SuaraJogja.id - Pemerintah pusat menerapkan PPKM darurat se-Pulau Jawa dan Bali untuk mengurangi jumlah kasus Covid-19. PPKM darurat sudah diterapkan mulai 3 hingga 20 Juli 2021 mendatang.
Menurut epidemiolog dari Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM Riris Andono Ahmad, hasil dari penerapan PPKM darurat yang baru berjalan empat hari belum dapat dilihat. Total kasus Covid-19 di level nasional, katanya, adalah hasil penularan virus corona sebelum adanya PPKM darurat.
"Minggu yang lalu belum ada PPKM darurat, sehingga efek yang ada dari sekarang baru bisa diamati pada akhir minggu nanti," ujar dia kepada SuaraJogja.id, Rabu (7/7/2021).
Hasil PPKM darurat pada minggu pertama baru bisa terlihat pada akhir minggu nanti karena Covid-19 ada massa inkubasinya. Massa inkubasinya baru bisa dideteksi lima sampai tujuh hari.
"Orang yang terinfeksi Covid-19 hari ini merupakan hasil dari akunulasi kasus selama satu minggu yang lalu," ungkapnya.
Doni, sapaan akrabnya, menjelaskan, efektif atau tidaknya PPKM darurat tergantung dengan implementasinya di lapangan. Indikator keberhasilan PPKM darurat ialah menghentikan mobilitas manusia. Dengan begitu, virusnya juga sulit untuk menyebar ke orang lain.
"Jadi PPKM ini baru bisa dikatakan efektif jika menghentikan pergerakan orang dan akan menurunkan penularan. Yang jadi permasalahan sekarang adalah apakah ada penurunan mobilitas yang signifikan?" paparnya.
Kata dia, penyemprotan disinfekstan di jalan raya tidak efektif karena ada dua hal. Pertama, yang pasti virus tidak bisa bertahan hidup di luar lantaran terkena sinar matahari. Kedua, siapa orang yang akan menyentuh jalan raya.
"Saat ini penularan Covid-19 dengan permukaan benda sudah tidak dianggap signifikan. Yang signifikan ya droplet itu," katanya.
Baca Juga: Pedagang Pasar PASTY Soal Penutupan Selama PPKM Darurat: Hewan Juga Butuh Makan
Penyemprotan disinfekstan justru dianggap menghabiskan sumber daya yang tidak perlu.
Ihwal penyekatan di sejumlah ruas jalan di DIY, katanya, juga tidak berpengaruh. Sebab, Covid-19 menular saat orang sedang berkumpul atau berkerumun.
"Yang menjadi isu sebenarnya adalah kerumunan. Kalau tidak ada kerumunan relatif tidak ada penularan," terangnya.
Diakuinya, penyekatan sebagai upaya untuk mempersulit agar orang tidak berkerumun dengan mempersepit ruang gerak.
Namun, yang menjadi persoalan apakah dengan membatasi jalan, kerumunan akan berkurang atau malah berpindah ke tempat yang lebih tersembunyi.
"Itu yang perlu diperhatikan karena bisa jadi orang-orang tidak berkerumun di jalan raya tapi di tempat sepi," jelasnya.
Berita Terkait
-
Pedagang Pasar PASTY Soal Penutupan Selama PPKM Darurat: Hewan Juga Butuh Makan
-
Tak Terkendali! Mobilitas Masyarakat Kudus Masih Tinggi Saat PPKM Darurat
-
Langgar PPKM Darurat, Satu Perusahaan Nonesensial di Kelapa Gading Ditutup
-
Tawuran Ojol vs Mata Elang saat PPKM Darurat: Ada Korban Luka, 2 Motor Dibuang ke Kali
-
Viral Anak Buah Bupati Sukabumi Dihukum Push Up Gara-gara Tak Pakai Masker
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Dorong Inovasi PAI dan Kualitas Pendidikan, UNY Bekali Guru dengan Project Based Learning
-
PAI UNY Dorong Guru PAI SMA Jogja Terapkan Kesetaraan Gender Berbasis Islam
-
Gugat Aturan Gelar Pahlawan Nasional ke MK, Trah Sultan HB II Bongkar Dugaan Penjegalan
-
Warga Sleman Mengeluh Mati Listrik Tiap Hari, PLN Buka Suara dan Beberkan Penyebabnya
-
Nenek 80 Tahun di Sedayu Bantul Tewas Tercebur Sumur Saat Menimba Air