SuaraJogja.id - Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak saat ini semakin meluas di Indonesia. Meski vaksinasi sudah dilakukan, kasus ternak yang terpapar PMK masih saja meningkat.
Siaga PMK Kementerian Pertanian mencatat, kasus PMK sudah ditemui di 21 propinsi atau 231 kabupaten/kota pada Juli 2022 ini. Sebanyak 318.066 hewan ternak sakit dan 2.021 diantaranya mati.
Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNNP) mencatat, sebanyak 257.733 hewan ternak terpapar PMK mati di 21 propinsi. Sedangkan yang ternak yang berhasil sembuh sebanyak 68.112 ekor.
Angka yang cukup fantastis ini terjadi karena pemerintah dianggap gagap dalam menangani kasus PMK di Indonesia. Padahal kasus PMK disinyalir sudah muncul sejak 2015 silam.
"Kalau kemudian sekarang ini kita gagap, harusnya itu tidak perlu terjadi. Sebab dampaknya bisa berakibat fatal, bahkan peternak yang kaya bisa berkurang, yang sedang bisa habis [ternaknya]. Ini yang perlu disadari pemerintah untuk direspon cepat," papar anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika dalam diskusi publik PMK dan Derita Peternak di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (06/07/2022).
Yeka menyebutkan, sekitar tahun 2015, kasus PMK terindikasi kuat sudah masuk ke Indonesia. Kasus PMK pada waktu itu itemukan di Gunung Sindur, Tangeran, Jakarta dan Blora.
Namun pada waktu itu pemerintah terkesan menutup-nutupi kasus tersebut. Padahal bila pemerintah sudah tanggap maka PMK tidak akan menjadi wabah seperti sekarang ini.
"Tapi saat itu kasus ditutup-tutupi sehingga [terjadi] sampai sekarang," ujarnya.
Yeka menambahkan, pemerintah seharusnya bisa membentuk badan karantina dan otoritas veteriner untuk menangani masalah tersebut sebelum wabah meluas. Badan karantina bisa mengatur lalu lintas ternak yang keluar masuk di tiap daerah.
Baca Juga: PMK Mewabah Jelang Idul Adha, DMI Imbau Warga Tak Panik dan Tetap Waspada
Sebab alasan meluasnya wabah karena dari lalu lintas ternak yang tidak terkontrol. Namun ternyata pergerakan ternak masih saja tinggi.
"Jika penanganan di 2015 konsekuensinya dilakukan, mungkin bisa saja [wabah pmk] tidak meluas," paparnya.
Komentar berbeda disampaikan Kepala Balai Besar Veteriner Wates, Hendra Wibawa. Menurut Hendra, PMK baru menyebar di kawasan Asia Tenggara sekitar 2001 di Asia Tenggara. Sedangkan masuk ke Indonesia sekitar tahun 2020 lalu.
"Jika kita bicara epidemiologi terjadi peningkatan [kasus] sejak tahun 2020 di Asia Tenggara," ungkapnya.
Hendra menyebutkan, pemerintah pun juga sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi wabah PMK. Diantaranya membentuk Satgas PMK yang dikepalai oleh Kepala BNPB dan Kementerian Pertanian.
Tiap daerah juga sudah membangun posko untuk mengatur lalu lintas ternak. Hal itu dilakukan sebagai upaya mitigasi.
Berita Terkait
-
DPR Kritik Pemerintah: Penanganan Wabah PMK Lamban, Data Kementan Tak Sesuai di Lapangan
-
Wabah PMK Masih Merebak Jelang Idul Adha, Apakah Bisa Menular ke Manusia?
-
PMK Mewabah Jelang Idul Adha, DMI Imbau Warga Tak Panik dan Tetap Waspada
-
Cerita Miris Pedagang Kurban Rugi Besar karena PMK, Sampai Kembalikan Uang Muka
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- Adly Fairuz Nyamar Jadi Jenderal Ahmad, Tipu Korban Rp 3,6 Miliar dengan Janji Lolos Akpol
- Inara Rusli Lihat Bukti Video Syurnya dengan Insanul Fahmi: Burem, Gak Jelas
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Dana Desa 2026 Terancam Dipangkas, Pengembangan Koperasi Merah Putih di Bantul Terkatung-katung
-
Gengsi Maksimal, Dompet Santai! 4 Mobil Bekas Harga Rp60 Jutaan yang Bikin Melongo
-
Tak Kenal Pelapor, Muhammadiyah Minta Pandji Lebih Cermat dan Cek-Ricek Materi Stand Up
-
Trump Makin Dar-Der-Dor, Pakar Sebut Tatanan Dunia Terguncang, Picu Aksi Teroris
-
Kekecewaan Keluarga Diplomat Arya Daru usai Polisi Setop Penyelidikan, Ada Sederet Kejanggalan