Seperti diketahui Udin meninggal pada 16 Agustus 1996 setelah mengalami kekerasan oleh sekelompok orang tak dikenal tiga hari sebelumnya.
Diduga bahwa pembunuhan ini berkaitan dengan tulisan kritis jurnalistik yang telah ditulis oleh Udin sebelumnya.
Ia telah mengungkap kasus korupsi mega proyek Parangtritis serta suap suksesi Bupati Bantul Sri Roso senilai Rp1 miliar kepada Yayasan Dharmais yang dimiliki oleh Presiden Soeharto pada saat itu.
Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan oleh wartawan Bernas yang tergabung dalam Tim Kijang Putih dan Tim Pencari Fakta dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Yogyakarta, terdapat indikasi bahwa Udin telah dibunuh akibat tulisan-tulisan kritisnya mengenai korupsi di Bantul.
Meskipun sudah banyak usaha hukum dan advokasi dilakukan, termasuk memberikan hasil investigasi kepada pihak kepolisian, namun kepolisian tetap berpegang pada keyakinan bahwa Iwik adalah pelaku dalam kasus ini.
Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung, Artidjo Alkostar, telah menegaskan bahwa kasus pembunuhan Udin tidak akan preskripsi. Menurutnya, karena belum ada terdakwa yang telah dihukum bersalah oleh hakim, maka kasus ini tidak akan kehilangan batas waktu hukumnya selama 18 tahun.
"Merupakan sesuatu yang tidak masuk akal jika kasus Udin dikatakan akan preskripsi," kata Artidjo dalam sebuah diskusi di Aula Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, pada hari Kamis (26/12/2013).
Artidjo juga telah menyuarakan pendapat ini dalam diskusi mengenai kasus Udin di Dewan Pers beberapa waktu sebelumnya. Menurutnya, semua pihak dalam diskusi tersebut setuju bahwa kasus Udin tidak akan pernah melampaui batas waktu hukumnya.
Kasus kekerasan yang dialami jurnalis, sejatinya tak hanya dirasakan oleh Udin.
Koordinator Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ), Erick Tanjung menyebut, selain kasus Udin (1996), AJI Indonesia mencatat ada delapan jurnalis lain yang mati dibunuh karena berita. Delapan kasus di antaranya dikategorikan dark number.
"Tapi hanya satu kasus yang pelakunya tuntas diproses hukum," ujarnya.
AJI Indonesia juga mencatat sejak 2006 hingga 2022 terjadi 935 kasus kekerasan terhadap jurnalis.
Tren serangan terhadap jurnalis ini terus bertambah dari tahun ke tahun. Pada 2022 tercatat 61 kasus dengan 97 korban dari jurnalis, pekerja media dan 14 organisasi media. Jumlah kasus ini meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 43 kasus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Pasca Ramai Dugaan Diskriminasi Siswa, Disdikpora DIY Wajibkan Sekolah Sediakan Ruang Belajar Agama
-
Usai Menang Praperadilan, Raudi Akmal Terlihat Langsung Turun ke Masyarakat
-
Kisah Rosidah di Sumenep, UMKM Gula Merah Tumbuh Pesat Setelah Memanfaatkan KUR BRI
-
Gawat! DIY Tak Punya Anggaran Dropping Air, Empat Kabupaten Sudah Alami Kekeringan
-
Tegas! 17 SPPG di DIY Ditutup, Buntut Kasus Keracunan hingga Masalah Izin