Edukasi itu juga dituangkan dalam bentuk buku yang merupakan rangkuman dari materi-materi pelatihan Sioux selama ini. Tidak hanya berhenti pada edukasi, pelatihan-pelatihan profesional terkait cara menghadapi ular kepada orang-orang yang bekerja di tambang, kebun sawit hingga perusahaan-perusahaan juga dilakukan oleh Sioux.
Terkait dengan rescue dan beberapa ular yang terdapat di Shelter Sioux, Aji menuturkan bahwa konsepnya tetap bukan untuk memelihara melainkan hanya sebagai tempat transit saja. Sedangkan untuk rescue, ia sendiri mengaku lebih kepada kepuasan batin masing-masing.
Kepuasan itu didapatkan saat ada masyarakat yang kebetulan meminta tolong untuk menangkapkan ular yang dianggap menggangu dan Sioux berhasil melakukannya. Namun tak jarang juga saat pihaknya datang ular sudah hilang dan tidak tertangkap.
"Akhirnya kita berikan edukasi kepada masyarakat. Menurut kami 70 persen proses rescue itu sebetulnya edukasi dan 30 persen sisanya bonus kalau memang ularnya tertangkap," ujarnya.
Relawan di 12 Provinsi
Dikatakan Aji, Sioux tidak menganut sistem keanggotaan melainkan relawan. Artinya Sioux tidak terlalu mengikat seperti sistem anggota hingga memiliki nomor anggota dan segala macam. Sioux bisa dikatakan lebih fleksibel dengan setiap relawannya.
Saat ini kata Aji, sudah ada sekitar 700an relawan yang tersebar di 12 provinsi, mulai dari Sumatera Selatan, Lampung, Semua Jawa, Kalimantan Timur dan Tengah, Bali, NTT, serta NTB. Sementara untuk Sioux Jogja sendiri tercatat ada sekitar 115 relawan di seluruh kabupaten.
"Kita bergerak di masing-masing daerah itu untuk misi yang sama yakni edukasi tentang ular kepada masyarakat," imbuhnya.
Aji menyampaikan bahwa Sioux sendiri tidak memiliki agenda kegiatan rutin setiap minggu atau setiap bulannya. Hanya ada acara-acara tertentu yang memang akan diselenggarakan dalam beberapa waktu tertentu. Semisal terkait rencana acara besar yang bakal diselenggarakan sebagai peringatan 17 tahun berdirinya Sioux pada November mendatang.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini, Minggu 18 Oktober 2020
Dijelaskan Aji, terkait dengan pertemuan atau latihan para relawan lebih kepada upgrading muscle untuk tetap mengasah kemampuan menangani ular. Namun dikatakan Aji, saat ini rekan-rekan Sioux di Jakarta sedang disibukkan dengan sweeping di perumahan-perumahan warga.
Sweeping itu bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat di sana disamping juga membuat treatment penanganan dan pendataan terkait dengan ular apa saja yang sering muncul di area tersebut. Selain itu juga ada pelatihan-pelatihan untuk perusahaan dan recruitment relawan.
"Kalau di Jogja juga sama, kita lebih banyak masuk ke komunitas relawan untuk memberikan pelatihan dan edukasi ke masyarakat. Mulai dari Damkar, Satpol-PP, dan lainnya. Selama pandemi Covid-19 tetap masih jalan, justru karena munculnya ular tidak memperhitungkan pandemi jadi kapanpun ada ular masuk ke rumah, kami tetap ada permintaan," ungkapnya.
Terkait dengan permintaan rescue ular dari masyarakat, Aji menuturkan sehari paling tidak ada 10-15 panggilan di seluruh Indonesia dengan mayoritas berasal dari wilayah Jakarta. Merespon hal tersebut Aji, sudah membuat sebuah grup bernama Indonesia Snake Rescue yang terdiri dari beberapa komunitas dan pemadam kebakaran.
Grup tersebut berguna untuk memudahkan komunikasi di tiap daerah. Nantinya jika memang ada panggilan terkait rescue pihaknya akan membagikan panggilan tersebut kepada grup untuk selanjutnya ditindaklanjuti oleh relawan yang berada tidak jauh dari lokasi. Diungkapkan Aji, untuk kasus di Jogja sendiri akhir-akhir ini masih marak dengan ular yang ditemukan masuk ke rumah warga dan penanganan gigitan ular.
"Akhir-akhir ini yang paling banyak kita rescue atau masuk rumah adalah ular piton. Kalau cobra kebanyakan justru sudah dibunuh tapi ada beberapa yang kita temui masih hidup langsung kita bawa. Terakhir ada di belakang Monjali, ada juga cobra masuk rumah," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
Duh! Calon Jemaah Haji Sleman Batal Berangkat, Faktor Kesehatan hingga Kehamilan Jadi Penyebab
-
Minyakita Meroket, Jeritan Hati Penjual Angkringan Jogja: Naikkan Harga Gorengan Takut Tak Laku
-
Rayakan Hari Kartini, BRI Gelar Srikandi Pertiwi dan Womenpreneur Bazaar
-
Investasi Bodong di Jogja Terbongkar: 8 WNA Mengaku Miliarder, Padahal Cuma Kelola Warung Kecil
-
BRI Miliki 36 Ribu Pekerja Perempuan, Setara 43% dari Total 86 Ribu Pekerja