SuaraJogja.id - Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) terus memperketat penjagaan terhadap jalur pendakian ke Gunung Merapi. Hal ini menyusul status gunung yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini masih berada pada Siaga level III.
Kepala Balai TNGM Pujiati, mengatakan pengawasan jalur pendakian Gunung Merapi melibatkan aparat dari Polsek dan Koramil setempat. Dibantu juga oleh anggota tim SAR dan masyarakat yang akan membantu menjaga pengunjung untuk naik lebih jauh.
"Piket pengamanan terkait pendakian selalu kami laksanakan sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Pengawasan pengamanan jalur pendakian itu dilakukan di jalur Selo, Boyolali ataupun Sapuangin, Klaten," kata Pujiati, saat dikonfirmasi awak media, Jumat (1/1/2021).
Pujiati menyatakan bahwa memang jalur pendakian ke Gunung Merapi masih ditutup. Bahkan penutupan itu sudah berlangsung sejak Merapi berstatus Waspada pada Mei 2018 silam.
Menurutnya langkah kebijakan ini perlu diambil guna mengantisipasi kejadian yang tidak dapat diprediksi kaitannya dengan aktivitas Gunung Merapi. Sebab aktivitas yang masih tergolong cukup tinggi dikhawatirkan tetap membahayakan nyawa masyarakat yang nekat naik ke atas.
Perlu diketahui bahwa penutupan jalur pendakian ke Gunung Merapi telah ditegaskan kembali melalui pengumuman resmi. Serta ditandatangani langsung oleh Kapala Balai TNGM yakni setelah peningkatan status Merapi dari Wasapada level II menjadi ke Siaga level III pada 5 November 2020 kemarin.
"Sosialisasi tentang penutupan pendakian sudah kami sampaikan terus. Baik lewat medsos atau pengumuman yang terpasang di sekitar lokasi titik awal pendakian," ucapnya .
Pihaknya selalu mengimbau dan mengingatkan masyarakat agar patuh dan menaati aturan yang telah diberikan demi kebaikan bersama. Menurutnya jika memang kedapatanan ada yang nekat mendaki kegiatan tersebut dinyatakan ilegal.
Ditambahkan Pujiati, tidak hanya jalur pendakian yang mengalami penutupan untuk sementara disebabkan oleh aktivitas Merapi tersebut. Di dalam surat juga ditertuang bahwa seluruh objek wisata alam di kawasan TNGM yakni meliputi Tlogo Muncar, Plunyon, Tlogo Nirmolo, Kalikuning di Sleman, Jurang Jero di Magelang hingga Deles Indah di Klaten juga turut ditutup.
Baca Juga: Kemarin Gunung Merapi Alami 24 Kali Gempa Guguran
Sementara itu Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menyebut bahwa masa krisis Gunung Merapi kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa faktor yang membuat puncak Merapi erupsi atau masa kritis ini berlangsung lebih lama.
Salah satu kemungkinan yang terjadi, kata Hanik, yakni terkait dengan material yang menyumbat aliran magma. Belum lagi ditambah suplai dan kandungan gas yang relatif lebih kecil juga untuk mendorong magma di dalam perut Merapi menuju ke permukaan.
"Selama ini pergerakan yang terjadi hanya dipengaruhi oleh kantong magma dangkal," ujar Hanik.
Dipaparkan Hanik, pada letusan tahun 2006 status Siaga yang diberikan kepada Merapi berlangsung selama satu bulan terhitung sejak 12 April. Baru pada tanggal 13 April 2006 status Merapi naik menjadi Awas dan bertahan selama dua bulan lamanya.
Berbeda juga dengan erupsi tahun 2010 lalu yang status Siaga hanya berlangsung selama lima hari saja. Status Awas yang disandang Merapi saat itu dimulai pada 25 Oktober dan masih berlangsung selama satu bulan. Kemudian akhirnya diturunkan menjadi Siaga kembali pada 3 Desember 2020.
Namun sejak peningkatan status Merapi terhitung pada tanggal 5 November 2020 lalu sampai sekarang magma belum terlihat muncul di permukaan.
Berita Terkait
-
Kemungkinan Erupsi Eksplosif Gunung Merapi Menguat
-
Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Kemungkinan Erupsi Eksplosif Menguat
-
Meningkat, Kegempaan Gunung Merapi Lebih Tinggi dari Pekan Sebelumnya
-
Selama Sehari Gunung Merapi Alami 42 Kali Gempa Guguran
-
Kisah Musimin, yang Menjaga Habitat Anggrek di Gunung Merapi
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
Terkini
-
UPN Jogja Sebut Belum Ada Tawaran Resmi Kelola MBG, Pilih Fokus Ketahanan Energi
-
Revisi UU Pemilu Tertahan di Legislatif, Akademisi Sebut Sekadar Tambal Sulam
-
Anggaran BOSDa DIY 2026 Dipangkas Rp9 Miliar, Sekolah Kecil Terancam Tak Mampu Beroperasi
-
Diduga Kelelahan dan Serangan Jantung, Satu Jamaah Haji Asal Kulon Progo Wafat di Mekkah
-
Hari Ini, BRI Bayar Dividen Para Investor