SuaraJogja.id - Perkembangan teknologi di era digital mendorong akses dan penyebaran informasi menjadi tanpa batas sekaligus tidak terkontrol. Akibatnya, banyak hoaks, misinformasi, dan ujaran kebencian yang muncul saat ini.
Seringkali alasan minimnya literasi media dan literasi digital untuk memeriksa sumber berita serta kesadaran untuk selalu mempertanyakan berita yang diterima dijadikan faktor munculnya hoaks dan disinformasi. Padahal selain itu ada "tukang kompor" yang sengaja memanaskan isu demi kepentingan-kepentingan tertentu.
"Memang ada upaya-upaya tertentu yang muncul ditengah-tengah kita untuk terus kipas-kipas dan memunculkan api-api itu," ujar Santi Indra Astuti Program Manager Tular Nalar dalam diskusi online Hoaks dari Sisi Radio Komunitas, Sabtu (13/03/2021).
Dicontohkan Santi, dalam kurun waktu 2018-2019 muncul produsen besar hoaks yang tertangkap dan dibawa ke jalur hukum seperti MCA dan Saracen. Meski kedua dedengkot hoaks tersebut sudah ditangkap, disinformasi masih saja marak terjadi hingga saat ini.
Bila dibiarkan tanpa ditindak tegas, maka hoaks ini akan menjadi fenomena gunung es yang sangat berbahaya. Produsen-produsen hoaks masih akan beranak-pinak untuk memanaskan suasana di masyarakat.
"Saat ini eskalasi hoaks masih saja terjadi. Orang yang diberi tahu yang benar begini yang salah begini, cara memersiksa begini ternyata tidak lantas membuat fenomena ini terjadi. Persoalan politik ataupun pandemi covid-19 saat ini masih saja memunculkan banyak hoaks," paparnya.
Jalan keluar untuk mengatasi persoalan hoaks ini, lanjut Santi tidaklah mudah. Diantaranya melalui kolaborasi semua pihak untuk memperkecil ruang gerak para produsen hoaks.
"Kalau dilihat dari sisi makro, persoalan hoaks bukan hanya karena masalah kurangnya kapasitas individu. Namun ada diluar sana pihak-pihak yang memanfaatkan defisit literasi diantara kita sehingga terus menerus memunculkan suasana [panas] seperti saat ini," ungkapnya.
Sementara Ketua Jaringan Radio Komunitas, Sinam Sutarno mengungapkan hoaks banyak bertebaran jusru di level mikro, terutama di sosial media (sosmed). Banyak khalayak yang menjadi korban hoaks dari gap informasi teknologi digital. Kemudaha mendistribusikan kabar berita menggunakan gawai dan sarana internet membuat orang dengan mudah membagikan, maupun menularkan konten informasi secara cepat dan singkat.
Baca Juga: Penataan Cagar Budaya DIY Punya Tantangan Besar, Ini Saran Stafsus Presiden
Konten dan cepatnya membagikan informasi inilah yang patut disikapi dengan bijak oleh masyarakat. Dengan demikian masyarakat lebih bisa memilih dan memilah konten informasi apa yang patut diakses dan dibagikan, sehingga tidak memberikan dampak yang meresahkan bagi masyarakat secara luas.
"Perlu adanya program yang bersifat merangkul masyarakat di luar jaringan internet agar mereka mendapatkan informasi yang benar sehingga masyarakat untuk berpikir kritis dan bijak dalam menerima segala macam informasi yang beredar di sekitarnya," paparnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
-
KLHK soal Isu Semua Limbah Abu Batu Bara Dicabut dari Kategori B3: Hoaks!
-
Awas, Bikin Hoaks Covid-19 di Malaysia, Dendanya Rp 1,7 Miliar
-
Hoaks Video Penembakan Gus Idris, Bareskrim Mabes Polri Turun Tangan
-
Lagi Ribut KLB Demokrat, Malah Beredar Pesan Hoaks Pakde Karwo Meninggal
-
Tuding Pentolan KAMI Sebar Hoaks, Pelapor Akui Belum Baca UU Omnibus Law
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi