Kini, Tugiman bersama warga lainnya yang juga korban bencana erupsi Merapi masih terus menjaga kearifan lokal berdampingan bersama alam. Namun, erupsi dahsyat itu nyatanya membawa perubahan bagi mereka.
"Ekonomi banyak berubah, kalau dulu monoton petani, peternak, sekarang kami juga berdagang dan menjalankan usaha pariwisata. Pendapatan keluarga meningkat dari berbagai sektor," ungkapnya.
Sementara dari sisi mitigasi bencana, bila ada getaran di lingkungan, guguran juga sudah waspada. Ada titik kumpul di tiap pedukuhan serta memiliki tas mitigasi.
Tugiman mengakui, awalnya tak mudah bagi para korban bencana erupsi untuk meninggalkan rumahnya yang lama dan hidup di Huntap. Di kediaman mereka yang lama, mereka sudah terlanjur nyaman dan tak perlu lagi menata apa pun. Namun di Huntap, banyak penyesuaian baru harus dilakukan -- menata lingkungan dan menyesuaikan diri.
"Beda rasanya, kalau di huntap kan, misalnya anggaplah, kita masak telur, tetangga bisa mencium aromanya," ujar Tugiman beranalogi.
Panewu Cangkringan Suparmono mengakui, satu dasawarsa berlalu, tetapi jejak sisa erupsi masih dapat dilihat jelas di banyak titik wilayah Kapanewon Cangkringan.
Tak hanya dianggap bencana, erupsi 2010 menjadi pelajaran bagi warga dan membawa perubahan drastis bagi warga Cangkringan, utamanya dari segi mindset. Warga yang sebelumnya memercayai mitos, kini mereka percaya pada data-data yang dihadirkan oleh teknologi, laporan BPPTKG, informasi BPBD dan pihak lain terkait. Demikian pula dari sisi mitigasi, ibaratnya 'relawan bergerak lebih cepat, masyarakat rileks'.
Tidak tanpa alasan, anggapan demikian muncul karena warga di Cangkringan lebih paham bagaimana hidup berdampingan dengan Merapi, mulai dari forum khusus, pos pantau sendiri, peralatan sendiri.
Dari sisi ekonomi, jangka waktu 10 tahun belakangan memberikan kehidupan lebih baik bagi warga Cangkringan.
Baca Juga: Jalur Evakuasi di Lereng Merapi Masih Rusak, Perbaikan Masuk Tahap Lelang
"Ekonomi Cangkringan sangat tumbuh, berbeda dengan masa dulu, kami hanya bergantung pada pertanian dan ternak sapi perah. Sekarang begitu banyak sektor yang menghidupi warga. Demikian juga Pemdes di Cangkringan semakin pandai meng-create dan membangun bersama warganya," terangnya.
Berkaca pada kebutuhan jalur evakuasi saat bencana, Cangkringan selanjutnya memisahkan antara jalur wisata, jalur ekonomi dan jalur evakuasi. Ketiganya berjalan berdasarkan sesuai fungsinya, kendati bila ada bencana yang tak diduga, ketiga jalur bisa digunakan bersamaan. Untuk menghindari kepadatan di jalur evakuasi dan memperlambat proses evakuasi.
Jalur ekonomi muncul berawal dari rembuk sederhana Pemerintah Kapanewon, Pemkab Sleman untuk memanfaatkan jalur sepanjang 4,9 Km lebar 5 meter. Jalur itu menyangkut tiga kalurahan, yaitu Kepuharjo, Wukirsari, Argumulyo. Ketika jalur ini sudah jadi, pemanfaatannya tak akan pula mengganggu jalur wisata yang sudah lebih dulu beroperasi.
Di kesempatan yang sama, Suparmono tak berat pula mengakui, masih ada jalur evakuasi yang rusak di kawasan Merapi. Misalnya jalur poros Glagaharjo sepanjang 2 Km masih rusak, dari total 8 Km yang ada.
Serta poros Watuadeg, Wukirsari - Umbulharjo juga mengalami kerusakan sepanjang 3 Km.
"Tahun ini diperbaiki. Kalau untuk poros Glagah, sebetulnya sudah masuk jadwal perbaikan tahun ini, tapi karena COVID-19 jadi mundur dari jadwal," ujarnya.
Berita Terkait
-
Jalur Evakuasi di Lereng Merapi Masih Rusak, Perbaikan Masuk Tahap Lelang
-
Pertumbuhan Kubah Stabil, Aktivitas Vulkanis Gunung Merapi Cukup Tinggi
-
Wikipedia Lakukan Desain Ulang Dekstop Pertama dalam 10 Tahun
-
Mau Wisata ke Dukuh Girpasang? Awas Jangan Teriak-Teriak, Begini Akibatnya
-
Seorang Bocah 'Silver' Berusia 10 Tahun Tewas Mengenaskan Terlindas Truk
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Menjaga Berkah di Dapur Subuh: Perjalanan Inspiratif Penjual Dimsum yang Berhasil Mandiri Finansial
-
Dugaan Ormas Dibenturkan dengan Demonstrans saat Kerusuhan Malioboro, Sultan Klaim Tak Tahu
-
Dua Peserta Demo di Malioboro Sempat Hilang, LBH Laporkan Sudah Pulang
-
Jadi Bank Beraset di Atas Rp500 Triliun, BRI Raih Empat Penghargaan Bergengsi Pada 2026
-
Puncak AXIS Nation Cup 2026 Segera Tiba, Tim Futsal SMA Terbaik Siap Adu Kekuatan