SuaraJogja.id - Di sebuah gang, tepatnya di Kampung Pajeksan, Kalurahan Sosromenduran, Kemantren Gedongtengen, Kota Jogja tampak kepala barongsai berjajar rapi yang digantung di langit-langit di rumah yang bercat putih dengan aksen merah. Di depan pintu berukuran 2x2 meter duduk seorang pria paruh baya yang mengenakan blangkon, kaus tanpa lengan, serta celana garis-garis.
Pria itu bernama Slamet Hadi Prayitno (74), atau yang akrab disapa Pak Pong. Nama Pak Pong ia dapat saat masih berjualan sebagai penjual rujak. Lantas anak-anak kecil di sekitar rumahnya menyebutnya Pak Pong, yang akhirnya dikenal sampai sekarang.
Kepada SuaraJogja.id, Pong bercerita bahwa ia sudah menekuni pekerjaan ini selama kurang lebih 21 tahun. Dua puluh satu tahun lalu, dia tidak langsung menjadi perajin barongsai. Namun, dia menjadi pemain barongsai.
"Saat itu saya pertama kali tampil di Hotel Melia Purosani karena ada undangan dari orang Amerika Serikat," kata dia saat ditemui di kediamannya, Selasa (25/1/2022).
Pada awal 2000-an dia baru berani tampil di depan umum lantaran saat masa kepemimpinan Presiden Soeharto, kesenian ini dilarang. Bahkan saat ada pawai barongsai, pemainnya segera kabur karena ketakutan.
"Setelah Soeharto lengser baru mulai menampilkan barongsai, tidak berani gitu lho saat itu. Wong orang pawai saja sambil lari karena pada takut. Ini kan cuma kesenian kok dulu sempat dilarang," paparnya.
Dijelaskannya, kecintaannya terhadap barongsai sudah dirasakan sejak Pak Pong duduk di bangku SD. Kala itu, ia kerap menonton acara barongsai dan liong seusai pulang sekolah. Selain itu pula, lingkungan tempatnya tinggal merupakan pecinan.
"Sehingga sejak saya kecil memang sudah banyak dipengaruhi dengan kebudayaan Tiongkok," katanya.
Kemudian ketika usianya menginjak 20-an, dia berkenalan dengan pria bernama Dul Wahab. Dari Dul Wahab-lah, dia belajar mengenai cara membuat hingga merakit barongsai.
Baca Juga: 6 Fakta Imlek: Shio, Makanan Khas, Barongsai hingga Ditetapkan Menjadi Hari Libur Nasional
"Jadi pas saya masih remaja saya belajar membuat barongsai itu dari Pak Dul Wahab. Saya belajar selama empat bulan mulai dari membentuk rangka sampai mengecatnya," ujar dia.
Pong akhirnya memutuskan untuk berhenti sebagai pemain barongsai karena sudah semakin tua. Lalu pada 2015, dia mulai membuat barongsai ukuran kecil untuk diperjualbelikan.
"Untuk ukuran yang sedang seperti ini dengan panjang sekitar 1,25 meter dijual Rp75.000. Bisa dimainkan untuk dua orang," katanya.
Dalam satu bulan Pak Pong mampu menghasilkan 75 buah barongsai ukuran kecil. Angka ini bukanlah pesanan dari pembeli.
"Saya bisa membuat 75 buah barongsai dalam bentuk siap pakai karena kalau sudah sekali membuat itu keterusan, tidak bisa berhenti. Jadi bukan tergantung jumlah pesanan dari pembeli," imbuhnya.
Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk membuat barongsai meliputi kertas daur ulang, bulu sintetis, dan kayu untuk kerangkanya. Sementara itu, dia juga menerima pesanan untuk membuat barongsai dari rotan yang dihiasi dengan bulu domba.
Berita Terkait
-
6 Fakta Imlek: Shio, Makanan Khas, Barongsai hingga Ditetapkan Menjadi Hari Libur Nasional
-
Imlek 2022, Vihara Amurva Bhumi Jakarta Selatan Tiadakan Pertunjukan Barongsai
-
Sambut Imlek, Plaza Ambarrukmo Hadirkan Rangkaian Event Oriental Carnival Years of Tiger
-
Atraksi Barongsai di Seaworld
-
Sambut Tahun Baru Imlek, Atraksi Barongsai Hibur Pengunjung Mall Pasar Atom Surabaya
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Sausu Tambu: Dari Pesisir Menuju Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Berkat Program Desa BRILiaN
-
Kuasa Hukum Sri Purnomo : Bawa Nama Pihak Lain Dalam Replik Tak Ubah Substansi Perkara
-
Aksi Brutal Pemuda di Sleman, Lakukan Pengeroyokan dan Bakar Motor Pakai Kembang Api
-
Soroti Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, Gus Hilmy: PBB Harus Hukum Israel!
-
Gagal SNBP 2026? Ini 6 Universitas Swasta Islam Terbaik di Jateng dan Jogja yang Bisa Jadi Pilihan