Anton kemudian banyak cerita tentang keputusannya dan istri untuk menjadi Campeter, dan menggunakan mobil minibus modifikasinya menjadi sebuah rumah yang bisa dia bawa kemana mana. Bersama istri, selama 11 bulan keliling Indonesia, sudah ratusan tempat yang mereka singgahi.
"Kita sudah ke Sumatra, Bangka, Belitung, Sulawesi, Lombok, Bali dan yang lainnya, disetiap tempat baru yang kami kunjungi, kami menemukan banyak hal hal yang asyik dan menyenangkan," lanjutnya.
Saat disinggung soal biaya selama perjalanan, Anton mengaku bahwa dia menggunakan uang tabungan yang dikumpulkannya selama bekerja dengan istrinya. Saat dia memutuskan pensiun, kesenangannya dalam hal Traveling bersama istri kemudian dia wujudkan untuk total menjadi Campeter dan bergabung dengan komunitas Camper Van Indonesia.
Anton mengaku memulai petualangan ini sejak tahun 2019, di mana waktu itu ia memutuskan untuk berhenti kerja dan menikmati hidup, dengan melakukan perjalanan keliling Indonesia. Ia sengaja mengemas minibus mereka menjadi rumah berjalan untuk menghemat biaya perjalanan.
Dengan model rumah yang bisa dibawa kemana mana ini, menurut Anton ada banyak keuntungan, salah satunya adalah hobi Traveling mereka menjadi lebih irit.
"Beda jika umpama kita liburan biasa seminggu di Bali, biaya makan di restoran dan menginap di hotel hitungannya lebih mahal, tapi dengan membawa rumah begini, biaya sehari hari dapat lebih irit, kalau soal makan dan tidur, kita di rumah juga belanja dan makan, sama seperti hidup di mobil, pengeluaran paling besar ya paling untuk beli solar," lanjut Anton panjang lebar.
Menurut cerita Anton, di rumah resminya di Bogor, dia memiliki dua orang anak, yang besar sudah S3 dan bekerja yang kecil baru selesai menempuh pendidikan S1. Meski demikian, ia rela meninggalkan kedua anaknya untuk menikmati hidup.
"Prinsip keluarga kami, saya sebagai orang tua hanya akan memberikan warisan ilmu kepada anak anak, mereka mau sekolah setinggi apapun akan kami biayai, tapi kami tidak memberikan warisan yang berupa harta kepada anak anak. Ya, kalau warisan harta bisa habis jika salah mengelola, tapi kalau warisan ilmu, itu tidak akan pernah habis, bahkan bisa digunakan untuk mencari harta melebihi orang tuanya," imbuh Anton lagi.
Saat itu, tampak Mimi istri Anton sedang menyiapkan makan siang, sembari membersihkan ruangan ruangan di dalam rumah mobil.
Baca Juga: Penyekatan di TPR, Begini Modus Wisatawan agar Bisa Tetap Sampai Ke Pantai Gunungkidul
"Mari makan siang, saya memasak menu sayur lodeh," kata Mimi ramah mempersilakan kami untuk masuk ke rumah mobil mereka.
Wanita yang menginjak usia hampir setengah abad, tapi masih tampak segar dan cantik ini kemudian menyiapkan makan siang di meja makan sembari membereskan ruangan. Sesekali dia juga mengecek cucian yang berada di dalam mesin cuci, atau menengok sayur asem yang masih berada diatas kompor, kegiatan yang umum dilakukan oleh ibu ibu rumah tangga yang beraktivitas di dalam rumah setiap hari.
"Saya juga jago nyopir lho, saat bapak capek dan butuh istirahat, saya yang nyopir Caravan," terangnya sambil tertawa.
Umbu Tedi, pria berbadan besar yang berasal dari Bogor ini juga terlihat ikut dalam rombongan Camper Van Indonesia, yang ikut singgah di pantai Sundak. Umbu juga menyulap mobil Hi-Ace miliknya menjadi rumah berjalan seperti mobil Anton. Dalam perjalanan ini Umbu bersama istri dan dua anak anaknya yang masih kecil.
"Kalau saya baru sekitar tiga minggu, meninggalkan rumah resmi, dan hidup di Caravan, saya baru saja dari Bali," terang Umbu.
Pria yang bekerja sebagai desainer Karoseri kendaraan ini membawa seluruh keluarganya, anak pertamanya masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar, dan yang kecil masih TK, sementara istrinya bekerja disebuah perusahaan luar negeri tapi berbasis Online.
Berita Terkait
-
Penyekatan di TPR, Begini Modus Wisatawan agar Bisa Tetap Sampai Ke Pantai Gunungkidul
-
Fenomena Lumut di Pantai Natuna, Pemerhati Lingkungan Ungkap Pertanda Ini
-
Dihantam Gelombang Tinggi, Sejumlah Warung Di Pantai Selatan Gunungkidul Rusak
-
Touring dari Bali Menuju Banda Aceh, Kini Pasutri ini Keliling Indonesia
-
Perjalanan Suami Istri Motoran Keliling Indonesia, Siap Berbagi Inspirasi Toleransi
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Bagaimana Cara Menonton Film Pesta Babi? Ini Syarat dan Prosedurnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Jogja Darurat Pendidikan: 5.023 Anak Putus Sekolah, Nasib Guru Honorer di Ujung Tanduk
-
Rupiah Tembus Rp17.600, Aisyiyah: Pernyataan Prabowo 'Desa Tak Butuh Dolar' Cederai Rakyat
-
Polisi Sebut Kasus Tewasnya Pelajar di Kawasan Kridosono Bukan Klitih, Tapi Perselisihan Antar Geng?
-
Update Kasus Daycare Little Aresha, Polresta Jogja Siapkan Pelimpahan 13 Tersangka ke Kejaksaan
-
Dinilai Terlalu Berbelit, Trah Sri Sultan HB II Ajukan Uji Materi UU Nomor 20 Tahun 2009 ke MK