Galih Priatmojo
Jum'at, 09 September 2022 | 13:45 WIB
Ilustrasi kenaikan harga BBM per Sabtu 3 September 2022. [Suara.com/Rochmat]

"Ini artinya akan dibiayai oleh rakyat, sementara rakyat tidak membutuhkan KAC dan IKN. Rakyat butuh harga kebutuhan pokok murah. Jika APBN ingin sehat, maka hentikan proyek IKN dan Kereta Api Cepat," imbuh Lilies.

BLT Turun Tepat Setelah Harga BBM Naik? Lilies Soroti Ini

Disinggung soal BLT sebagai kompensasi atas kenaikan harga BBM, Lilies menilai, turunnya BLT sebenarnya tidak masalah. Karena BLT setidaknya bisa menjadi jaring penyelamat bagi masyarakat miskin. 

"Tapi harus berbasis pada data yang akurat, harus dibangun pula prinsip keadilan. Sehingga beban masyarakat miskin, sebagai kelompok paling terdampak atas kebijakan kenaikan harga BBM ini akan berkurang. Yang jadi masalah selama ini adalah data yang tidak sesuai sasaran, bahkan banyak yang dobel," tegasnya. 

Ke depan, mestinya pemerintah bekerja sesuai perintah konstitusi, menyejahterakan rakyat, harus fokus pada pembangunan ekonomi yang benar-benar untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. 

Infografis riwayat kenaikan harga BBM di era Jokowi. [Suara.com/Ema Rohimah]

Sekarang kita sering dapat argumen dari pemerintah, alasan kenaikan harga BBM karena paling murah, di Singapura Pertamax harganya Rp30.000.

"Iya, tapi berapa pendapatan orang Singapura? pendapatan per kapita Singapura itu $60.000, lah kita cuma $4.000. Jadi secara relatif harga BBM Indonesia jauh lebih mahal dari Singapura," ucapnya.

Komparasi tersebut, lanjut Lilies tidak sepadan. Dalam rate Rupiah, harga BBM memang lebih murah di Indonesia. Namun dalam analisis ekonomi, perhitungan itu tidak berlaku. 

"Dipakai harga relatif dong," tegasnya.

Baca Juga: Massa Ojol dan Mahasiswa Bakal Demo Tolak Kenaikan Harga BBM Lagi Hari Ini, Ribuan Polisi Disiagakan di 3 Lokasi

Kontributor : Uli Febriarni

Load More