"Saya pakai [ruko itu] hingga enam bulan, dengan sudah ada 15 orang [yang tergabung dalam ponpes itu], dua orang perempuan dan 13 laki-laki," terangnya.
Disebutkan Ustaz Abu, semakin lama ternyata semakin banyak orang yang mengetahui tentang keberadaan ponpes tersebut. Hingga kemarin saat bulan ramadhan tiba banyak orang yang mencari tahu lebih lanjut.
"Alhamdulillah dari rentan waktu 1,5 tahun ini anak kami sudah 59 orang. Sekarang lagi liburan tersisa 9 orang yang masih di pondok. Ditambah masih ada 28 orang yang mendaftar baru. Sehingga jika dijumlahkan sudah sekitar 80an orang," jelasnya.
Semakin bertambahnya santri membuat tempat awal yang berada di Bantul juga semakin sesak. Maka dari itu diputuskan empat bulan yang lalu ponpes tersebut berpindah ke Sleman atau tempat yang sekarang ini ditempati.
"Akhirnya ada kontrakan dua rumah di Sleman, dan berbuah dua rumah yang dihibahkan oleh sang pemilik rumah kontrakan untuk digunakan. Ada 3 rumah di sini [Depok] dan 1 di Kalasan itu untuk 13 tahun ke atas yang laki-laki," ucapnya.
Lebih lanjut, Ustaz Abu menuturkan dari puluhan santri yang bergabung dalam ponpes tersebut sebanyak 20 persen berasal dari DIY dan sekitarnya semisal Solo dan Klaten. Sedangkan 80 persen santrinya berada di luar provinsi, mulai dari Medan, Kalimantan, Riau, Batam, Lampung, Karimun, Bali, dan Jabodetabek.
"Alhamdulillah tersebar hampir mewakili semua provinsi. Daftar terbaru ada yang dari Ternate," imbuhnya.
Mengaji pakai bahasa isyarat
Berkumpulnya anak-anak tunarungu yang berasal dari berbagai daerah itu ke Ponpes Tunarungu Darul A’Shom bukan tanpa alasan.
Baca Juga: Kisah Warga Lapas Cebongan Mencari Tuhan, 4 Bulan Mualaf Ingin Jadi Hafidz
Menurut Ustaz Abu, alasan yang jelas diketahui adalah belum adanya pendidikan agama atau pondok bagi anak-anak tunarungu tersebut. Selain itu pihaknya juga baru memperkenalkan konsep mengaji dengan bahasa isyarat seperti yang digunakan di negara-negara Arab.
"Nah di Indonesia belum ada, maka kita kenalkan. Maka mereka [orang tua] jauh-jauh datang ke sini dengan harapan ingin anak-anaknya hafidz Al-Qur'an dengan bahasa isyarat. Meskipun mereka tunarungu ada harapan untuk menjadi hafiz Al-Qur'an," ujarnya.
Bahkan dengan tingkat kesulitan bahasa isyarat yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan ucapan biasa, saat itu sudah ada santri yang hafal dua juz.
Selain mengajarkan tahfidz Al-Qur'an, pihaknya juga mengajarkan fikih, ahli bahasa hingga pendidikan formal.
"Mereka yang belajar di sini nanti dibekali juga ijazah paket A, B, C sehingga mereka disetarakan dengan yang umum. Ujiannya kan sama dengan yang umum bukan SLB," terangnya.
Ajarkan otodidak
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
-
50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
Terkini
-
8.000 Orang Lepas Status WNI dalam Lima Tahun, Indonesia Terancam Kehilangan SDM Berkualitas
-
Akademisi: Publik Berhak Menagih Kinerja jika Gaji Kepala Daerah Naik
-
Mandala Krida Terkendala Status Hukum, Erick Thohir Siap Jembatani Pemda dan KPK
-
Sukses Bikin Merinding, '402: Rumah Sakit Angker Korea' Jadi Kandidat Horor Terseram Tahun Ini
-
Prabowo Dampingi PM India Narendra Modi Beribadah di Prambanan, 2.690 Personel Gabungan Siaga Penuh