Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana
Minggu, 18 Oktober 2020 | 13:10 WIB
Komunitas Sioux saat memberikan edukasi mengenai penanganan terhadap ular. [Dok. Komunitas Sioux]

"Kita lebih fokus mengubah paradigma negatif masyarakat tentang ular. Jadi kita adakan pelatihan-pelatihan tentang ular, lalu edukasi, penelitian sampai akhirnya berkembang sampai ke rescue. Tahun 2012 kita menjadi sebuah yayasan yang kebetulan saya menjadi ketua. Sedangkan teman-teman pendiri lainnya berbagi tugas ada yang menjadi dewan pengawas dan pembina sampai sekarang," ujarnya.

Aji sendiri mulai tertarik dengan ular sekitar periode tahun 1996-1997 setelah belajar bersama Mas Gundul 'Jejak Si Gundul'. Ia melihat bagaimana Mas Gundul dapat dengan mudah berinteraksi dengan ular cobra yang notabene sangat berbisa.

"Akhirnya setelah saya tanya-tanya ternyata ada hal menarik yang saya dapat bahwa tidak semua ular itu berbahaya. Lalu kita putuskan untuk buat komunitas untuk edukasi tentang ular, tadinya hanya menyasar kelompok-kelompok pramuka saja," ucapnya.

Pengalaman Aji yang sudah bertahun-tahun mendalami tentang ular dibuktikan dengan beberapa kesempatan yang ia dapatkan untuk berkeliling Indonesia dari Aceh hingga Papua guna memberikan edukasi masyarakat terkait dengan ular. Selain itu Aji juga pernah diminta untuk mengisi beberapa program televisi terkait dengan petualang dan ular.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini, Minggu 18 Oktober 2020

Dari situ Aji dan teman-teman lainnya yakin bahwa misi utama Sioux adalah untuk edukasi bukan sekadar rescue atau penyelematan saja. Menurutnya, justru malah rescue ini bagian kecil dari tindakan nyata di lapangan namun misi besarnya adalah mengubah paradigma negatif masyarakat tentang ular itu sendiri.

Komunitas Sioux saat memberikan edukasi mengenai penanganan terhadap ular. [Dok. Komunitas Sioux]

Edukasi itu juga dituangkan dalam bentuk buku yang merupakan rangkuman dari materi-materi pelatihan Sioux selama ini. Tidak hanya berhenti pada edukasi, pelatihan-pelatihan profesional terkait cara menghadapi ular kepada orang-orang yang bekerja di tambang, kebun sawit hingga perusahaan-perusahaan juga dilakukan oleh Sioux.

Terkait dengan rescue dan beberapa ular yang terdapat di Shelter Sioux, Aji menuturkan bahwa konsepnya tetap bukan untuk memelihara melainkan hanya sebagai tempat transit saja. Sedangkan untuk rescue, ia sendiri mengaku lebih kepada kepuasan batin masing-masing.

Kepuasan itu didapatkan saat ada masyarakat yang kebetulan meminta tolong untuk menangkapkan ular yang dianggap menggangu dan Sioux berhasil melakukannya. Namun tak jarang juga saat pihaknya datang ular sudah hilang dan tidak tertangkap.

"Akhirnya kita berikan edukasi kepada masyarakat. Menurut kami 70 persen proses rescue itu sebetulnya edukasi dan 30 persen sisanya bonus kalau memang ularnya tertangkap," ujarnya.

Baca Juga: Kecelakaan Maut 3 Mobil di Jalan Jogja-Wonosari, 1 Korban Meninggal

Relawan di 12 Provinsi

Load More