SuaraJogja.id - Warga Kalurahan Purwodadi Kapanewon Tepus Gunungkidul kini tengah bingung bagaimana menghadapi teror binatang buas yang menyerang ternak dan tanaman pangan mereka. Belasan kambing mati diserang binatang misterius.
Ulu-ulu Kalurahan Purwodadi, Suroyo mengakui pada puncak musim kemarau kali ini masyarakat Kelurahan Purwodadi tengah dihantui serangan binatang buas. Kontur wilayah Kelurahan Purwodadi yang berbukit-bukit menjadi tempat strategis persembunyian binatang buas.
Di masa sulit pangan akibat musim kemarau yang melanda kawasan Kapanewon Tepus saat ini, binatang buas tersebut akhirnya merangsek ke ladang milik warga. Padahal warga banyak membangun kandang ternak mereka di ladang yang letaknya jauh dari pemukiman.
"Kalau ternak itu diletakkan di ladang biar tidak repot membawa pakannya,"ujar dia, Minggu (8/8/2021).
Karena minimnya pengawasan maka banyak binatang buas yang menyerang ternak sama mereka. Setidaknya ada 11 kambing mati mendadak dengan luka bekas gigitan. Kambing-kambing tersebut diduga mati karena kehabisan darah usai darahnya dihisap binatang misterius.
Karena serangan binatang buas telah mengakibatkan belasan kambing mati, warga kemudian ramai-ramai mengandangkan karena mereka di dekat rumah masing-masing. Harapannya warga akan semakin mudah melakukan pengawasan sehingga tidak ada lagi kambing yang mati diserang oleh binatang misterius.
"Ciri-cirinya sama, ada bekas gigitan di leher dan perut,"paparnya.
Lurah Purwodadi, Sagiyanto menambahkan selain disibukkan dengan teror binatang buas yang mengakibatkan belasan kambing mati mendadak para petani juga kini tengah pusing menghadapi serangan kera ekor panjang. Karena tak hanya menyerang tanaman pangan mereka, kera kera tersebut juga sudah merangsek ke pemukiman.
Warga atau petani sendiri tidak berani melakukan perburuan terhadap kera ekor panjang karena binatang tersebut ternyata masuk dalam kategori dilindungi. Petani hanya berupaya keras agar binatang-binatang tersebut tidak masuk ke ladang ataupun pemukiman.
Baca Juga: Tanaman Tembakau di Gunungkidul Rusak Akibat Guyuran Hujan, Hasil Panen Anjlok 50 Persen
"Ada yang dengan cara ronda ataupun pasang jaring. Tapi karena jumlahhya banyak, kaki kuwalahan,"tambahnya.
Pemerintah kelurahan sendiri telah berupaya melakukan koordinasi kepada Balai konservasi sumber daya alam (BKSDA) untuk mendapatkan izin agar bisa mengurangi populasi kera ekor panjang tersebut. Namun surat yang mereka layangkan ke lembaga tersebut belum mendapat respon.
Kontributor : Julianto
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
Terkini
-
Penetapan Tersangka Raudi Akmal Dipertanyakan, Kuasa Hukum Singgung Putusan Pengadilan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Kades Curhat Harus Urus Kopdes hingga Program Lain Terabaikan, Ratusan Mahasiswa Geruduk DPRD DIY
-
Ars Longa: Generatio, Awal Trilogi ARTJOG Bicara soal Warisan Luka
-
Geger di Lintasan Mandiri Jogja Marathon, Insiden Marshal dan Ajudan Danrem Berakhir Damai