"Itu sama berlaku di semua warung di sini," tambahnya.
Dan jika ada yang mengeluhkan harga es teh di tempat tersebut cukup mahal menurutnya orang tersebut perlu dipertanyakan Apakah pernah datang ke Bukit Bintang atau belum. Karena untuk mendapatkan air di Bukit Bintang memang cukup sulit mereka harus membeli terlebih dahulu.
Di samping itu, kemungkinan besar warung yang menerapkan harga seperti itu juga melihat berapa lama pengunjung tersebut nongkrong di warung. Karena semakin lama nongkrong, ada warung yang membebankan harga makanan semakin mahal.
"Lha nongkrong lebih dari dua tiga jam bahkan sampai pagi. Cuma makan dan minum sedikit, padahal kan tempatnya bisa digunakan orang lain," tutur wanita yang telah 14 tahun lebih membuka warung di Bukit Bintang.
Harga tersebut termasuk wajar bahkan ada yang lebih mahal dari yang diterapkan seperti yang tercantum dalam nota tersebut. Ia menyebutkan setidaknya ada 3 warung yang tarifnya lebih mahal dibandingkan dengan harga yang tercantum dalam nota diunggah media sosial ini. Karena selain lokasinya yang lebih nyaman juga lebih privasi dibanding dengan warung-warung yang lain.
Lebih jauh, tokoh masyarakat di Bukit Bintang, Aris Sariyanto (63) meragukan keberadaan nota tersebut karena tidak mencantumkan nama warung. Bisa jadi hal tersebut merupakan pencemaran nama baik dari pemilik warung yang ada di Bukit Bintang. Sehingga ia mempertanyakan kebenaran nota dalam postingan tersebut.
Setahu dirinya harga yang dibebankan oleh pemilik warung cukup wajar dan tidak ada yang terlalu mahal. Untuk harga mendoan ia menganggap Rp15.000 wajar karena bisa jadi terdiri dari beberapa potong tempe dan biasanya disertai dengan sambal kecap sebagai pendampingnya.
"Kalau es teh juga wajar karena air juga membeli. Terus kalau Indomie itu memang saya anggap kemahalan kalau Rp15.000, nanti saya akan selidiki," tutur pensiunan Telkom tersebut.
Menurutnya karakter Bukit Bintang memang berbeda dengan tempat wisata lain. Karena untuk membangun sebuah warung di Bukit Bintang membutuhkan biaya yang tidak sedikit bahkan bisa 2 hingga 3 kali dibanding membangun rumah biasa. Struktur bangunan harus kuat karena berada di tebing yang curam dan terjal.
Baca Juga: Setelah Klaster Hajatan, Muncul Klaster Takziah di Gunungkidul
Sehari-hari, lelaki ini memang dituakan untuk mengurus parkir di kawasan Bukit Bintang. Belasan pemuda terlibat dalam pengelolaan parkir di samping ada pemilik warung. Bukit Bintang mulai banyak digunakan untuk berjualan paska gempa 2006 yang lalu. Kini sudah ada 40 warung besar dan kecil yang berdiri di Bukit Bintang.
"Itu sangat membantu sekali. Sebagian besar yang mendirikan bangunan di Bukit Bintang itu korban gempa,"terangnya.
Kontributor : Julianto
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Menjaga Berkah di Dapur Subuh: Perjalanan Inspiratif Penjual Dimsum yang Berhasil Mandiri Finansial
-
Dugaan Ormas Dibenturkan dengan Demonstrans saat Kerusuhan Malioboro, Sultan Klaim Tak Tahu
-
Dua Peserta Demo di Malioboro Sempat Hilang, LBH Laporkan Sudah Pulang
-
Jadi Bank Beraset di Atas Rp500 Triliun, BRI Raih Empat Penghargaan Bergengsi Pada 2026
-
Puncak AXIS Nation Cup 2026 Segera Tiba, Tim Futsal SMA Terbaik Siap Adu Kekuatan