Sesaat kemudian, notifikasi pesan WhatsApp-nya berdenting. Saat dicek, video sejumlah petugas berompi hijau lime tampak sedang mengecat putih mural yang dia buat bersama rekan-rekannya. Bamsuck mengaku tak menyangka mural yang dibuat selama tiga jam itu seketika lenyap dihapus aparat
"Akhirnya saya melintas, dan iya benar dihapus. Baru kali ini karya saya dihapus, kenapa hanya sebuah mural sampai segitunya dihapus?, Padahal bukan kriminal," ucap Bamsuck.
Ekspresi kesal tergambar dari raut wajah pria kelahiran Jogja tahun 1993 itu. Menurutnya kata yang terlukis di muralnya hanya pesan dan suara kegundahan warga saat situasi sekarang.
Tak jera, mural berisi kritik kembali ia buat pada Senin (23/8/2021) pagi sekitar pukul 05.00 WIB. Setelah tembok diubah menjadi warna putih bersih, Bamsuck seorang diri menulis kalimat "Bangkit Melawan atau Tunduk Ditindas".
Tapi, lagi-lagi seakan latah dengan tindakan penghapusan mural di beberapa daerah lain, mural buatan Bamsuck tak bertahan lama. Sekira pukul 12.30 WIB pada hari yang sama, petugas Satpol PP Kota Yogyakarta menghapus tulisan tersebut.
"Kalau kayak gitu kita tidak boleh berkarya, tidak boleh bersuara. Marah iya, kesal juga iya, itu kan mewakilkan masyarakat untuk bersuara juga,” ujar dia mengungkap lagi kronologis muralnya yang dihapus untuk kedua kali.
Bercerita soal pemilihan kata Dibungkam sendiri, kata Bamsuck adalah kesepakatan bersama seniman dan rekan-rekannya. Menurut dia kata itu merupakan representasi dari kehidupan yang terjadi saat ini.
Belakangan, setelah mural Dibungkam dihapus viral, hal tersebut justru memantik gairah para seniman untuk lebih banyak memproduksi karya-karya mural. Kegiatan street art terutama mural di Jogja yang sempat mati suri selama 2 tahun kembali bergairah.
Merespon penghapusan mural yang kemudian memicu gairah aktivitas mural, Bamsuck mengaku tak ingin jemawa. Bamsuck mengaku hanya ingin dianggap seniman Jogja yang terus menyuarakan aspirasi dirinya yaitu rakyat dari sebuah coretan mural.
Baca Juga: Ramai Soal Penghapusan Mural di Jembatan Kewek, Begini Respon Walikota Jogja
“Saya tidak ingin terlalu terlihat besar, ya biasa saja. Saya memilih untuk kembali membuat karya lagi, meski akhirnya akan dihapus lagi. Ya ini tidak akan berhenti,” terang pemuda yang telah menggambar mural di 50 tembok di Jogja tersebut.
Pemerintah Terlalu Baper
Merespon tindakan pemerintah yang melakukan penghapusan karya mural di berbagai daerah termasuk karyanya, Bamsuck melihat pemerintah saat ini terlampau sensitif dan justru menguatkan kesan antikritik terhadap hal-hal yang tak sejalan dengan mereka.
"Saya melihatnya mereka kok baper (bawa perasaan), ya mbok biasa saja. Itu kan seni, bentuk ekspresi warga dengan realita yang terjadi saat ini," ujar dia.
Seorang seniman street art Jogja lainnya yang kerap berkontribusi pada Festival Art Jog, Enka menganggap bahwa seharusnya, penghapusan mural itu tak perlu dilakukan pemerintah. Bahkan ia menganggap pemerintah seakan takut dengan reaksi warga yang bisa saja dipicu dari mural yang diciptakan seniman.
"Cukup disayangkan, nampak takut ya, mungkin ketakutannya itu akan memicu sebuah reaksi besar yang menurut mereka (pemerintah), nanti dianggapnya masyarakat tidak mau percaya lagi dengan mereka," kata Enka dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (27/8/2021).
Tag
Berita Terkait
-
Daftar Lengkap Lokasi Mural di Solo, Gibran Akan Tambah Lokasi Lagi
-
Ridwan Kamil Tak Permasalahkan Mural di Ruang Publik, Asal...
-
Kampung Mural Religi di Kabuten Bandung
-
Mural Mirip Jokowi Tiba-tiba Hilang, Netizen: Mau Ketawa Takut Ditangkep
-
Mural Mirip Presiden Jokowi di Flyover Pasupati Mendadak Hilang
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
JKT48, Bernadya, dan Inul Daratista Satu Panggung di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026