SuaraJogja.id - Para pelaku wisata mulai merasakan dampak PPKM Level 3 di DIY. Para tamu yang sebelumnya sudah melakukan booking atau reservasi akhir membatalkan perjalanan ke Yogyakarta.
Ketua Asosiasi Pelaku Wisata DIY, Wawan Arjuna menuturkan, sejak Senin (7/2/2022) beberapa rombongan yang sebelumnya reservasi mulai mengkonfirmasi jika mereka membatalkan perjalanan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Mereka mengkonfirmasi pembatalan menyusul adanya pemberlakuan PPKM level 3 di beberapa daerah, salah satunya adalah DIY.
Selasa (8/2/2022) pagi ini ia bahkan sudah menerima dua rombongan yang membatalkan reservasi. Jika dihitung jumlahnya mencapai ratusan pax yang sudah melakukan pembatalan. Tentu hal ini cukup merugikan mereka selaku ujung tombak ekonomi DIY.
"Pagi-pagi sudah ada yang cancel perjalanan. Tadi malam juga sudah ada,"tutur dia.
Selain dirinya, ratusan penyedia jasa tour and travel di DIY juga mengungkapkan hal yang sama. Di mana reservasi yang sebelumnya mereka dapat untuk bulan Februari dan Maret ini ternyata juga dibatalkan sepihak. Hal ini tentu membuat industri pariwisata ini dikhawatirkan kembali mandeg.
Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Eryono P mengakui jika PPKM level 3 membuat PHRI galau. Karena saat ini okupansi hotel dan restoran sudah menggeliat dan bisa membuat tambahan saturasi mereka.
"Sebenarnya ini sudah mulai menggeliat. Dan kami sudah bersyukur,"ujar dia.
Saat ini, lanjut dia, rata-rata okupansi di weekday atau hari biasa bisa mencapai 20% sampai 40 % untuk hotel berbintang dan 10 % hingga 30 % untuk hotel non bintang. Sementara di weekend atau akhir pekan okupansi mencapai 40 % sampai dengan 70 % hotel berbintang dan 15 sampai dengan 50% untuk hotel non bintang.
Menurutnya, trauma PHRI adalah anjloknya okupansi bila diterapkan ppkm level 3 seperti yang sudah berlalu. Padahal belum ada yang mengetahui kapan pandemi ini berakhir. Oleh karena itu pihaknya memohon ada insentif dari pemerintah utk mempertahankan hidup PHRI.
Baca Juga: DIY Masuk Wilayah yang Terapkan PPKM Level 3, Ini Penjelasan Pemda
"Kami berharap pandemi ini bisa membuat adaptasi kita berdampingan dengan covid19,"tambahnya.
Tujuannya agar kesehatan dan ekonomi bisa berjalan beriringan tanpa mengorbankankan salah satunya. Karena hal tersebut cukup berjalan dengan protokol kesehatan (prokes) semata.
Dedi berharap ada insentif dari pemerintah karena saat ini banyak biaya yang harus dikeluarkan. Seperti perpanjangan Sertifikat Layak Fungsi (SLF) serta pemerintah bisa membebaskan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) selama 1 atau 2 tahun ini
Kontributor : Julianto
Berita Terkait
-
PPKM Level 3: Kapasitas Restoran dan Mal di DKI Jakarta Hanya 60 Persen
-
Wisata di Daerah PPKM Level 3 Diizinkan Buka, Ini Syarat Lengkapnya
-
Lengkap Aturan PPKM Level 3 Bandung Raya Februari 2022, 25 Persen Karyawan Masuk Kantor, Sisanya WFH
-
Turis Domestik yang Datang ke Bali Melonjak 80 Persen Pada Januari 2022
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Pasien Rumah Sakit di Bantul Ditangkap Polisi Usai Lecehkan Perawat
-
Buntut Foto Wapres Gibran Diturunkan, Kemendagri Hubungi DPRD DIY, Setwan Langsung Evaluasi
-
Bukan Aksi Sepihak, Forum Kebangsaan DIY Klaim Penurunan Foto Gibran Dipelopori Anggota Dewan
-
Ponpes HQ Sukoharjo Digeledah Polisi, Menag Tegaskan Hukum Berbicara
-
Tukang Cukur hingga Warteg Kena Pajak, Sultan Sebut Seperti Zaman VOC