Di saat itulah, Sekar mulai mengenal tari klasik, tari nusantara, hingga tari kreasi. Tidak hanya itu saja, teks klasik seperti Ramayana dan Mahabarata pun dipelajarinya sedikit demi sedikit. Baru setelah itu, Sekar makin memperdalam ilmunya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta hingga akhirnya lulus pada 2012 silam.
Perjalanan Sekar sejak kecil berkecimpung di dunia tari nyatanya memberi manfaat pada pementasan dan perkembangan dirinya dalam seni tari. Pelajaran dan pengalamannya menjajal berbagai macam jenis tari sekarang dapat dilebur, sehingga menciptakan sesuatu yang dianggap sebagai ciri khas Sekar sendiri.
"Dari balet misalnya, jadi di setiap karya-karyaku ada tubuh baletku. Maksudnya, itu kan bekalku dari kecil. Kalau orang lain mungkin dasarnya klasik atau kreasi. Justru kedua tarian itu membuatku merasa punya karakter atau ciri khas tertentu yang membuat orang lain juga "wah itu Sekar banget," dulu memang dalam karya ketubuhanku ada gerakan balet juga," tuturnya.
Namun saat ini, Sekar mengaku, karya-karyanya lebih kembali kepada tradisi lagi walaupun memang penyerapan beberapa motif tidak jauh-jauh dari unsur balet dan ebih dijadikan sebagai sebuah kolaborasi dalam beberapa karya.
Menurutnya, penggabungan ini tidak mendapat pertentangan dari dunia seni tari sendiri. Justu ini dianggap sebagai sebuah kebaharuan, yang pasti akan terus bermunculan di dunia seni tari.
"Jadi dosen atau praktisi seni tidak mempermasalahkan itu. Mungkin malah bisa disebut tari kontemporer dan semacamnya, sehingga bukan kritikan pedas, tapi lebih kepada kritik yang membangun," ungkapnya.
Disinggung kembali tentang profesinya sebagai penari, Sekar sejauh ini tidak menganggapnya sebagai sebuah pertentangan, melainkan menjadi suatu pemilihan yang dilakukan oleh seorang seniman, dalam hal ini penari.
Lebih lanjut Sekar menjelaskan bahwa ada pasar yang menginginkan sebuah pertunjukan tari tertentu. Di situ, sudah seharusnya penari tidak boleh lantas memberikan semata-mata ide idealisnya dalam pertunjukan itu. Artinya, lanjut Sekar, memang kembali lagi, harus bisa memilih dan memilah.
Sekar mengatakan, kalau memang sebuah pertunjukan itu ditujukan untuk hiburan, maka melihat pasar perlu dilakukan, begitu juga melihat siapa yang membutuhkan jenis pertunjukan atau tarian tertentu. Ada komunikasi yang terjalin dua pihak di situ.
Baca Juga: Hormati Korban Covid-19, Seniman AS Buat Instalasi Seni
"Cuma memang di satu sisi, aku juga punya ruang karyaku sendiri. Sebuah karya yang memang adalah bentuk ungkapanku pribadi. Bisa dibilang karya yang idealis, tapi bukan juga idealis yang terlalu kaku, tapi ideal dalam arti, karya ini bisa dijual, tapi juga bisa tidak dijual," terangnya.
Ditanya mengenai karya yang paling mengesankan selama ini, Sekar menyebut pementasan 'Jampi Gugat' oleh 100 perempuan penari berambut panjang di Tugu Pal Putih sekitar 2012 silam itu salah satunya. Karya itu, kata Sekar, makin membuka matanya untuk memberanikan diri membuat sanggar tari.
Langkah besar perempuan yang pernah tergabung dalam Tembi Dance Company itu akhirnya dapat diwujudkan pada 2015. Ketika itu Sanggar Seni Kinanti Sekar tepat berdiri.
“Sesuatu yang berat ketika kita mengembangkan seni itu justru menjadi tantangan. Kalau tidak ada tantangan kita hanya akan stuck, keenakan begitu saja. Di sekitar sanggar saya ini, ada banyak sanggar lain yang berdiri. Jadi memang untuk bertahan, kita harus punya karakter. Harus ada yang bisa dijual dan beda dengan sanggar lain,” tegasnya.
Keberadaan sanggar ini tidak ditampik melahirkan kepuasan tersendiri bagi diri Sekar. Pasalnya, kini Sekar dapat menularkan kecintaannya dengan dunia tari kepada murid-murid bimbingannya.
"Nantinya kalau mereka [muridnya] bisa mengajarkan lagi ke orang lain, itu poin tersendiri buat saya. Saat diberi kabar mereka mau pentas pun sudah jadi kebahagiaan tersendiri untukku," imbuhnya.
Berita Terkait
-
Hormati Korban Covid-19, Seniman AS Buat Instalasi Seni
-
Mengunjungi Pameran Seni PULIH di Pasar Seni Ancol
-
Ini Dia Salah Satu Karya favorit FX Harsono di Pameran Asana Bina Seni 2020
-
Perupa Senior FX Harsono Turut Hadir dalam Pameran Asana Bina Seni 2020
-
'Barut Neraka' Karya Laviaminora Soroti Isu Ini di Pameran Asana Bina Seni
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Pameran PASSAGE: Jembatan Seniman Yogyakarta Menuju Panggung Prancis
-
Ketika SD Negeri di Jogja Kekurangan Murid, Guru Patungan demi Tetap Bisa Bermimpi
-
Haedar Nashir: Tak Ada Kompromi bagi Pelaku Pelecehan Seksual di Kampus Muhammadiyah
-
Skandal Korupsi Beruntun, Muhammadiyah Desak Presiden Pimpin Perang Total, Tak Sekedar Ceramah
-
Diduga Jadi Korban Mafia Tanah, Warga Sleman Kaget Sertifikat Beralih Nama dan Jadi Agunan Bank