SuaraJogja.id - Erupsi Merapi pada sebuah petang kala 26 Oktober 2010 lalu menjadi satu dari sekian banyak peristiwa penting yang akan selalu berada dalam benak warga Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Sleman. Setelah sempat mereda, erupsi masa itu memasuki puncaknya pada 5 November 2010, tepat dini hari. Kini, setelah satu dasawarsa terlewati, kerasnya takdir itu masih lekat di depan mata.
Pada masa-masa itu, Tugiman baru saja menjalankan tugasnya membantu warga yang tinggal dalam radius 8 Km dari puncak Merapi, untuk mengungsi ke lokasi yang berjarak aman sekitar 10 Km. Tugas itu ia lakukan pada 27-28 Oktober 2010. Belum jua dipungkasi tugasnya, ia harus kembali memindahkan pengungsi ke lokasi pengungsian yang berjarak sekitar 15 Km dari puncak.
Suatu ketika pada 3 November 2010, Tugiman, yang merupakan staf Pemerintah Kecamatan Cangkringan itu, ikut rapat bersama Pemkab Sleman dan pulang ke rumah sekitar pukul 23.30 WIB. Lelah terasa menggelayut pada tubuhnya, Tugiman bersama keluarganya memilih untuk tidur.
"Pak, le ngungsi kon [yang ngungsi diminta] pindah," kata istri Tugiman, terbangun dari tidurnya. Lekas-lekas ia membangunkan suaminya, yang terbaring di sampingnya. Dikatakannya bahwa ia baru saja menerima sebuah bisikan. Disampaikanlah pula isi bisikan tersebut.
"Ora [enggak]," jawab Tugiman, suami si puan. Rupanya lelaki itu sudah sadar dari lelapnya.
Pada pagi harinya, mereka kembali membicarakan soal bisikan yang konon diterima istrinya dari seorang yang sudah tua. Hingga berselang sepuluh menit kemudian, telepon genggam Tugiman berdering. Panggilan masuk dari perangkat pemerintah desa, mengabarkan gunung Merapi kembali meletus. Tak ayal mereka memutuskan mengungsi.
"Itu tanggal 4 kalau tidak salah, pagi hari kan letusan yang itu?" tutur warga Pedukuhan Glagahmalang, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan itu.
Ya, di pagi hari itu, letusan erupsi Merapi memunculkan kolom awan panas setinggi 4 Km dengan material menuju ke segala arah.
Tugiman dan keluarganya melangkah ke selatan, mengikuti arah seperti yang diminta oleh bisikan tadi, lalu melanjutkan hidupnya, hingga kemudian bisa menuturkannya kembali kepada SuaraJogja.id.
Baca Juga: Jalur Evakuasi di Lereng Merapi Masih Rusak, Perbaikan Masuk Tahap Lelang
"Hanya tinggal baju di badan, tapi saya sempat menyelamatkan surat-surat berharga, mulai dari sertifikat BPKB, STNK juga bisa saya selamatkan," ungkap Tugiman, Jumat (16/10/2020).
Mengingat masih adanya korban jiwa, menurut Tugiman, di masa itu warga setempat masih memercayai mitos soal Geger Boyo, sebuah bukit tinggi, berbentuk seperti punggung buaya dan dianggap mampu menyelamatkan warga dari erupsi Merapi. Ditambah lagi, warga percaya bahwa material erupsi tak akan mengarah ke selatan, mengingat posisi Kraton Ngayogyakarta ada di sebelah selatan.
Namun kenyataannya tidak demikian, karena diketahui sejumlah desa terdampak letusan Merapi 2010 banyak yang berada di area selatan dan tenggara Merapi, mulai dari Kepuharjo, Glagaharjo, hingga sebagian Umbulharjo. Pada letusan sebelumnya, 26 Oktober 2010, tercatat sekitar 35 warga Kinahrejo meninggal dunia menjadi korban bencana erupsi karena material erupsi mengarah ke selatan.
Bila penulis merujuk dalam laman Badan Geologi Kementerian ESDM, diketahui material letusan Merapi sebelumnya pernah mengarah ke arah selatan, yaitu saat erupsi 1994. Pada 4 November 2010 saja, letusan merapi dengan kolom 4 Km membawa material berupa awan panas menuju ke segala arah di kaki Merapi.
Akibat erupsi 2010, BNPB RI mencatat ada sebanyak 347 korban jiwa dengan jumlah korban terbanyak berasal dari Kabupaten Sleman, yaitu 246 jiwa. Korban lainnya berasal dari Magelang, Klaten, dan Boyolali.
Belakangan, kisah tentang 'bisikan yang menyelamatkan' tadi telah Tugiman susun dalam sebuah artikel dan dipajang di Museum Gunung Merapi. Sejumlah perabot rumah tangga dan motor milik Tugiman menjadi benda memorabilia di museum yang sama.
Berita Terkait
-
Jalur Evakuasi di Lereng Merapi Masih Rusak, Perbaikan Masuk Tahap Lelang
-
Pertumbuhan Kubah Stabil, Aktivitas Vulkanis Gunung Merapi Cukup Tinggi
-
Wikipedia Lakukan Desain Ulang Dekstop Pertama dalam 10 Tahun
-
Mau Wisata ke Dukuh Girpasang? Awas Jangan Teriak-Teriak, Begini Akibatnya
-
Seorang Bocah 'Silver' Berusia 10 Tahun Tewas Mengenaskan Terlindas Truk
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Menjaga Berkah di Dapur Subuh: Perjalanan Inspiratif Penjual Dimsum yang Berhasil Mandiri Finansial
-
Dugaan Ormas Dibenturkan dengan Demonstrans saat Kerusuhan Malioboro, Sultan Klaim Tak Tahu
-
Dua Peserta Demo di Malioboro Sempat Hilang, LBH Laporkan Sudah Pulang
-
Jadi Bank Beraset di Atas Rp500 Triliun, BRI Raih Empat Penghargaan Bergengsi Pada 2026
-
Puncak AXIS Nation Cup 2026 Segera Tiba, Tim Futsal SMA Terbaik Siap Adu Kekuatan