SuaraJogja.id - Presiden Joko Widodo akan memberikan penghargaan Bintang Mahaputra kepada Gatot Nurmayanto. Namun, Rocky Gerung menilai dilema yang dihadapi masyarakat Indonesia dalam pemberian penghargaan tersebut adalah bentuk dilema moral. Sebab, Gatot datang dengan proposal politik yang cukup tinggi, yaitu politik moral.
Rocky menilai mantan Panglima TNI itu mencoba membuat jarak dengan kekuasaan. Supaya ada evaluasi yang rasional terhadap praktek kekuasaan. Hal itu menimbulkan adanya tuduhan dari istana bahwa KAMI adalah sponsor dari aksi ricuh yang terjadi saat demo buruh menolak Omnibus Law.
"Dilemanya kalau Gatot menerima itu, yang sana dapat bintang yang tiga itu dapat borgol," ujar Rocky.
Ia menyebutkan jika dilema moral tidak akan terjadi jika KAMI tidak disebut sebagai perusak demokrasi. Hinaan terhadap KAMI selama satu bulan terakhir gencar disampaikan masyarakat. Sehingga Rocky menilai jika istana seolah memiliki rasa bersalah telah menuduh KAMI sebagai biang kerok atas kekacauan politik.
Penghargaan itu, adalah simbol dari negara untuk menghargai prestasi seseorang. Rocky menilai, negara mengakui bahwa Gatot Nurmantyo ataupun KAMI bukanlah seorang perusuh. Jadi aneh, jika Gatot dapat penghargaan sementara aktivis KAMI lainnya justru mendapatkan hukuman penjara.
Menurutnya, perlu dilakukan pembebasan terhadap tiga orang aktivis lainnnya bersamaan dengan pemberian penghargaan untuk Gatot. Dengan begitu, masyarakat bisa menilai bahwa pemerintah adil dalam memberikan Bintang Mahaputra untuk Jenderal TNI tersebut. Jika tidak, masyarakat bisa beranggapan pemerintah ingin memecah belah KAMI.
"Orang akan menganggap istana ingin memecah belah KAMI, ada yang diborgol ada yang dapat medali, itu sebabnya tuh," imbuh Rocky.
Istana atau pihak pemerintah dinilai lihai dalam memecah belahkan suatu kelompok. Seperti yang sudah dilakukan berulang kali, mulai dari partai politik hingga organisasi masyarakat. Rocky sendiri mengaku dapat banyak pesan agar KAMI berhati-hati dengan pemberian penghargaan tersebut.
Niat baik istana untuk memberikan penghargaan perlu diikuti niat baiknya dengan membebaskan aktivis lainnya. Kejahatan tersembunyi yang dilakukan pemerintah bisa saja berlanjut dengan niatan untuk membajak Gatot dari kelompoknya sendiri.
Baca Juga: Wadah Seniman Muda, Artotel Yogyakarta Apresiasi Jogja Art Week 2020
Permainan politik harus dilayani secara politis. Melalui kegiatan ini, Rocky mengatakan jika komunikasi politik dari pemerintah terbaca dengan jelas oleh publik. Bagi LSM pemberian penghargaan kepada Gatot tidak menimbulkan kecurigaan. Namun, hal sebaliknya terjadi dalam pemberian penghargaan untuk Ketua MK.
"Jika Gatot menerima soal ini, sebenarnya moralnya akan terganggu. Tetapi Gatot juga bisa berfikir ini sebenarnya umpan politik, disitulah keburukan dari istana," ujar Rocky.
Pemerintah langsung memberikan bingkai bahwa Gatot akan mendapatkan Bintang Mahaputra justru saat situasi politik sedang tinggi-tingginya. Menurutnya, pemberian penghargaan bisa saja ditunda tahun berikutnya saat situasi sudah lebih kondusif.
Lihat percakapan Rocky dan Hersubeno DISINI
Jika Gatot akan menerima pemberian penghargaan tersebut, Rocky meyakini jika Jenderal TNI itu pasti akan melakukan dua kali konferensi pers. Yakni saat di istana negara dan kedua setelah pulang dari tempat tersebut. Ia menganggap hal yang terjadi antara pemerintah dengan KAMI sebagai perlombaan opini publik.
Selanjutnya Rocky menerangkan bahwa KAMI adalah sebuah organisasi tanpa bentuk, namun mereka menjadi bentuk yang kuat bahkan solid ketika isu moral diajukan. Penguatan itu yang dinilai membuat pemerintah ketakutan. Dengan pemberian Bintang Mahaputra justru membuat Gatot sah melakukan deklarasi KAMI.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
8 Orang Diperiksa dalam Kasus Dugaan Malapraktik, Dua Dokter RSUD Prambanan Dimintai Keterangan
-
Shafiyah Journey & Expo 2026 Bakal Hadir di Jogja: Jadi Ruang Terpadu Gaya Hidup Islami
-
Persulit Usulan Gelar Pahlawan HB II, Trah Sultan Gugat UU Gelar dan Tanda Jasa ke MK
-
Kenaikan Harga Pertamax Picu Efek Domino, Akademisi Desak Pemerintah Evaluasi Subsidi BBM
-
Baru 58 SPPG di Sleman Kantongi SLHS, 35 Dapur MBG Berhenti Sementara