"Jadi mungkin banyak yang singgah ke New Selo terus naik sedikit. Kalau 600-an meter itu ya tidak terlalu jauh karena di situ juga sudah ada cornya, jalan setapaknya, jadi agak mudahlah untuk naik ke situ," terang dia.
Pihaknya juga memastikan bahwa posisi tempat para pemuda di dalam video masih di luar wilayah Taman Nasional Gunung Merapi, sehingga sudah pasti juga kelompok tersebut tidak mendaki ke puncak.
Akhmadi menyampaikan, sudah terdapat papan infomasi mengenai kondisi jalur pendakian yang ditutup sejak 2018 kemarin.
"Sehingga yang dicurigai mau mendaki itu, kita sampaikan tidak bisa mendaki dan sebagainya. Mungkin kemarin itu ya tadi mampir New Selo dan naik ke titik itu," ucapnya.
Baca Juga: Wedhus Gembel Meluncur Sejauh 1,2 Kilometer dari Puncak Merapi ke Arah Barat Daya
Selain itu, kata Akhmadi, posisi itu masih jauh jika memang hendak menuju ke gerbang pendakian. Setidaknya pendaki harus menempuh jarak 1,5 kilometer untuk sampai ke gerbang pendakian dan masuk ke kawasan taman nasional.
Pihaknya tidak menampik bahwa posisi tempat para pemuda itu masih berada di sekitar perkebunan milik warga. Terlihat dari langit yang cerah dan masih banyaknya vegetasi di sekitarnya.
"Kalau melihat dari titik itu dan memastikan ada tanda panah itu yang itu temen-temen hafal masih di bawah, dekat dengan lahan perkebunan masyarakat," jelasnya.
Akhmadi menegaskan tidak akan menindaklanjuti aksi sekelompok pemuda itu dengan mencari mereka. Menurutnya, klarifikasi yang diberikan sudah cukup untuk menjelaskan kejadian di dalam video viral itu.
"Kita mungkin engga kperlu sampai mencari [sekelompok pemuda itu], cuma meng-counter dengan jawaban-jawaban seperti itu. Mudah-mudahan tidak tambah runyam," tandasnya.
Baca Juga: Viral Pendaki Pamer ke Pasar Bubrah Saat Merapi Siaga, Panen Hujatan Publik
Sebelumnya diberitakan, media sosial diramaikan sebuah video viral yang memperlihatkan sekelompok pemuda di area Gunung Merapi. Di video tersebut, mereka mengabadikan momen di dekat penunjuk arah ke Pasar Bubrah.
Berita Terkait
-
Tradisi Sadranan di Boyolali: Jaga Kerukunan Jelang Ramadan
-
Pelaku Penusukan Sandy Permana Bukan Tetangga yang Ramah Menurut Warga
-
Sandy Permana Ditusuk, Warga Ungkap Kebiasaan Korban Sebelum Kejadian
-
Tanpa Kejanggalan, Keseharian Sandy Permana Sebelum Tewas Ditusuk Diungkap Orang Dekat
-
Sebelum Tewas Ditusuk, Sandy Permana Sempat Tegur Pelaku Gara-gara Kebiasaan Mabuk
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
Kilas DIY: Bocah Jabar Nekat Curi Motor di Bantul hingga Penemuan Mayat di Sungai Progo
-
Jalur Selatan Alami Lonjakan, Polres Kulon Progo Lakukan Buka Tutup Jalur Utama
-
Okupansi Hotel Anjlok 20 Persen di Momen Lebaran, Permintaan Relaksasi PHRI Tak Digubris Pemerintah
-
Gembira Loka Zoo Hadirkan Zona Cakar, Pengalaman Baru untuk Pengunjung Berjalan Bersama Satwa Buas
-
Mudik ke Jogja? BPBD Ingatkan Potensi Bencana Alam: Pantai Selatan Paling Rawan