- Demo di Yogyakarta pada Selasa (24/2/2026) dipicu kematian remaja 14 tahun akibat kekerasan oknum aparat di Maluku.
- Massa berhasil merobohkan gerbang timur Polda DIY dan mencoret tembok dengan pesan-pesan radikal sebagai ekspresi kekecewaan.
- Aksi unjuk rasa tersebut berlangsung spontan, tanpa tuntutan tertulis resmi, dan sempat diwarnai kepanikan akibat ledakan misterius.
SuaraJogja.id - Yogyakarta kembali menjadi saksi bisu kemarahan publik terhadap dugaan kekerasan aparat.
Pada Selasa (24/2/2026), aksi unjuk rasa di depan Markas Kepolisian Daerah (Polda) DIY berlangsung mencekam, diwarnai berbagai insiden yang mengejutkan.
Massa yang terdiri dari elemen masyarakat dan mahasiswa meluapkan kekecewaan mendalam atas tewasnya seorang remaja 14 tahun di Maluku akibat kekerasan oknum aparat. Berikut adalah 5 fakta mencekam dari aksi demo tersebut:
1. Pemicu Aksi: Kematian Remaja 14 Tahun di Maluku
Aksi unjuk rasa ini bukan tanpa sebab. Pemicunya adalah kemarahan kolektif atas tewasnya seorang remaja berusia 14 tahun di Maluku akibat kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat.
UD, salah satu peserta aksi, menjelaskan, "Aksi ini adalah bentuk kemarahan masyarakat Yogyakarta terhadap tragedi di Maluku. Ada anak 14 tahun yang tidak bersalah, sedang mengendarai motor, tiba-tiba kepalanya dihantam helm hingga tewas."
Tragedi ini menjadi titik didih bagi masyarakat Yogyakarta yang merasa mosi tidak percaya terhadap janji reformasi di tubuh Polri semakin menguat.
Mereka menilai, aksi serupa yang pernah digelar pada 29 Agustus 2025 lalu tidak membawa perubahan signifikan terhadap perlindungan hak asasi manusia maupun perilaku aparat di lapangan.
2. Gerbang Polda DIY Roboh Didesak Massa
Baca Juga: Imbas Jembatan Kewek Ditutup, Polisi Siapkan Skema Dua Arah di Sekitar Gramedia-Bethesda
Ketegangan di depan Mapolda DIY mencapai puncaknya pada pukul 18.43 WIB. Massa yang terus berdatangan dan merapat ke pintu gerbang sisi timur melakukan aksi dorong-dorongan dengan barikade keamanan.
Water barrier yang semula disusun pihak kepolisian langsung dibongkar oleh massa. Akibat desakan massa yang semakin solid, pintu gerbang sisi timur Polda DIY akhirnya roboh.
Insiden ini menjadi simbol kuat dari kemarahan dan kekecewaan yang tak terbendung, menunjukkan betapa seriusnya tuntutan yang disuarakan oleh para demonstran.
3. Tembok Polda DIY Dicoreti Pesan Protes Radikal
Selain merobohkan gerbang, sejumlah massa juga meluapkan kekecewaan mereka dengan mencoret-coret tembok bagian luar Mapolda DIY. Tulisan seperti 'All Cops Are Bastard' hingga 'Pembunuh' sudah menghiasi tembok markas kepolisian tersebut.
Coretan-coretan ini bukan sekadar vandalisme, melainkan ekspresi langsung dari kemarahan kolektif dan pandangan bahwa kekerasan aparat bukan lagi tindakan oknum semata, melainkan masalah institusional yang bersifat sistemik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Rudy Masud Senyum Semringah Bersama Istri di Singapura, Media Asing: Rakyatnya Sesak Nafas
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
Pilihan
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bungkam usai Viral Sarapan di Singapura
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
Terkini
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Muhammadiyah Tegas Minta KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi BNPB
-
Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan jadi Tanda Peradaban Kita Belum Akil Balig
-
75 Persen Responden Stres Hadapi Kebijakan Prabowo, Haedar Nashir Desak Pemerintah Berbenah
-
Film Empat Musim Pertiwi: Saat Realitas Penyintas Kekerasan Seksual Bertemu Fiksi Sinematik