Scroll untuk membaca artikel
Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Jum'at, 16 Oktober 2020 | 18:25 WIB
Sebuah monumen pengingat bencana erupsi Merapi 2010, yang diresmikan Bupati Sleman Sri Purnomo, di area Pedukuhan Bakalan, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Jumat (16/10/2020). - (SuaraJogja.id/Uli Febriarni)

SuaraJogja.id - Erupsi Merapi pada sebuah petang kala 26 Oktober 2010 lalu menjadi satu dari sekian banyak peristiwa penting yang akan selalu berada dalam benak warga Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Sleman. Setelah sempat mereda, erupsi masa itu memasuki puncaknya pada 5 November 2010, tepat dini hari. Kini, setelah satu dasawarsa terlewati, kerasnya takdir itu masih lekat di depan mata.

Pada masa-masa itu, Tugiman baru saja menjalankan tugasnya membantu warga yang tinggal dalam radius 8 Km dari puncak Merapi, untuk mengungsi ke lokasi yang berjarak aman sekitar 10 Km. Tugas itu ia lakukan pada 27-28 Oktober 2010. Belum jua dipungkasi tugasnya, ia harus kembali memindahkan pengungsi ke lokasi pengungsian yang berjarak sekitar 15 Km dari puncak.

Suatu ketika pada 3 November 2010, Tugiman, yang merupakan staf Pemerintah Kecamatan Cangkringan itu, ikut rapat bersama Pemkab Sleman dan pulang ke rumah sekitar pukul 23.30 WIB. Lelah terasa menggelayut pada tubuhnya, Tugiman bersama keluarganya memilih untuk tidur.

"Pak, le ngungsi kon [yang ngungsi diminta] pindah," kata istri Tugiman, terbangun dari tidurnya. Lekas-lekas ia membangunkan suaminya, yang terbaring di sampingnya. Dikatakannya bahwa ia baru saja menerima sebuah bisikan. Disampaikanlah pula isi bisikan tersebut.

Baca Juga: Jalur Evakuasi di Lereng Merapi Masih Rusak, Perbaikan Masuk Tahap Lelang

"Ora [enggak]," jawab Tugiman, suami si puan. Rupanya lelaki itu sudah sadar dari lelapnya.

Pada pagi harinya, mereka kembali membicarakan soal bisikan yang konon diterima istrinya dari seorang yang sudah tua. Hingga berselang sepuluh menit kemudian, telepon genggam Tugiman berdering. Panggilan masuk dari perangkat pemerintah desa, mengabarkan gunung Merapi kembali meletus. Tak ayal mereka memutuskan mengungsi.

"Itu tanggal 4 kalau tidak salah, pagi hari kan letusan yang itu?" tutur warga Pedukuhan Glagahmalang, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan itu.

Ya, di pagi hari itu, letusan erupsi Merapi memunculkan kolom awan panas setinggi 4 Km dengan material menuju ke segala arah.

Tugiman dan keluarganya melangkah ke selatan, mengikuti arah seperti yang diminta oleh bisikan tadi, lalu melanjutkan hidupnya, hingga kemudian bisa menuturkannya kembali kepada SuaraJogja.id.

Baca Juga: Pertumbuhan Kubah Stabil, Aktivitas Vulkanis Gunung Merapi Cukup Tinggi

"Hanya tinggal baju di badan, tapi saya sempat menyelamatkan surat-surat berharga, mulai dari sertifikat BPKB, STNK juga bisa saya selamatkan," ungkap Tugiman, Jumat (16/10/2020).

Mengingat masih adanya korban jiwa, menurut Tugiman, di masa itu warga setempat masih memercayai mitos soal Geger Boyo, sebuah bukit tinggi, berbentuk seperti punggung buaya dan dianggap mampu menyelamatkan warga dari erupsi Merapi. Ditambah lagi, warga percaya bahwa material erupsi tak akan mengarah ke selatan, mengingat posisi Kraton Ngayogyakarta ada di sebelah selatan.

Namun kenyataannya tidak demikian, karena diketahui sejumlah desa terdampak letusan Merapi 2010 banyak yang berada di area selatan dan tenggara Merapi, mulai dari Kepuharjo, Glagaharjo, hingga sebagian Umbulharjo. Pada letusan sebelumnya, 26 Oktober 2010, tercatat sekitar 35 warga Kinahrejo meninggal dunia menjadi korban bencana erupsi karena material erupsi mengarah ke selatan.

Bila penulis merujuk dalam laman Badan Geologi Kementerian ESDM, diketahui material letusan Merapi sebelumnya pernah mengarah ke arah selatan, yaitu saat erupsi 1994. Pada 4 November 2010 saja, letusan merapi dengan kolom 4 Km membawa material berupa awan panas menuju ke segala arah di kaki Merapi.

