pun menuliskan tanggapan mengenai komentar itu melalui utasnya. Pengguna akun menjelaskan bahwa dari sisi sosiologis, perlu dipahami, tak ada maksud menyinggung SARA ketika seorang warga Jogja bertanya daerah asal.

"Pahami sosiologisnya ya ndes.. kalo berperkara di jogja trs ditanyai 'kowe cah ngendi mas? [kamu anak mana?]' itu sama sekali bukan intonasi sara. Lagean cah jogja yo mmg gitu. Dari dulu. Aku pernah bilang. jogja itu bukan kota kecil, tapi kampung besar," tulisnya.

Pembuat utas ini juga menjelaskan bahwa ketika ditanya dan dijawab bukan asli Jogja, itu tidak masalah. Masyarakat Jogja, kata dia, akan mengerti, meskipun ada satu dua daerah yang dicap dengan suatu stigma.

"Misal dijawab bukan bukan dari Jogja pun ya gpp, ga lalu direndahkan. Biasanya malah cenderung dimengerti. Memang ada satu daerah yang karena stigma dipersepsi buruk. Tapi biasanya karena mengalami. jadi tdk bisa disalahkan bgt," tambah @qzruh_jogja.

Selanjutnya, ia menjelaskan alasan mengapa warga Jogja sering menanyakan daerah asal ataupun kampung halaman. Hal ini terkait dengan faktor historis 'Trah'.

Kampung-kampung di Jogja ini, jelas @qzruh_jogja, memiliki sejarahnya masing-masing. Beberapa kampung tertentu terbentuk dari sebuah trah, khususnya yang terkait keraton. Dengan berjalannya waktu, ada pengaruh teritori kekuasaan tokoh tertentu dan geng, jelasnya.

Baca Juga: Mengaku Dihalangi Dampingi Demonstran, LBH Yogyakarta: Polisi Langgar HAM

"Maka menanyakan kampung sebetulnya adalah mitigasi siapa lawannya ini. Trah siapa. Atau kalau sekarang ya kira2 orangnya siapa. Makanya disusul pertanyaan kenal Si A, B, C, dst apa gak. Biasanya yg disebut tadi adl org yg disegani atau malah mungkin musuhnya sekalian," terang @qzruh_jogja.

Ia kemudian menceritakan bahwa dulu pernah ada sejumlah kampung yang orang Jogja pun segan untuk berurusan dengan warga di sana. Kampung tersebut di antaranya Terban, Badran, hingga Kauman. Mneurut @qzruh_jogja, di sana ada preman besar.

Kampung-kampung tersebut saat ini malah menjadi patokan jika ada orang yang bertanya alamat atau jalan di Jogja.

Utas yang dibuat oleh akun Twitter @qzruh_jogja pada Jumat (9/10/2020) ini telah memperoleh 1 ribu suka, 528 retweet, dan 120 tweet kutipan dari warganet. Banyak respons yang juga disampaikan warganet.

"Jogja itu kampung besar, aah setuju banget.. Krn memang Jogja itu sempit. Sana sini, kesana kemari sering menemukan ternyata masih ada hubungan kekerabatan atau sekedar pertemanan," tulis akun @satriaoetami81.

"Itu refleks org kan si biasanya. Apalagi kan pengen kenal deket atau hanya sekedar basa-basi, bisa juga supaya lebih akrab," ujar akun @pzzzzzzt.

Load More