Terkait dengan pembuatannya sendiri, dijelaskan Tri memang tetap memerlukan pemanasan bahan limbah plastik tersebut. Jadi nantinya limbah plastik yang sudah dicacah hingga lembut kemudian dipanaskan.
Setelah pemanasan dilakukan beberapa waktu baru akan dicampur dengan pasir pada kondisi tertentu. Lalu selanjutnya akan dicetak dan dipress sehingga menjadi bentuk yang diinginkan.
Tri menjelaskan hanya menunggu tiga jam saja hingga produk batako, paving block dan semacamnya itu dapat digunakan.
"Tiga jam itu sebetulnya lebih kepada panasnya agar bisa kepegang tangan gitu. Sebetulnya sesudah itu [dicetak] 5-10 menit sudah bisa dipakai tapi masih panas aja," terangnya.
Jika dibandingkan dengan penggunaan semen sebagai bahan campurannya akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa digunakan. Setidaknya butuh 28 hari proses pembuatan dengan semen sebelum bisa digunakan.
"Kalau ini tuh tiga jam. Kami bercandanya gini, barang kami ini produk tiga jaman, artinya dengan kekuatan yang diberikan masa gunanya bisa panjang dan juga tiga jam saja sudah bisa dipakai," ungkapnya.
Terkait dengan bentuk pavling sendiri memang diakui Tri karena keterbatasan mesin cetakan yang saat ini digunakan. Selain juga memang bentuk pavling yang ada di pasaran.
"Kalau misalnya ada yang bisa support bikin cetakan yang besar dengan alat yang memadahi tentunya kita juga pengen bikin yang besar. Ini hanya keterbatasan alat," ujarnya.
Tri tidak memungkiri bahwa kendala utama penelitian selama lima tahun hingga saat ini terkait pengolahan limbah plastik ini adalah pendanaan. Terlebih ia dan tim yang berangkat dari eksperimental riset membutuhkan berbagai macam bahan untuk percobaan.
Baca Juga: Inspiratif! Pria Buleleng Sulap Sampah Plastik Jadi Karya Bernilai Tinggi
Pihaknya mengharapkan ada respon baik dari semua pihak. Tidak hanya oleh pemerintah daerah saja tapi juga masyarakat. Dalam artian masyarakat juga turut peduli dengan lingkungan terlebih dalam pemanfaatan limbah plastik tersebut.
"Artinya kalau semen itu ada yang jual dan bisa beli di toko. Kalau plastik itu kan tujuannya sampah plastik harus dikumpulkan. Nah sekarang kalau hanya pemerintah tapi masyarakat juga ngga full support ya gimana mau ngumpulinnya juga," jelasnya.
Tri menambahkan untuk menjadi skala industri yang besar, pihaknya masih perlu satu tahapan lagi. Terkait dengan mesin yang saat ini sudah ada, yang sudah terintegrasi satu demi satu.
"Artinya ini mesin masih skala kecil dan satu-satu terintegrasi. Kalau memang mau support ya ayo tidak masalah tapi tetap ada tahapan yang tidak bisa dilompatin. Banyak juga yang sudah tertarik sebenernya," tandasnya.
Berita Terkait
-
Inspiratif! Pria Buleleng Sulap Sampah Plastik Jadi Karya Bernilai Tinggi
-
PSS Sleman Liburkan Pemain Selama 21 hari
-
Dipanggil Timnas Senior Indonesia, Wonderkid PSS Siap Berikan yang Terbaik
-
Dipanggil Timnas Senior, Saddam Gaffar Dapat Wejangan Ini dari PSS Sleman
-
Cara Kreatif Converse All Stars Perangi Pulau Sampah di Samudra Pasifik
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
Terkini
-
Saat Partai Politik Sibuk Bangun Citra, Padahal Rakyat Masih Terluka oleh Bencana
-
Siapkan Dana Pensiun Sejak Dini, BRI DPLK Kini Lebih Praktis Dibuka lewat BRImo
-
Duh! Gunungkidul Sampai Ajukan Tambahan Stok BBM, Pemda DIY Lakukan Efisiensi Transportasi
-
Purbaya Dicopot, DPRD DIY Tantang Menkeu Baru Batalkan Seluruh Pemangkasan Anggaran Daerah
-
Kasus Asusila di Ponpes Sleman: Eks Pengurus Ditetapkan Tersangka, Keberadaannya Masih Misterius