Masih banyak pertanyaan lain yang muncul dalam kisah dibalik perjalanan hidup HB IX tersebut. Hal-hal itu yang akan digunakan oleh para pelukis dalam menggoreskan setiap warna di setiap kanvasnya.
"Merancang pameran ini, sungguh diliputi kecemasan atau tepatnya tantangan semacam itu," imbuhnya.
Maka dari itu, pihaknya tidak bisa semena-mena dalam membuat semacam panduan bagi para pelukis yang telah dipilih dan diundang sebelumnya. Sejawaran UGM, Sri Margana menjadi pilihan guna menyusun diskripsi sejumlah narasi, sesuai dengan jumlah pelukis yang diundang.
Lebih lanjut, penetuan narasi dan pelukis itu didasari oleh pengalaman empiris serta dengan mengamati hasil kerja kreatif yang bersangkutan. Narasi disusun berdasarkan peristiwa menyentuh; sejak kelahiran bayi mungil G.R.M Dorodjatun sang calon Raja, kemudian masa kanak-kanak, masa sekolah, masa merantau, masa studi di Eropa, kembali ke Jawa atau Yogyakarta.
Baca Juga: Syam Terrajana Gelar Pameran Tunggal, Membingkai Cerita Hidup Lewat Kanvas
Tidak luput masa HB IX menerima estafet kepemimpinan sebagai Raja di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, masa perjuangan diplomasi dan revolusi kemerdekaan, masa pemerintahan Orde Baru, hingga HB IX mangkat pada 2 Oktober 1988.
"Setiap pelukis mendapatkan satu narasi, dengan tetap memberikan keleluasaan tafsir atas narasi historis tersebut, tentu dalam batas-batas kewajaran dan kepatutan. Kecemasan atau sejumlah pertanyaan dijawab dengan sangat baik oleh 37 pelukis yang ada," terangnya.
Riset mendalam menjadi langkah dari para pelukis sebelum akhirnya karya tersebut bisa dipajang dan dinikmati oleh khalayak ramai. Karya-karya dari 37 pelukis ini, bagai narasi biografis, sambung-menyambung, meringkas, meringkus, mengembangkan, menyederhanakan, merumitkan, sesuai selera estetik, artistik, dan intelektual mereka.
"Karya-karya mereka merupakan “dramaturgi visual” yang menggugah dan menantang pemaknaan lanjut," tegasnya.
Sementara itu Kurator Pameran, Suwarno Wisetrotomo, mengatakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang menjadi tema utama dalam pameran kali ini dinilai sebagai kesatuan tema yang nyata adanya. Pameran ini menjadi interpretasi para seniman dalam setiap narasi yang dibangun untuk sosok HB IX.
Baca Juga: Kuliner Khas Jogja, Butet Jajal Menu Restoran Kegemaran Sri Sultan HB IX
"Tema ini yang nyata adanya. Sosok historis, kharismatis dan sekaligus mistis. Jadi sosok ini sosok nyata senyata-nyatanya yang melekat dihati setiap orang khususnya warga DIY atau Indonesia pada umumnya bahkan internasional," kata Suwarno.
Berita Terkait
-
Kurator Galnas Ungkap Pameran Yos Suprapto di Galnas Berkali-kali Ditunda Sejak 2023
-
Polemik Pameran Yos Suprapto di Galnas, Suwarno Wisetrotomo Ungkap Kejanggalan Seleksi Pameran
-
Rekam Jejak Fadli Zon, Menteri Kebudayaan yang Dinilai Yos Suprapto Tak Paham Bahasa Budaya
-
Profil Suwarno Wisetrotomo, Kurator Galeri Nasional Mundur dari Pameran Yos Suprapto
-
Pameran Lukisan Yos Suprapto yang Dibredel Jadi Sorotan, Anies Singgung Sesuatu yang Ditutupi
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
Pilihan
-
Demi Jay Idzes Merapat ke Bologna, Legenda Italia Turun Gunung
-
Misi Mathew Baker di Piala Asia U-17 2025: Demi Negara Ibu Tercinta
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
Terkini
-
Harga Kebutuhan Pokok di Kota Yogyakarta Seusai Lebaran Terpantau Stabil
-
Tiga Wisatawan Terseret Ombak di Pantai Parangtritis, Satu Masih Hilang
-
Cerita UMKM Asal Bantul Dapat Pesanan dari Amerika di Tengah Naiknya Tarif Impor Amerika
-
Diserbu 110 Ribu Penumpang Selama Libur Lebaran, Tiket 50 Perjalanan KA YIA Ludes
-
Kilas DIY: Bocah Jabar Nekat Curi Motor di Bantul hingga Penemuan Mayat di Sungai Progo