SuaraJogja.id - Akhir tahun kali ini masyarakat DIY kembali dibuat resah dengan maraknya aksi kejahatan jalanan atau klitih. Tidak sedikit yang sudah menjadi korban atas tindakan mengancam nyawa tersebut.
Namun apakah fenomena klitih ini lantas hanya ramai terjadi setiap jelang akhir tahun saja? Bagaimana dengan waktu lainnya, awal dan pertengahan tahun misalnya, apakah klitih juga akan seramai pada periode akhir tahun?
Wakapolda DIY Brigjen Pol R Slamet Santoso menyampaikan bahwa kejahatan jalanan itu sebenarnya tidak memandang waktu. Dalam artian kejadian klitih tidak hanya selalu ramai di akhir tahun saja tetapi lebih secara fluktuatif.
"Dari waktu kejadian kalau dari hasil penelitian kita itu tidak selalu di akhir tahun atau pertengahan tahun tapi ya fluktuatif," kata Slamet kepada awak media, Jumat (31/12/2021).
Baca Juga: Pelaku Klitih di Jakal Dicokok, Ini Tampang Tersangka dan Sajam yang Dipakai Menganiaya
Slamet mencontohkan kemarin saat kasus Covid-19 sedang tinggi aksi klitih cukup jarang terjadi. Namun kemudian saat sekarang kasus paparan mulai turun kejahatan jalanan pun mulai kembali menunjukkan eksistensinya.
"Kayak kemarin waktu pandemi Covid-19 ini tinggi, enggak ada dia (klitih). Begitu sekarang sudah agak turun (kasus Covid-19) sudah hampir tervaksinasi semua, akhirnya mulai dia keluar, kumpul-kumpul dan sebagainnya," ungkapnya.
"Jadi sebenarnya enggak juga ya, sebenarnya enggak akhir tahun atau pertengahan tahun (ramai klitih)," sambungnya.
Ia menegaskan bahwa penanganan klitih tidak bisa hanya dilakukan oleh kepolisian sendiri. Melainkan butuh kerja sama dari stakeholder dan masyarakat yang ada.
Kemudian peran para orang tua untuk supaya bisa meminimalisir kejadian-kejadian serupa harus juga ditingkatkan. Bukan tidak mungkin, kata Slamet, pihaknya juga akan melibatkan pakar-pakar untuk memberikan analisis terkait persoalan ini.
Baca Juga: Klitih di DIY Terus Berulang Akibat Lemahnya Kontrol Sosial dan Pembiaran Budaya Kekerasan
"Nanti kita akan libatkan juga berbagai pakar-pakar. Kita juga belum meneliti nih, kalau bunyi berisik knalpot motor itu mempengaruhi emosi atau tidak, kan kadang-kadang gara-garanya sepele. Dia naik motor blombongan, begitu lewat ngeng tersinggung terus dikejar. Terus tawur dan seterusnya. Itu merupakan rangkaian awal kejadian klitih ini," paparnya.
Berita Terkait
-
Semarakkan HUT DIY, Pameran Produk Unggulan Wirausaha Desa Preneur Digelar
-
Drama Relokasi Teras Malioboro 2: Pedagang Tridharma Vs Pemda, Siapa yang Menang?
-
Kendala Administrasi Hambat Pelaksanaan MBG di DIY
-
Bangkitkan Kreativitas Lewat Proyek DIY, Seni Berkreasi dari Nol
-
Warga DIY dan Jakarta Tenang! Bayar Pajak Kendaraan Tak Naik Meski Ada Opsen
Terpopuler
- Dedi Mulyadi Syok, Bapak 11 Anak dengan Hidup Pas-pasan Tolak KB: Kan Nggak Mesti Begitu
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- JakOne Mobile Bank DKI Diserang Hacker? Ini Kata Stafsus Gubernur Jakarta
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Review Pabrik Gula: Upgrade KKN di Desa Penari yang Melebihi Ekspektasi
Pilihan
-
Jadwal Timnas Indonesia U-17 vs Yaman, Link Live Streaming dan Prediksi Susunan Pemain
-
Minuman Berkemasan Plastik Berukuran Kurang dari 1 Liter Dilarang Diproduksi di Bali
-
Nova Arianto: Ada 'Resep Rahasia' STY Saat Timnas Indonesia U-17 Hajar Korea Selatan
-
Duh! Nova Arianto Punya Ketakutan Sebelum Susun Taktik Timnas Indonesia U-17 Hadapi Yaman
-
Bukan Inter Milan, Dua Klub Italia Ini Terdepan Dapatkan Jay Idzes
Terkini
-
Prabowo Didesak Rangkul Pengusaha, Tarif Trump 32 Persen Bisa Picu PHK Massal di Indonesia?
-
Viral, Mobil Digembosi di Jogja Dishub Bertindak Tegas, Ini Alasannya
-
Tanggapi Langkah Tarif Trump, Wali Kota Jogja: Kuatkan Produk Lokal!
-
Masa WFA ASN Diperpanjang, Pemkot Jogja Pastikan Tak Ganggu Pelayanan Masyarakat
-
Kurangi Kendaraan Pribadi Saat Arus Balik, Menhub Lepas 22 Bus Pemudik di Giwangan