SuaraJogja.id - Organisasi profesi kesehatan se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan tegas menolak RUU Omnibus Law Kesehatan masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Hal itu dinilai tak memiliki urgensi yang kuat untuk dilakukan pembahasan sekarang.
Selain itu, ada beberapa hal yang kemudian dikhawatirkan dapat berubah dan berdampak negatif kepada masyarakat serta organisasi profesi sendiri. Salah satunya terkait dengan Surat Izin Praktik (SIP) dokter.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DIY, Joko Murdiyanto menyebut bahwa dalam RUU Omnibus Law Kesehatan itu SIP tidak lagi memerlukan rekomendasi dari organisasi profesi. Sementara rekomendasi dari organisasi profesi itu di Undang Undang yang lama diperlukan untuk mengawal seberapa disiplinnya anggota terhadap pengukuhan disiplin profesinya.
"Kemudian apakah ada catatan-catatan pelanggaran etik. Sehingga kalau tidak ada rekomendasi itu maka akan banyak beredar orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang berpraktik sebagai dokter, dokter gigi dan sebagainya," kata Joko dikonfirmasi, Sabtu (19/11/2022).
Kondisi itu tentu akan berdampak pada masyarakat sendiri terlebih para pasien. Ia bahkan mencontohkan dengan rekomendasi dari organisasi profesi untuk SIP saja masih ada beberapa oknum yang tidak bertanggungjawab.
"Dengan SIP yang harus ada rekomendasi organisasi profesi saja, akhir-akhir ini ada dua, satu dokter dan satu dokter gigi yang praktik sekian tahun, bahkan yang dokter gigi praktik dua tahun tidak ketahuan bahwa itu sebetulnya bukan dokter gigi," ungkapnya.
"Sehingga bayangkan kalau ini tidak ada rekomendasi dari organisasi profesi. Saya kira akan semakin banyak orang-orang yang tidak bertanggungjawab akan menyatakan dirinya [dokter] yang walaupun dia tidak kuliah di fakultas kedokteran kemudian menjadi dokter, tidak kuliah di fakultas kedokteran gigi menjadi dokter gigi," sambungnya.
Selain masyarakat luas, kondisi itu juga dapat merugikan organisasi profesi. Dalam hal ini adalah potensi tercorengnya organisasi profesi akibat dari ulah oknum tak bertanggungjawab itu.
"Organisasi profesi akan terdampak apalagi kalau berkaitan dengan orang-orang yang tadi tidak bertanggungjawab. Kemudian dia praktik itu tentu akan mencoreng nama baik organisasi profesi yang sekarang sudah sangat dipercaya oleh masyarakat," tuturnya.
Pihaknya menyadari organisasi profesi tak luput dari kesalahan. Oleh sebab itu introspeksi senantiasa dilakukan secara berkala.
Tujuannya untuk terus meningkatkan diri apalagi kalau SDM itu mengabdi seumur hidup. Hal itu dilakukan dengan setiap lima tahun dilakukan perbaikan terus menerus.
"Mencari SDM yang baru, dengan salah satu yang harus kita kumpulkan adalah seberapa besar anda bisa meningkatkan kapasitas diri anda. Karena salah satu ciri seorang profesional itu adalah selalu belajar dan belajar untuk meningkatkan diri untuk kepentingan masyarakat," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat
-
Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional
-
Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis
-
Pasca Ramai Seruan Boikot, RANS Carnival di Maguwoharjo Ditinggal Musisi dan UMKM
-
Polresta Sleman Sita 561 Botol Miras Ilegal Selama Oktober 2026