SuaraJogja.id - Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menyelenggarakan acara dialog budaya pada Rabu (5/7/2023). Acara bertajuk Festival Budaya Godong Opo - Opo ini diselenggarakan di Warung Bakmi Jowo Mbah Gito, salah satu destinasi kuliner tradisional populer di Yogyakarta.
Salah satu agendanya adalah bedah buku "Jangkar, Jangka, & Jangkah Kebudayaan". Buku ini diterbitkan pada Desember 2022 lalu dan tak diperjualbelikan secara bebas.
"Buku ini sangat sayang kalau hanya disimpan di lemari atau perpustakaan. Ada baiknya buku ini diketahui lebih luas oleh masyarakat umum," ungkap Ki Prijo Mustiko, Ketua Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara.
Budayawan sekaligus dosen Fakultas Filsafat UGM, Ki Sindung Tjahjadi, serta Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat, Octo Lampito, menjadi pembicara pada ajang bedah buku tersebut.
Festival Budaya Godong Opo - Opo juga dimeriahkan Pakeliran Padat Wayang Babad oleh Ki Mbulus Eko Suryo. Acara yang kental budaya Jawa ini dihadiri banyak tamu penting dari berbagai kalangan dan turut disaksikan oleh pelanggan Warung Bakmi Jowo Mbah Gito.
Sempat beberapa kali digelar sebelumnya, Festival Budaya Godong Opo - Opo sempat harus berhenti sejenak selama 3 tahun karena pandemi Covid-19. Pemilihan nama Godong Opo - Opo pun sangat syarat makna filosofis.
Nama Godong Opo - Opo diambil dari tradisi budaya Jawa saat pernikahan. Di depan rumah mempelai wanita, biasanya akan ada banyak tanaman yang dipasang, salah satunya disebut godong opo-opo. Ini adalah simbol ketika pengantin mengarungi rumah tangga, akan ada 'opo-opo' atau masalah yang harus dihadapi untuk menuju kebahagiaan.
"Dari filosofi itulah kita ambil maknanya, festival ini membicarakan apa saja tentang budaya," ungkap Ki Prijo Mustiko.
Acara ini juga didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Harapannya Festival Budaya Godong Opo - Opo dapat menjadi salah satu wadah untuk mendekatkan masyarakat umum pada kebudayaan Yogyakarta.
Baca Juga: Menjadi Single Parent dan Merawat Putri Semata Wayangnya, Aura Kasih: Anakku Butuh Figur Ayah
"Semoga dengan festival ini bisa memberikan nilai positif pada masyarakat khususnya di sekitar lingkungan ini, Rejowinangun," ungkap Yuliana Eni Lestari Rahayu selaku Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga, dan Seni Dinas Kebudayaan Yogyakarta.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Sri Sultan Absen dari Agenda Pemerintahan, Paku Alam X Ditunjuk Jadi Plh Gubernur DIY
-
Rp4,6 Miliar Digelontorkan, Mesin Produksi Susu di DIY Diduga Tak Pernah Berfungsi
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Pameran ARCHIVEPELAGO: 45 Tahun Garin Nugroho Menyemai Indonesia
-
Segera Diadili Pengadilan, 13 Tersangka Kasus Little Aresha Dipindah ke Lapas Perempuan Gunungkidul