SuaraJogja.id - Topi sudah terpasang di kepala, cangkul berada di genggaman tangan sebelah kanan, sedangkan tangan kiri menenteng sebuah ember kecil berisi tanaman.
Mondar mandir pria itu menyeberangi sungai yang tak begitu dalam. Memang bantaran sungai di salah satu sisinya terlihat gersang. Hanya tanah kering yang diacuhkan begitu saja oleh mata setiap orang yang datang.
"Namanya Anto Ilyas, dia sering datang ke sini [objek wisata Pasar Kebon Empring]," kata Pengelola Pasar Kebon Empring Titik Ailuh, seolah menjawab rasa penasaran reporter SuaraJogja.id yang memandanginya sejak tadi.
Tidak begitu mempedulikan orang-orang yang berada di situ, Anto tetap fokus dengan apa yang dikerjakan. Sesekali Anto terlihat membuat lubang di tanah gersang tadi dengan cangkul yang sudah dipersiapkan.
Lubang-lubang itu kemudian diisi bibit tanaman yang juga telah dibawanya dari seberang sungai tadi. Agar tanaman bisa tetap hidup, air sungai pun ikut dimanfaatkan untuk menyirami tanaman yang baru saja ia semai itu.
Hampir terpeleset karena berada di bantaran sungai dengan medan tebing yang curam sudah biasa bagi Anto. Ia pun tampaknya sudah hafal di mana tempat seharusnya kedua kakinya bertapak atau tangannya yang harus meraih akar atau apa pun di sekitarnya agar tidak jatuh. Cekatan menjadi kata yang tepat menggambarkan aktivitas Anto tersebut.
Dirasa cukup, Anto kembali menyeberang sungai dan akhirnya duduk di kursi yang telah disiapkan pengelola Pasar Kebon Empring untuk pengunjung di tepian sungai. Ia sesekali melihat pengunjung yang datang bermain air di sungai, tapi matanya juga tak lepas memandang hasil jerih payahnya menanam tanaman di tepi sungai.
"Tujuan agar tidak terlihat gersang. Lagi pula akar tanaman ini bisa menahan tanah agar tidak cepat longsor, kalau kering gitu kena banjir mudah sekali longsor," kata Anto.
Ditanya lebih jauh, Anto ternyata merupakan seorang wirausahawan yang bergelut di bidang percetakan baju. Kendati demikian, kecintaannya terhadap tanaman sudah terpupuk sejak lama.
Baca Juga: Bermula dari Lahan Kosong, Warga Sungapan Buat Kali Oya Jadi Objek Wisata
Rasa cinta Anto terhadap tanaman terbukti dari banyaknya tanaman yang dibudidayakan di rumahnya. Bertepat di Teraman RT 03, Srimartani, Piyungan, ada beberapa jenis tanaman yang ia telah budidayakan untuk ditanam atau diberikan cuma-cuma kepada masyarakat yang membutuhkan.
Mulai dari tabebuta kuning, ikuwanyu, hingga pohon koptri merupakan tanaman yang Anto miliki dan budidayakan di rumahnya. Beberapa tanaman itu pula yang akhirnya juga Anto bawa ke Pasar Kebon Empring untuk disemai di bantaran Kali Gawe.
Memang kalau dilihat dan dirasakan secara sekilas, area Pasar Kebon Empring terbilang cukup rindang. Pohon bambu senantiasa melindungi sebagian area dari terik matahari.
Namun menurut pria 42 tahun ini, bantaran kali justru tak diperhatikan dengan baik. Padahal menurutnya, bagian itu akan menjadi lebih sejuk dan indah jika ditumbuhi pohon atau tanaman hijau.
"Sebenarnya sudah lama senang nanem. Sekitar 3-4 tahun ke belakang inilah. Biasanya untuk area yang tak biasa diperhatikan orang. Lagian saya juga cukup sering main ke destinasi wisata di daerah Piyungan. Kalau pas lihat ada spot yang kurang hijau pasti besoknya akan saya bawakan tanaman dari rumah untuk nanem di situ," tuturnya.
Anto menjelaskan, tidak ada intervensi dari pihak mana pun untuk menanam tanaman di objek wisata yang terlihat gersang tersebut. Gerakan menanam itu adalah inisiatifnya sendiri.
Bermula saat ia lulus dari bangku SMA, kata Anto, saat itu dirinya kebetulan mengunjungi lokasi bantaran kali yang terkena banjir. Dari situlah, hatinya mulai tergerak untuk merawat lingkungan khususnya bantaran kali.
"Kalau nanem biasanya di Setren Opak, Taman Bronjong Srimartani, Pasar Kebon Empring. Kadang sendiri kadang juga ngajak temen kalau ada yang selo tapi kebanyakan sendiri. Ibu-ibu yang minta bibit juga kadang saya kasih gratis, intinya biar nanem apa aja," ungkapnya.
Anto mengaku mendapat respons positif dari istri dan anaknya atas kegigihannya melakukan penghijauan tersebut. Biaya sendiri bukan menjadi pematah semangat Anto untuk terus menghijaukan Bumi Projotamansari.
Harapannya sederhana -- munculnya tangan-tangan lain yang mau tergerak menanam tumbuhan, apapun jenisnya di lingkungannya. Menutut Anto, bumi masih menjadi tempat yang layak untuk terus dirawat. Berawal dari langkah kecil akan memberikan dampak yang luar biasa bagi lingkungan.
"Tidak perlu mempertimbangkan kapan tanaman itu akan berbuah, tanam saja dulu. Hijaukan dulu bumi ini. Kita rawat lingkungan bersama-sama. Harapannya dari awal kecil-kecilan ngasih secara gratis dan cuma-cuma itu ya semua orang jadi bisa cinta dan suka tanaman terus melakukan penghijauan di bumi ini," tandasnya.
Berita Terkait
-
Bermula dari Lahan Kosong, Warga Sungapan Buat Kali Oya Jadi Objek Wisata
-
Berkah di Balik Musibah, Wisata Alam Pasar Kebon Empring Berdayakan Warga
-
Keren! Kafe Ini Menggunakan Barang Bekas untuk Dekorasi
-
Hari Pariwisata Sedunia, Bantul Gelar Sendratari di Alam Terbuka
-
Banyak Eceng Gondok, Tepi Sungai di Kalinampu Jadi Objek Wisata ala Jepang
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
6 Fakta Insiden Penganiayaan di Jalan Godean Sleman yang Viral di Media Sosial
-
10 Persen Jalan di DIY Rusak Parah Jelang Lebaran, Polisi Ungkap Titik Paling Berbahaya!
-
Jadwal Imsakiyah di Jogja pada 27 Februari 2026, Lengkap dengan Waktu Salat
-
BRI Raup Laba Rp57,132 Triliun, Perkuat Peran Dukung Program Prioritas Pemerintah
-
DIY Darurat Kekerasan Seksual di Sekolah: DPRD Usul Perda Komprehensif, Lindungi Siswa dan Guru!