"Kita lebih fokus mengubah paradigma negatif masyarakat tentang ular. Jadi kita adakan pelatihan-pelatihan tentang ular, lalu edukasi, penelitian sampai akhirnya berkembang sampai ke rescue. Tahun 2012 kita menjadi sebuah yayasan yang kebetulan saya menjadi ketua. Sedangkan teman-teman pendiri lainnya berbagi tugas ada yang menjadi dewan pengawas dan pembina sampai sekarang," ujarnya.
Aji sendiri mulai tertarik dengan ular sekitar periode tahun 1996-1997 setelah belajar bersama Mas Gundul 'Jejak Si Gundul'. Ia melihat bagaimana Mas Gundul dapat dengan mudah berinteraksi dengan ular cobra yang notabene sangat berbisa.
"Akhirnya setelah saya tanya-tanya ternyata ada hal menarik yang saya dapat bahwa tidak semua ular itu berbahaya. Lalu kita putuskan untuk buat komunitas untuk edukasi tentang ular, tadinya hanya menyasar kelompok-kelompok pramuka saja," ucapnya.
Pengalaman Aji yang sudah bertahun-tahun mendalami tentang ular dibuktikan dengan beberapa kesempatan yang ia dapatkan untuk berkeliling Indonesia dari Aceh hingga Papua guna memberikan edukasi masyarakat terkait dengan ular. Selain itu Aji juga pernah diminta untuk mengisi beberapa program televisi terkait dengan petualang dan ular.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini, Minggu 18 Oktober 2020
Dari situ Aji dan teman-teman lainnya yakin bahwa misi utama Sioux adalah untuk edukasi bukan sekadar rescue atau penyelematan saja. Menurutnya, justru malah rescue ini bagian kecil dari tindakan nyata di lapangan namun misi besarnya adalah mengubah paradigma negatif masyarakat tentang ular itu sendiri.
Edukasi itu juga dituangkan dalam bentuk buku yang merupakan rangkuman dari materi-materi pelatihan Sioux selama ini. Tidak hanya berhenti pada edukasi, pelatihan-pelatihan profesional terkait cara menghadapi ular kepada orang-orang yang bekerja di tambang, kebun sawit hingga perusahaan-perusahaan juga dilakukan oleh Sioux.
Terkait dengan rescue dan beberapa ular yang terdapat di Shelter Sioux, Aji menuturkan bahwa konsepnya tetap bukan untuk memelihara melainkan hanya sebagai tempat transit saja. Sedangkan untuk rescue, ia sendiri mengaku lebih kepada kepuasan batin masing-masing.
Kepuasan itu didapatkan saat ada masyarakat yang kebetulan meminta tolong untuk menangkapkan ular yang dianggap menggangu dan Sioux berhasil melakukannya. Namun tak jarang juga saat pihaknya datang ular sudah hilang dan tidak tertangkap.
"Akhirnya kita berikan edukasi kepada masyarakat. Menurut kami 70 persen proses rescue itu sebetulnya edukasi dan 30 persen sisanya bonus kalau memang ularnya tertangkap," ujarnya.
Baca Juga: Kecelakaan Maut 3 Mobil di Jalan Jogja-Wonosari, 1 Korban Meninggal
Relawan di 12 Provinsi
Berita Terkait
-
6 Komunitas Womenpreneur Indonesia, Wadah Pemberdayaan Perempuan Pengusaha
-
KFAK: Ketika Komunitas Film Mampu Mematahkan Stigma 'Anak Kampung'
-
Ramadan di Jepang: Komunitas Muslim Berbagi dengan Tunawisma dan Ubah Stigma Islam
-
Pengalaman Lari Unik Melintasi Hidden Gem di Jakarta
-
Keseruan Voluntrip Ramadhan: "GELORA" Teman Berjalan di Kampung Piyungan
Terpopuler
- Dedi Mulyadi Syok, Bapak 11 Anak dengan Hidup Pas-pasan Tolak KB: Kan Nggak Mesti Begitu
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- JakOne Mobile Bank DKI Diserang Hacker? Ini Kata Stafsus Gubernur Jakarta
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Review Pabrik Gula: Upgrade KKN di Desa Penari yang Melebihi Ekspektasi
Pilihan
-
Jadwal Timnas Indonesia U-17 vs Yaman, Link Live Streaming dan Prediksi Susunan Pemain
-
Minuman Berkemasan Plastik Berukuran Kurang dari 1 Liter Dilarang Diproduksi di Bali
-
Nova Arianto: Ada 'Resep Rahasia' STY Saat Timnas Indonesia U-17 Hajar Korea Selatan
-
Duh! Nova Arianto Punya Ketakutan Sebelum Susun Taktik Timnas Indonesia U-17 Hadapi Yaman
-
Bukan Inter Milan, Dua Klub Italia Ini Terdepan Dapatkan Jay Idzes
Terkini
-
Prabowo Didesak Rangkul Pengusaha, Tarif Trump 32 Persen Bisa Picu PHK Massal di Indonesia?
-
Viral, Mobil Digembosi di Jogja Dishub Bertindak Tegas, Ini Alasannya
-
Tanggapi Langkah Tarif Trump, Wali Kota Jogja: Kuatkan Produk Lokal!
-
Masa WFA ASN Diperpanjang, Pemkot Jogja Pastikan Tak Ganggu Pelayanan Masyarakat
-
Kurangi Kendaraan Pribadi Saat Arus Balik, Menhub Lepas 22 Bus Pemudik di Giwangan