Eleonora PEW | Hiskia Andika Weadcaksana
Kamis, 09 September 2021 | 12:00 WIB
Rumah warga di Pedukuhan Sanggrahan, Tirtoadi, Mlati, Sleman yang terdampak proyek pembangunan jalan tol Jogja-Bawen mulai dibongkar, Jumat (3/9/2021). - (SuaraJogja.id/Hiskia Andika)

SuaraJogja.id - Sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman terdampak proyek pembangunan jalan tol. Hal itu membuat sejumlah warga yang bertempat tinggal atau memiliki lahan di dalam proyek itu menjadi miliarder akibat tergusur tol.

Jika dalam beberapa waktu terakhir ramai banyak miliarder baru di wilayah Tirtoadi, Mlati, yang terdampak tol Jogya-Bawen. Di sisi barat Bumi Sembada tepatnya di Pedukuhan Kadirojo 2 dan Temanggal 2 Kalurahan Purwomartani, Kalasan, Sleman juga tidak luput dari proyek pembangunan jalan tol.

Diketahui bahwa dua wilayah itu terdampak proyek pembangunan jalan tol Jogya-Solo. Sama seperti di Tirtoadi, Mlati, warga di dua pedukuhan itu juga sudah menerima kompensasi atau pembayaran ganti rugi atas lahan mereka.

"Kalau di Purwomartani baru Pedukuhan Kadirojo 2 dan Temanggal 2 yang cair (mendapat ganti rugi). Ya sekitar kurang lebih 200-an bidang lebih. Paling banyak Temanggal 2," kata Lurah Purwomartani, Semiono saat dihubungi awak media, Kamis (9/9/2021).

Tidak dipungkiri Semiono bahwa warga di dua pedukuhan itu banyak yang kemudian menyandang status miliarder setelah ganti rugi diberikan. Meski memang masing-masing orang mendapat nilai yang berbeda tergantung dengan luasan bidang yang terdampak.

Ia menyebutkan, ada warga yang menerima hingga Rp12 miliar, tetapi ada pula yang hanya mendapat belasan juta. Sebab perbedaan bidang atau lahan yang terdampak tadi.

"Ya relatif sih, tergantung luasan lahannya. Itu paling banyak untuk Kadirojo 2 dapat Rp11 miliar. Temanggal 2 itu ya sekitar Rp12 miliar perorang ya. Ada yang cuma dapat Rp200-300 juta pun ada. Ada yang cuma keserempet pagarnya pun hanya dapat Rp15 juta juga ada," terangnya.

Semiono menuturkan bahwa proyek pembangunan jalan tol di wilayah tersebut mayoritas memakan lahan persawahan milik warga. Walaupun tetap ada beberapa rumah warga yang juga akan ludes tertabrak jalan tol.

"Mayoritas memang lahan pertanian. Baik di Temanggal 2 atau Kadirojo 2, sebagian besar pertanian. Untuk rumah ada yang habis juga, di Kadirojo 2 itu ada 7 rumah yang habis. Kalau di Temanggal 2 itu kurang lebih sama, 7 sampai 10 rumah," ungkapnya.

Baca Juga: Penyelesaian Ganti Rugi Lahan Tol Balsam Seksi 5, Cuma Lewat Gugatan dan Kesepakatan, Kok?

Mendapat rezeki yang tidak sedikit dari hasil ganti rugi, kata Semiono, tidak membuat warganya lalu konsumtif. Ia menyampaikan bahwa warga lebih memilih untuk mengembalikan uang yang diterimanya itu ke tanah ketimbang kebutuhan lain semisal kendaraan.

"Rata-rata memang (uangnya) kembali ke sawah untuk bikin rumah, ya mungkin ada satu dua yang beli motor tapi kalau beli mobil hampir tidak ada," ujarnya.

Kendati tetap ada sejumlah sales kendaraan yang masuk ke wilayahnya untuk menawarkan produknya. Semiono menuturkan warga tidak begitu tertarik dan lebih memprioritaskan untuk hal lain yang lebih penting.

"Ada banyak itu (sales). Tapi ya rata-rata warga tidak (tertarik), artinya kan mereka rata-rata juga petani jadinya ditawari itu ya tidak ada yang tertarik," tuturnya.

Sebelumnya, ditambahkan Semiono dari pihak pemerintah kalurahan sendiri juga sudah mewanti-wanti warga terdampak tol agar tidak boros dalam membelanjakan uangnya.

"Rata-rata uangnya dikembalikan ke tanah kok. Kalau mobil enggak ada. Karena kami dari kalurahan juga sudah mewanti-wanti bahwa tidak terlalu boros penggunaan anggaran. Kan itu juga tanah bagian dari warisan orang tuanya juga rata-rata," tandasnya.

Load More