SuaraJogja.id - Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Yogyakarta Krisnadi Setyawan melalui akun Twitter pribadinya, @krisna17revolt, menyoroti perbedaan data pasien Covid-19 di DIY. Ia menyinggung mengenai adanya data yang dirahasiakan oleh pemerintah pusat dan daerah. Salah satunya yang dilakukan DIY, terdapat perbedaan angka kematian yang dilaporkan ke pusat dan disampaikan ke publik.
"GEMAH RIPAH LOH GUE, NRIMO ING PANDEMI: Pengelolaan data laporan harian #COVID19 yang dirahasiakan oleh pemerintah pusat dan daerah. DIY misalnya, di situs resmi provinsi, per 31 Desember mereka bilangnya cuma ada 260 kematian. Tapi lapor ke Kemenkes ternyata ada 1973 kematian," tulis Krisnadi dalam cuitannya.
Mengutip peribahasa bahasa Jawa yang seharusnya berarti "tentram dan makmur serta sangat subur tanahnya", ia menjadikannya sebagai satire untuk mengkritik perilaku yang mementingkan diri sendiri dan pasrah terhadap kondisi pandemi.
Krisnadi menyebutkan, ada data yang seolah disembunyikan oleh pemerintah daerah dan beda angka kematian yang disampaikan kepada publik.
Dalam cuitannya, Krisnadi ikut mengunggah cuplikan video yang diolah tim Narasi TV. Video tersebut mengungkap perbedaan data kematian yang ditampilkan pemerintah DIY.
Pada situs resmi Pemerintah Provinsi DIY, angka kematian akibat Covid-19 per tanggal 31 Desember sebanyak 260 orang, sedangkan menurut sistem pelaporan harian Covid-19 yang dimiliki Kemenkes, pada tanggal yang sama tercatat ada 1.973.
Ada peningkatan tujuh kali lipat data kematian yang disampaikan ke publik dengan data yang dilaporkan ke Kementerian Kesehatan.
Selama hampir satu tahun pandemi melanda Indonesia, tim Narasi TV melihat bahwa perbedaan data menjadi salah satu masalah yang tak kunjung usai. Dari data Sistem Laporan Harian (Silaphar) yang bocor dan bisa diakses oleh publik, tim Narasi melihat hal yang menarik mengenai angka kematian yang dilaporkan.
Pada hari pergantian menteri kesehatan, dari Terawan ke Budi Gunadi Sadikin, data pasien Covid-19 yang meninggal mencapai angka 20.408 orang. Angka tersebut jauh dari data yang dilaporkan Silpahar, yang mencapai angka 26.297.
Baca Juga: Kalina Oktarani Sakit Pneumonia, Mirip Infeksi Covid-19?
Artinya, ada 5.889 angka kematian yang dilaporkan dari daerah ke pusat, tetapi angka tersebut tidak dicantumkan dalam laporan yang disampaikan ke publik.
"Selain angka kematian positif, Kemenkes ternyata juga punya angka kematian probable," terang narasi dalam video Narasi TV yang diunggah pada Kamis (7/1/2021).
Kematian probable adalah di saat pasien memiliki gejala Covid-19 sudah meninggal sebelum mendapatkan hasil swab. Di Indonesia, angka kematian probable juga disebut cukup tinggi. Dari tanggal 23 Desember, tercatat ada 7.490 orang yang dinyatakan meninggal dengan gejala Covid-19, tetapi belum diketahui hasilnya.
Menurut rekomendasi WHO sendiri, angka kematian probable seharusnya dimasukkan dalam angka kematian akibat Covid-19.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sendiri, saat dikonfirmasi Narasi TV, tidak menyanggah adanya data tersebut. Meski belum mengetahui pasti mana data yang benar, tetapi ia menilai temuan tersebut sebagai hal yang menarik. Sebab, data tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil kebijakan.
Mengaku harus membereskan data-data tersebut, Budi menyampaikan bahwa ia harus berhati-hati dalam mengolah data tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
Terkini
-
Sultan Jogja Heran Sadisnya Ibu-ibu Pengasuh Daycare Little Aresha, Perintahkan Tutup Daycare Ilegal
-
Ikatan Darah Siap Guncang Bioskop, Film Aksi-Drama yang Sarat Emosi dan Pesan Keluarga
-
Darurat Daycare di Jogja, Gus Yusuf Dorong Pesantren dan Masjid Jadi Solusi Pengasuhan Alternatif
-
BRI Gelar Undian Debit FC Barcelona, Nasabah Berkesempatan Rasakan Pengalaman Nonton di Camp Nou
-
Guru Besar UI Soroti Langkah Hakim yang Hitung Sendiri Kerugian Korupsi Mantan Bupati Sleman