Hal tersebut dapat disebabkan oleh wisatawan yang masih dalam perjalanan. Sehingga baru dapat tiba di lokasi pada hari ke tiga atau seterusnya.
Selain protokol kesehatan yang terus digencarkan oleh Dispar Bantul kepada seluruh pihak di objek wisata. Pihaknya juga telah mengantisipasi dampak perubahan cuaca dan La Nina yang bakal terjadi.
"Kita sudah keluarkan surat edaran (SE) kepada semua pengelola wisata dan usaha jasa pariwisata (UJP) di Bantul. Intinya selain penerapan protokol kesehatan juga meminta pengelola untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana tanah longsor, genangan air, dan luapan sungai di lokasi objek wisata mengingat curah hujan mulai meningkat," tuturnya.
Ditambahkan Kwintarto, sejauh ini atau hampir 4-5 bulan beroperasi belum ada kasus terkait dengan penyebaran Covid-19 di objek wisata. Melihat hal tersebut pihaknya menyatakan siap menyambut tamu yang akan datang ke Bantul.
Baca Juga: Wali Kota Jogja Bakal Sanksi Pelaku Usaha yang Nakal ke Wisatawan
"Mudah-mudahan terlepas dari kuantitas atau banyaknya wisatawan yang ada bukan menjadi penyebaran penyakit. Kita selalu pesankan untuk wisatawan juga mengukur diri dan selalu terapkan protokol kesehatan," tegasnya.
Senada Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo, yang ditemui beberapa waktu lalu, mengatakan pentingnya untuk terus melakukan penerapan protokol kesehatan secara konsisten. Tidak memaksakan diri untuk pergi juga bisa menjadi langkah bijak bagi setiap wisatawan.
Singgih menegaskan pentingnya wisatawan untuk tidak langsung datang ke objek wisata tertentu melainkan melakukan reservasi terlebih dahulu secara online melalui aplikasi Visiting Jogja. Hal itu bertujuan selain untuk mengurangi antrian juga dapat digunakan dalam memudahkan tracing jika ada penularan Covid-19 dari tempat-tempat wisata.
"Pendaatan wisatawan ini menjadi penting untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat selama ini kami masih melihat hanya 40-45 persen saja data yang masuk dalam Visiting Jogja," tegas Singgih.
Singgih juga mengimbau jika memang dibutuhkan tenaga tambahan di beberapa objek wisata dapat langsung dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait. Intinya tidak boleh ada tawaran menawar dalam mengimplementasikan protokol kesehatan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Cinta Lingkungan, Anto Ilyas Terus Hijaukan Bumi Projotamansari
Berita Terkait
-
Kemenpar Sambut Baik Wisatawan Korut yang Makin Banyak ke Indonesia: Kita Welcome
-
10 Pantai Eksotis di Jogja yang Wajib Masuk List Liburan Lebaran 2025
-
Plengkung Gading Ditutup, Ini 7 Kuliner Tersembunyi yang Jadi Incaran Wisatawan Jogja
-
10 Kuliner di Malang yang Wajib Dicoba Saat Buka Puasa
-
Enggak Perlu Mikir Budget, Ini 7 Wisata Puncak Bogor untuk Libur Ramadan, Ada yang Gratis
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
Kilas DIY: Bocah Jabar Nekat Curi Motor di Bantul hingga Penemuan Mayat di Sungai Progo
-
Jalur Selatan Alami Lonjakan, Polres Kulon Progo Lakukan Buka Tutup Jalur Utama
-
Okupansi Hotel Anjlok 20 Persen di Momen Lebaran, Permintaan Relaksasi PHRI Tak Digubris Pemerintah
-
Gembira Loka Zoo Hadirkan Zona Cakar, Pengalaman Baru untuk Pengunjung Berjalan Bersama Satwa Buas
-
Mudik ke Jogja? BPBD Ingatkan Potensi Bencana Alam: Pantai Selatan Paling Rawan