SuaraJogja.id - Aktivitas erupsi efusif Gunung Merapi, yang masih terus terjadi sejak 4 Januari 2021 lalu, ternyata menarik perhatian banyak orang. Bukan menjauh, malah banyak orang yang penasaran ingin melihat lebih dekat secara langsung fenomena yang terjadi di Gunung Merapi, mulai dari luncuran lava pijar hingga awan panas guguran.
Seorang relawan sekaligus warga asli Pelemsari, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Eko Susilo (36), mengaku, sejak fenomena lava pijar muncul kembali ke permukaan Merapi, masyarakat yang penasaran ingin melihat makin banyak.
Tak hanya untuk melihat secara langsung, mereka juga ingin mengabadikan momen-momen keluarnya magma dari perut Gunung Merapi.
"Walah Mas, di sini [Basecamp Jeep 86] kalau enggak dijaga, ya banyak yang bablas. Padahal tulisan sudah berlapis-lapis dari bawah sampai atas," ujar Eko saat ditemui awak media di Basecamp Jeep 86, Ngrangkah, Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Senin (25/1/2021)
Eko menjelaskan, momen keluarnya lava dari gunung api yang berada di perbatasan DIY dan Jawa Tengah itu tidak bisa ditentukan, sehingga hal itu memaksa setiap orang yang ingin melihat secara langsung harus menunggu dengan lebih sabar.
Belum lagi, cuaca di puncak atau sekitar Gunung Merapi harus cerah. Sebab jika tidak, luncuran lava pijar itu tidak akan bisa terlihat dengan mata telanjang atau bahkan diabadikan dengan ponsel.
"Kalau momen lava pijar turun itu ya memang tidak bisa dipastikan, tapi yang jelas, malam itu biasanya sering muncul. Kalau tertutup kabut, tidak bisa terlihat jelas kecuali jika menggunakan alat yang canggih," ucapnya.
Ditanya mengengai potensi wisata baru bagi masyarakat yang penasaran dan ingin melihat fenomena lava pijar secara langsung, kata Eko, pihaknya masih mempertimbangkan. Pasalnya, ada beberapa persoalan yang masih perlu diperhatikan lebih lanjut terkait potensi wisata masyarakat tersebut.
Pertama, terkait status Gunung Merapi, yang saat ini berada pada tingkat Siaga atau Level III. Jika sesuai dengan rekomendasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), maka untuk sementara, pelaku wisata diminta tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi.
Baca Juga: Dalam 6 Jam, Gunung Merapi Luncurkan Lava Pijar Sebanyak 29 Kali
Salah satunya tidak boleh melakukan kegiatan pendakian ke puncak di tengah kondisi Merapi yang belum stabil. Sementara itu, jarak antara Basecamp Jeep 86 tersebut dengan puncak Merapi hanya sejauh 5,5 kilometer.
"Kalau di sini dari puncak sekitar 5,5 kilometer. Biasanya di sini saja banyak yang datang kalau malam. Untuk naik lebih jauh tidak diperbolehkan," tuturnya.
Selain dari rekomendasi BPPTKG, kata Eko, pertimbangan lain berkaitan dengan pandemi Covid-19, yang masih berlangsung.
Selain itu, kebijakan Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) juga diperpanjang masa berlakunya hingga 8 Februari 2021 mendatang.
"Masih pandemi juga to Mas, jadi memang masih perlu banyak pertimbangan kalau mau menjadikan fenomena guguran lava pijar ini sebagai daya tarik wisata baru," terangnya.
Menurutnya, jika memang wisata dengan daya tarik lava pijar itu akan dibuka, maka diperlukan persiapan segala macam standar operasional prosedur hingga sarana prasaran yang ada, terlebih yang ada kaitannya dengan protokol kesehatan.
Berita Terkait
-
Dalam 6 Jam, Gunung Merapi Luncurkan Lava Pijar Sebanyak 29 Kali
-
Ustaz Yahya Waloni Disorot karena Ogah Pakai Masker dan 4 Berita SuaraJogja
-
Jalur Evakuasi Gunung Merapi di Dua Dusun Belum Diperbaiki, Ini Penyebabnya
-
Kelompok Rentan di Glagaharjo Masih Bertahan, Rencana Pulang 26 Januari
-
Hari Ini, Gunung Merapi Sudah Keluarkan 17 Kali Guguran Lava Pijar
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Tanah Adat Dirampas, Konflik dengan Negara Kian Memanas, RUU Masyarakat Adat Mendesak Disahkan
-
Dua Dekade Gempa Jogja, Ancaman Megathrust dan Pentingnya Klaster Bencana
-
Dampak Konflik Geopolitik: Shamsi Ali Ungkap Bahaya Retorika Trump bagi Komunitas Muslim di Amerika
-
Leo Pictures Gelar Gala Premiere Terbesar: 'Jangan Buang Ibu' Bakal Sentuh Hati Penonton Indonesia
-
Rupiah Melemah, Purbaya Yakin Ekonomi Indonesia Tetap Kuat, Kurs Kembali ke Rp15 Ribu