SuaraJogja.id - Kata Buzzer kian hari menjadi lebih banyak dibicarakan oleh warganet. Terutama menyangkut pada isu-isu politik yang selalu ramai diperbincangkan di media sosial. Beberapa tokoh yang rutin menyampaikan kritik atau pandangan di media sosial juga beberapa kali menyinggung mengenai keberadaan pasukan digital ini. Bahkan ada juga yang terganggu dengan keberadaannya.
Sementara itu, baru-baru ini Presiden Joko Widodo justru meminta masyarakat untuk lebih aktif menyampaikan kritik. Menanggapi permintann orang nomor satu di Indonesia tersebut, Sudjiwo Tedjo meminta agar presiden bisa menertibkan para Buzzer terlebih dahulu. Sehingga penyampaian kritik bisa berjalan tanpa serangan dari pasukan digital itu.
Selain itu, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti juga pernah mengucapkan permintaan yang tak jauh berbeda. Melalui cuitan di akun @susipudjiastuti, pemilik perusahaan Susi Air ini meminta tolong kepada Jokowi untuk menghentikan semua ujaran kebencian yang ada di Indonesia.
Namun, permintaan dua orang tokoh tersebut justru disemprot oleh mantan politisi partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean. Dalam cuitannya di akun @FerdinandHaean3, ia mengatakan apakah dua hal tersebut dilakukan atas perintah Jokowi sehingga harus Jokowi jugalah yang menghentikannya.
"Dua orang, S Tedjo dan Susi P meminta hal sama kepada Presiden dengan bahasa yang beda. Tedjo minta @jokowi
tertibkan buzzer, Susi minta hentikan hate speech. Saya bertanya, apa mereka ini berpikir semua itu dilakukan orang karena perintah JKW hingga minta JKW hentikan? Tidak ada kaitan dengan JKW," tulis Ferdinand.
Ia menyampaikan jika dua hal yang diminta oleh Susi dan Sudjiwo tersebut tidak ada kaitannya dengan Presiden Jokowidodo. Sehingga untuk apa meminta presiden untuk melakukan hal yang bukan ia lakukan. Meski berbeda bahasa, namun apa yang disampaikan oleh Susi dan Sudjiwo adalah hal yang sama bagi Ferdinand.
Sejak diunggah Kamis (10/2/2021), cuitan Ferdinand mengenai permintaan Sudjiwo dan Susi tersebut sudah disukai lebih dari seribu pengguna Twitter. Selain itu, ada 200 lebih yang ikut membagikan ulang. Tidak sedikit juga komentar yang ditinggalkan oleh warganet.
"Justru selama Pak Jokowi memimpin setiap hari beliau diserang buzzer dan hate speech tapi satu kata balasanpun tidak pernah dilontarkannya," tulis akun @wuisang*****.
"Jangan lupa bang, apapun masalahnya Pokoknya Jokowi salah. titik. Dan Ilmu Pokoknya itu yang di pake para pembenci Jkw dan kaum Mantan-mantan untuk menyerang Jkw. Mereka bangga kalo menyalahkan Jkw. Otaknya diformalin makanya sakit hatinya awet," komentar akun @iy******.
Baca Juga: Ferdinand Ngamuk ke Aisha Weddings: Emang Anak Perempuan Hanya untuk Seks?
"Yang parah lagi kalo dalang sudah gak laku dan tentunya gak ada masukan lagi apa pak jkw harus mempromosikan agar laku lagi? Parah bener-bener parah. Ya ini akibatnya wayang tapi ngaku dalang!," tanggapan akun @lumba****.
Sementara akun @Kamarwan***** mengatakan, "Inilah yang dinamakan kekuatan medsos, S tedjo dan susi P, merasa diserang, kami berdiri sendiri, logika akal kami jalan, kami manusia seperti anda, kami tahu apa yang menurut kami baik dan tidak, jejak digital tidak bisa di bohongi, itu yang membuat kami yakin."
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Diseret ke Isu Lain, Kuasa Hukum Sri Purnomo: Tanpa Bukti di Sidang, Itu Bukan Fakta Hukum
-
Polresta Sleman Selidiki Teror Order Fiktif Ambulans dan Damkar, Nomor Pelaku Terdeteksi di Sumut
-
Ada Bahasa Isyarat di Balik Harumnya Tembakau, Kisah Perjuangan Difabel Menembus Dinding Stigma
-
Libur Lebaran Maju ke Maret, Kunjungan Wisatawan Sleman Triwulan I 2026 Melonjak
-
Bukan Romantisme Modern, Ciuman Ternyata Warisan Evolusi 21 Juta Tahun yang Dilakukan Nenek Moyang