Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo
Kamis, 07 Oktober 2021 | 18:02 WIB
Pedagang cabai Pasar Induk Cibitung. (Imam Faisal)

Beberapa hal yang menjadi penyebab dari harga daging dan telur ayam ini antara lain sejak awal 2021 banyak peternak ayam pedaging yang bangkrut.

"Sehingga banyak yang bermigrasi menjadi peternak ayam petelur. Hal ini disebabkan karena harga pullet --ayam yang siap bertelur-- turun drastis hingga 50 persen," kata dia.

Penyebab lainnya yakni masa afkir ayam petelur sekarang bisa mencapai umur 100 pekan.

"Lebih lama dibandingkan umur afkir rata-rata sebelumnya yaitu 83 pekan," tutur Nia.

Baca Juga: Resmi! Irfan Bachdim Tinggalkan PSS Sleman

Masih ada penyebab lainnya, imbuh Nia. Puncak produksi ayam petelur dengan adanya teknologi dan perbaikan genetis dan pakan sekarang mencapai 420 butir/ekor/siklus produksi. Lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang rata-rata puncak produksinya 350-400 butir/ekor/siklus produksi.

"Ketiga hal di atas menyebabkan produksi telur ayam berlimpah, sedangkan di sisi lain permintaan dari masyarakat masih terbatas. Karena belum banyaknya sekolah, katering, pariwisata, restoran yang beroperasi," tandasnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Suparmono membenarkan bahwa selama PPKM darurat atau Level 3, serapan dan harga produk pertanian tertekan.

"Ya selain PPKM juga ada siklus tahunan. Misalnya saja cabai, cabai saat itu serapannya sedikit dan bertepatan panen raya. Tapi sekarang rata-rata sudah mulai di atas, tinggi-tinggi lagi ya," kata dia.

Bukan hanya produk yang sudah disebut tadi di atas, Suparmono menyatakan produk ikan Sleman sudah mulai membaik penyerapannya.

Baca Juga: Brownies Salak Kanaya: Produk Lokal UMKM Sleman Bercita Rasa Unik

"Karena begitu PPPKM level 3 turun, konsumsi kita makin naik. Apapun faktanya di lapangan, banyak orang masuk Sleman," ujarnya.

Load More