Muhammad Ilham Baktora
Jum'at, 11 November 2022 | 08:29 WIB
Ilustrasi bencana hidrometeorologi [Foto: ANTARA]

SuaraJogja.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mencatat berlangsungnya cuaca ekstrem selama sepekan, yakni 1-9 November 2022, telah terjadi sedikitnya 12 kejadian bencana hidrometeorologi di 17 titik.

Dalam laporan BPBD Sleman, yang disampaikan oleh Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan, Bambang Kuntoro, diketahui bahwa bencana yang terjadi terdiri dari angin kencang, longsor, banjir.

Sedikitnya tiga KK dan 14 jiwa terdampak bencana angin kencang lalu dua KK dengan tujuh jiwa terdampak banjir serta delapan KK dengan total 25 jiwa terkena longsor.

Bambang Kuntoro juga membeberkan data kerusakan fisik, mulai dari rumah rusak, bangunan usaha rusak, jembatan ambruk, talut ambrol dan jalanan yang amblas.

Dalam laporan itu, disimpulkan bahwa kerugian yang harus ditanggung oleh Pemkab Sleman akibat cuaca ekstrem tahun ini mencapai Rp356 juta.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengimbau warga agar lebih hati-hati dan waspada. Masyarakat harus menyadari, bahwa Kabupaten Sleman merupakan wilayah potensi rawan bencana.

"Sleman itu rawan bencana, saya mengimbau masyarakat harus waspada. Apalagi nanti bulan Desember-Januari diperkirakan hujan deras dan angin kencang. Sehingga harus mengantisipasi semuanya," kata dia, ditemui di kompleks Pemkab Sleman, Kamis (10/11/2022).

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo - (Kontributor SuaraJogja.id/Uli Febriarni)

Ia menambahkan, sedikitnya ada tujuh bencana yang berpotensi terjadi di Bumi Sembada. Mulai dari longsor, angin kencang, banjir, gempa bumi, banjir lahar dingin, letusan gunung Merapi, tanah bergerak.

"Dan ada satu lagi bencana kebakaran, akibat kelalaian kita," ucapnya.

Baca Juga: Jalan Depan Rumah Erina Gudono di Sleman Dibenahi, Anggaran Perbaikan Capai Rp193 Juta

Di tengah musim hujan tahun ini, Kustini meminta warga lebih peduli terhadap mitigasi bencana, di lingkungan tempat tinggal.

"Kalau ada genting yang rusak diganti, kalau ada retakan-retakan di rumah diperhatikan. Kalau pohon-pohon terlalu rimbun, bisa dipangkas. Seandainya takut tumbang, bisa minta tolong, kami bantu memangkas," ujarnya.

Jembatan ambruk tetap ditangani Pemkab

Pemkab Sleman sudah mulai menangani jembatan penghubung antar padukuhan di Kapanewon Kalasan, yang ambruk karena tergerus banjir.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengungkap, pihaknya masih menunggu kajian dari Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Sleman terkait konstruksi yang tepat untuk jembatan tersebut.

"Apakah menggunakan baja seperti awal atau pakai beton, kombinasi. Konstruksi itu tentu berpengaruh pada nilai [proyek]," ucapnya.

Jembatan itu juga dikaji perihal ukurannya. Akan memiliki ukuran sama seperti aslinya atau diperlebar, sehingga tidak lagi hanya bisa dilewati sepeda motor. Melainkan juga bisa untuk akses mobil.

"Itu sangat tergantung perencanaan dan tergantung ketersediaan anggaran juga," sebutnya.

Makwan menjelaskan, jembatan yang rusak itu merupakan infrastruktur milik lingkungan. Bukan milik Pemerintah Kabupaten Sleman.

Apabila jalan itu milik kabupaten, maka proyek bisa diambil alih oleh Bidang Bina Marga DPU PKP Sleman.

Tetapi, karena bukan milik Pemkab, maka tetap dibutuhkan kajian lebih lanjut serta pembahasan mekanisme yang akan digunakan.

"[Pakai] BTT bisa saja. Kami ada namanya bantuan material untuk masyarakat. Cuma, konstruksinya menunggu kajian. Dan yang berat lagi, di sana itu kan ada masalah fondasi, sungainya pun dalam," terang Makwan.

Diketahui, di lokasi saat ini tubuh jembatan telah dievakuasi sebagian. Sedangkan untuk konstruksi baja, masih harus ditarik dengan bantuan crane.

"Harus dipotong dulu baja-bajanya pakai las. Ditarik pakai crane, kalau manual ndak kuat," ucapnya.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyatakan, DPUPKP Sleman masih mengecek kondisi jembatan yang ambruk karena banjir itu.

Ia memperkirakan, dana yang dibutuhkan untuk perbaikan jembatan tidak memakan jumlah yang terlalu besar. Karena ukuran jembatan yang kecil.

Walau jembatan itu berada di jalan lingkungan, bukan jalan kabupaten, Kustini menyebut DPUPKP akan mencoba menggunakan dana mereka sebagai solusi.

"[Pengerjaannya di-handle Pemkab] Iya, kemarin di PU," ucapnya.

Ia berharap, setelah diperbaiki jembatan itu bisa dipelihara masyarakat dan bisa dimanfaatkan masyarakat untuk akses saat beraktivitas.

Korban jembatan ambruk nyaris hanyut, sempat tertimpa material

Sebelumnya diberitakan, hujan deras yang mengguyur Kabupaten Sleman, Selasa (8/11/2022) petang menyebabkan sebuah jembatan penghubung antar padukuhan di Kapanewon Kalasan, ambruk.

Cara Menyelamatkan Diri Saat Terseret Banjir (Pexels)

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sleman, Bambang Kuntoro menjelaskan, jembatan itu memiliki lebar satu meter dan panjang 10 meter. Merupakan akses penghubung antara padukuhan Sanggrahan dan Dayakan.

"Jembatan tersebut ambruk setelah Sungai Tepus di bawahnya meluap. Akibat peristiwa itu, satu orang dilaporkan sempat hanyut terbawa deras arus sungai," ujarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengungkap, banjir besar yang terjadi di hari itu menyebabkan rumpun bambu dan batang bambu menutupi jalur aliran air. Seketika aliran menjadi mampat.

Setelahnya, aliran air berbelok lalu menggerus pondasi jembatan. Padahal, pondasi memiliki struktur yang tak terlalu baik menahan gerusan air. Mengingat, hanya dibuat secara swadaya oleh masyarakat setempat.

"Lalu ada warga yang menggotong bambu, terperosok. Ada anak 12 tahun menyusul, dia sempat tertimpa batuan juga," kata dia.

"Ada orang nulungi malah kintir arus, untung iso cekelan oyot [Ada orang yang ingin menolong tetapi justru terbawa arus air, beruntung bisa berpegangan pada akar tanaman]," tandasnya.

Kontributor : Uli Febriarni

Load More