- Konflik global Iran-AS menyebabkan pembatalan penerbangan yang menghambat IKM kerajinan dan mebel Yogyakarta menembus pasar internasional.
- Pelaku usaha di JIFFINA 2026 mengeluhkan buyer Eropa dan Amerika batal datang, sementara beberapa buyer yang sudah tiba kesulitan pulang.
- Penurunan pesanan produk kerajinan mencapai 60-70 persen karena terhambatnya transportasi yang menekan kelangsungan hidup pelaku IKM lokal.
SuaraJogja.id - Yogyakarta, kota yang terkenal dengan denyut nadi kreatifitasnya, kini merasakan dampak pahit dari konflik global yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat.
Bukan hanya di meja perundingan diplomatik, tapi di setiap sudut bengkel dan galeri kerajinan, para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) serta pengusaha mebel dan kerajinan lokal kini harus "gigit jari".
Mimpi untuk menembus pasar internasional terpaksa tertunda, bahkan terancam pupus, akibat tersendatnya jalur transportasi internasional.
Agus Imron, seorang pelaku usaha kerajinan dan mebel, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya di sela Jogja International Furniture & Craft Fair Indonesia (JIFFINA) 2026 di JEC Yogyakarta, Senin (9/3/2026).
Wajahnya memancarkan keprihatinan saat menceritakan bagaimana "banyak buyer yang batal datang karena penerbangannya dibatalkan."
Padahal, di balik setiap ukiran kayu dan anyaman rotan, ada harapan besar untuk transaksi yang bisa menghidupi banyak keluarga.
"Walaupun sebenarnya para buyer siap datang dan para pengusaha kita juga siap bertemu dengan mereka. Namun saat ini tidak ada transportasi yang bisa mengantar mereka untuk melakukan transaksi secara langsung," paparnya.
Situasi ini terasa lebih menyakitkan karena berbeda dengan masa pandemi COVID-19 atau konflik Laut Merah sebelumnya. Kala itu, meskipun sulit, aktivitas perdagangan masih bisa berjalan.
Ada celah, ada harapan. Namun kali ini, "potensi pertemuan antara buyer dan pengusaha sebenarnya masih ada, hanya saja pada momen ini belum bisa terjadi," kata Agus, menggambarkan betapa frustrasinya ketika pintu kesempatan seolah tertutup rapat.
Baca Juga: Proyek Tol Solo-Yogyakarta Dibuka untuk Jalur Fungsional, Cek Dulu Jadwalnya Sebelum Melintas
Ironisnya, momen ini bertepatan dengan pameran besar yang seharusnya menjadi ajang emas bagi IKM Jogja. Mayoritas pembeli produk kerajinan dan furnitur Indonesia berasal dari Eropa dan Amerika, yang kini terhalang oleh pembatalan penerbangan.
"Banyak penerbangan yang akhirnya dibatalkan. Padahal buyer terbesar kita berasal dari Eropa, sekitar dari 28 negara, kemudian Amerika. Kondisi ini tentu sangat mengganggu," ujarnya.
Bahkan, ada cerita pilu tentang beberapa buyer yang sudah telanjur datang ke Indonesia, namun kini "terjebak karena kesulitan mendapatkan penerbangan untuk kembali ke negaranya." Mereka terpaksa menunda kepulangan, sambil membawa hasil transaksi yang seharusnya bisa segera dibawa pulang.
Agus berharap pemerintah tidak tinggal diam. Ia mendesak agar ada upaya "mencarikan alternatif jalur agar para buyer tetap bisa datang ke Indonesia." Ini bukan sekadar masalah bisnis, tapi juga tentang kelangsungan hidup IKM yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Di tengah ketidakpastian ini, para pelaku usaha juga dituntut untuk beradaptasi. Agus menyarankan agar mereka "proaktif menjaga komunikasi dengan buyer" melalui media sosial, email, hingga membuat studio kecil untuk memotret produk dan mengirimkannya secara digital. Ini adalah perjuangan untuk tetap bernapas di tengah badai.
Dampak ini juga dirasakan oleh Markus Wibowo, pemilik usaha mebel Kreasi Ayu, sebuah usaha skala kecil. Dengan nada lesu,
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Libur Lebaran Maju ke Maret, Kunjungan Wisatawan Sleman Triwulan I 2026 Melonjak
-
Bukan Romantisme Modern, Ciuman Ternyata Warisan Evolusi 21 Juta Tahun yang Dilakukan Nenek Moyang
-
OJK DIY Tegaskan Teror Order Pinjol Fiktif Ambulans Masuk Unsur Penipuan, Minta Korban Lapor Polisi
-
BRI Resmikan Money Changer di PLBN Motaain, Perkuat Kedaulatan Rupiah di Perbatasan
-
Migrasi Nonsubsidi, Pengecer di Jogja Mulai Khawatir: Harga Naik dan Stok Gas Melon Menipis