Akibat erupsi 2010, BNPB RI mencatat ada sebanyak 347 korban jiwa dengan jumlah korban terbanyak berasal dari Kabupaten Sleman, yaitu 246 jiwa. Korban lainnya berasal dari Magelang, Klaten, dan Boyolali.

Belakangan, kisah tentang 'bisikan yang menyelamatkan' tadi telah Tugiman susun dalam sebuah artikel dan dipajang di Museum Gunung Merapi. Sejumlah perabot rumah tangga dan motor milik Tugiman menjadi benda memorabilia di museum yang sama.

Kini, Tugiman bersama warga lainnya yang juga korban bencana erupsi Merapi masih terus menjaga kearifan lokal berdampingan bersama alam. Namun, erupsi dahsyat itu nyatanya membawa perubahan bagi mereka.

"Ekonomi banyak berubah, kalau dulu monoton petani, peternak, sekarang kami juga berdagang dan menjalankan usaha pariwisata. Pendapatan keluarga meningkat dari berbagai sektor," ungkapnya.

Sementara dari sisi mitigasi bencana, bila ada getaran di lingkungan, guguran juga sudah waspada. Ada titik kumpul di tiap pedukuhan serta memiliki tas mitigasi.

Tugiman mengakui, awalnya tak mudah bagi para korban bencana erupsi untuk meninggalkan rumahnya yang lama dan hidup di Huntap. Di kediaman mereka yang lama, mereka sudah terlanjur nyaman dan tak perlu lagi menata apa pun. Namun di Huntap, banyak penyesuaian baru harus dilakukan -- menata lingkungan dan menyesuaikan diri.

"Beda rasanya, kalau di huntap kan, misalnya anggaplah, kita masak telur, tetangga bisa mencium aromanya," ujar Tugiman beranalogi.

Panewu Cangkringan Suparmono mengakui, satu dasawarsa berlalu, tetapi jejak sisa erupsi masih dapat dilihat jelas di banyak titik wilayah Kapanewon Cangkringan.

Tak hanya dianggap bencana, erupsi 2010 menjadi pelajaran bagi warga dan membawa perubahan drastis bagi warga Cangkringan, utamanya dari segi mindset. Warga yang sebelumnya memercayai mitos, kini mereka percaya pada data-data yang dihadirkan oleh teknologi, laporan BPPTKG, informasi BPBD dan pihak lain terkait. Demikian pula dari sisi mitigasi, ibaratnya 'relawan bergerak lebih cepat, masyarakat rileks'.

Tidak tanpa alasan, anggapan demikian muncul karena warga di Cangkringan lebih paham bagaimana hidup berdampingan dengan Merapi, mulai dari forum khusus, pos pantau sendiri, peralatan sendiri.

Dari sisi ekonomi, jangka waktu 10 tahun belakangan memberikan kehidupan lebih baik bagi warga Cangkringan.

"Ekonomi Cangkringan sangat tumbuh, berbeda dengan masa dulu, kami hanya bergantung pada pertanian dan ternak sapi perah. Sekarang begitu banyak sektor yang menghidupi warga. Demikian juga Pemdes di Cangkringan semakin pandai meng-create dan membangun bersama warganya," terangnya.

Berkaca pada kebutuhan jalur evakuasi saat bencana, Cangkringan selanjutnya memisahkan antara jalur wisata, jalur ekonomi dan jalur evakuasi. Ketiganya berjalan berdasarkan sesuai fungsinya, kendati bila ada bencana yang tak diduga, ketiga jalur bisa digunakan bersamaan. Untuk menghindari kepadatan di jalur evakuasi dan memperlambat proses evakuasi.

Jalur ekonomi muncul berawal dari rembuk sederhana Pemerintah Kapanewon, Pemkab Sleman untuk memanfaatkan jalur sepanjang 4,9 Km lebar 5 meter. Jalur itu menyangkut tiga kalurahan, yaitu Kepuharjo, Wukirsari, Argumulyo. Ketika jalur ini sudah jadi, pemanfaatannya tak akan pula mengganggu jalur wisata yang sudah lebih dulu beroperasi.

Di kesempatan yang sama, Suparmono tak berat pula mengakui, masih ada jalur evakuasi yang rusak di kawasan Merapi. Misalnya jalur poros Glagaharjo sepanjang 2 Km masih rusak, dari total 8 Km yang ada.

Serta poros Watuadeg, Wukirsari - Umbulharjo juga mengalami kerusakan sepanjang 3 Km.

"Tahun ini diperbaiki. Kalau untuk poros Glagah, sebetulnya sudah masuk jadwal perbaikan tahun ini, tapi karena COVID-19 jadi mundur dari jadwal," ujarnya.

Kontributor : Uli Febriarni

Load More