SuaraJogja.id - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta akan membangun empat ruang terbuka hijau (RTH) publik baru pada tahun 2024. RTH publik yang dibangun berbasis kampung itu berdasarkan usulan masyarakat di tiap wilayah.
"Untuk tahun ini rencananya pembangunan ruang terbuka hijau publik di empat lokasi. Semua itu usulan dari masyarakat," kata Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau Publik DLH Kota Yogyakarta Rina Aryati Nugraha pada Minggu (4/2/2024).
Rina merinci empat lokasi untuk pembangunan RTH publik itu merupakan lahan warga yang telah dibeli oleh Pemkot Yogyakarta. Empat RTH publik baru itu akan dibangun di wilayah RW 4 Kricak seluas 200 meter persegi, RW 9 Bausasran 300 meter persegi, RW 4 Sorosutan 332 meter persegi dan RW 14 Sosromenduran 452 meter persegi.
Pembangunan RTH publik terbaru ini, disebutkan Rina masih akan mengusung konsep sama sepeerti sebelumnya yakni multifungsi. Mulai dari fungsi ekologis dengan penanaman pohon serta aktivitas masyarakat melalui fasilitas pendopo.
"Untuk yang di permukiman konsepnya RTH publik multiguna. Dari segi ekologis harus banyak pohon dan tanaman tapi bisa untuk kegiatan masyarakat seperti kegiatan olahraga, bermain anak, kadang untuk posyandu macam-macam," terangnya.
Berdasarkan catatan DLH Kota Yogyakarta hingga Desember 2023 sudah ada total sebanyak 58 RTH publik berbasis kampung yang telah dibangun. Sedangkan total luas RTH keseluruhan di Kota Yogyakarta baik publik dan privat seluas 7.661.163 meter persegi.
Angka itu sekitar 23,34 persen dari luas Kota Yogyakarta. Pembangunan RTH publik baru itu menjadi upaya Pemkot Yogyakarta untuk memperbanyak ruang hijau sekaligus tempat untuk kegiatan masyarakat.
"Dari sisi RTH publik, pemkot berusaha semaksimal mungkin untuk menambah tapi dengan keterbatasan dana dan lahan. Kami mohon ada partisipasi dari sisi privat mungkin dari rumah-rumah, hotel, perkantoran kami harap bisa sedikit menyisakan lahan hijau untuk menanam pohon untuk penyerapan air, suplai oksigen membersihkan udara di sekitar. Ini juga untuk mengurangi pemanasan global yang sudah kita rasakan," tuturnya.
Bagi masyarakat yang kondisi rumahnya tidak memiliki lahan bisa mencoba alternatif lain. Misalnya dengan membuat ruang hijau melalui menanam dalam pot dan pergola.
Baca Juga: Simak Lokasi Kantong Parkir di Kota Jogja saat Malam Pergantian Tahun 2024
Disebutkan Rina, pembangunan empat RTH publik baru dan penambahan fasilitas pelengkap di RTH publik Wirobrajan menggunakan dana APBD Kota Yogyakarta tahun 2024. Setiap pekerjaan RTH publik itu menggunakan anggaran rata-rata kurang dari Rp 200 juta.
"Karena dana anggarannya terbatas dan permintaan pembangunan RTH publik dari masyarakat cukup banyak, jadi kami bagi-bagi berdasarkan skala prioritas dan antrean proposal usulan. Memang belum sempurna, seperti sarana permainan belum karena menyesuaikan anggaran. Tapi yang penting sudah bisa untuk berkegiatan masyarakat dan fungsi ekologisnya," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 4 Pilihan HP OPPO 5G Terbaik 2026 dengan RAM Besar dan Kamera Berkualitas
- Bojan Hodak Beberkan Posisi Pemain Baru Persib Bandung
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Apa itu Whip Pink? Tabung Whipped Cream yang Disebut 'Laughing Gas' Jika Disalahgunakan
Pilihan
-
Sah! Komisi XI DPR Pilih Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI
-
Hasil Akhir ASEAN Para Games 2025: Raih 135 Emas, Indonesia Kunci Posisi Runner-up
-
5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
Terkini
-
Kejari Sleman Isyaratkan Segera Umumkan Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Heboh Kasus Hogi Minaya, Karena Bikin Dua Jambret di Sleman Tewas, Sri Sultan Angkat Bicara
-
Kawal Kasus Hogi, JPW Singgung Aturan KUHAP Baru dan Batas Waktu SKP2
-
Swiss-Belhotel Airport Yogyakarta Gelar Fun Kids Swimming Competition
-
Daya Beli Turun, UMKM Tertekan, Pariwisata Jogja Lesu, Pelaku Usaha Dipaksa Berhemat