Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo
Sabtu, 29 Juni 2024 | 10:38 WIB
Endang salah satu sosok yang pulih dari disabilitas psikososial melalui pusat rehabilitasi YAKKUM.

"Kami menggunakan pendekatan yang berbeda, karena jika selama ini kesehatan jiwa dipandang sebatas dalam aspek kesehatan saja, maka dalam program yang kami jalankan program ini kemudian menitikberatkan kepada layanan-layanan multi unsur. Selain melakukan pendekatan sosial, kami juga memastikan adanya kebijakan yang lebih berpihak untuk isu kesehatan jiwa," kata Anggre.

Program kesehatan jiwa berbasis masyarakat yang diinisiasi Pusat Rehabilitasi YAKKUM ini memberikan pendampingan kepada ODDP agar dapat meningkatkan kualitas hidup dan terintegrasi dalam sistem di masyarakat.

"Wilayah yang kami layani ada di tiga kabupaten. Yang pertama Sleman, Gunung Kidul dan juga di Kulon Progo, berkolaborasi dengan 21 desa dan juga berkolaborasi dengan pemerintah kecamatan," pungkasnya.

Anggre menjelaskan, di 21 desa tersebut Pusat Rehabilitasi YAKKUM bekerja sama dengan desa, kader, dan puskesmas memfasilitasi Kelompok Swabantu sebagai wadah untuk mengelola diri dan melatih komunikasi bagi orang dengan disabilitas psikososial dan keluarga.

Baca Juga: Mediasi Buntu, Vendor Snack Pelantikan KPPS Sleman Tambah Daftar Tergugat

Kegiatan tersebut, lanjut Anggre, bertujuan untuk mendukung orang dengan disabilitas psikososial dan pendamping dalam meningkatkan pentingnya dukungan sosial serta memotivasi keluarga serta masyarakat dalam peningkatan perawatan intensif bagi ODDP.

"Dalam Kelompok Swabantu ini tentu yang menjadi aktor utamanya adalah teman-teman disabilitas psikososial dan pendamping, tetapi juga ada peran kader desa sebagai mitra utama kami," ungkapnya.

Para kader kesehatan jiwa dan pemerintah desa akan menjadi ujung tombak keberlanjutan Kelompok Swabantu yang di 21 desa tersebut. Sehingga, harapannya ke depan penganggaran desa tidak hanya berpaku kepada pembangunan infrastruktur, tetapi juga program-program yang lebih menitikberatkan pemberdayaan.

"Kami sangat berharap modelling yang sudah kami bangun di 21 desa ini nantinya dapat direplikasi atau menjadi acuan bagi desa lain di Yogyakarta. Tentunya dengan dukungan pemerintah di tingkat kabupaten dan provinsi," imbuhnya.

Baca Juga: Sleman Luncurkan Rumah Pangan B2SA, Tekan Stunting dan Perbaiki Gizi Masyarakat

Load More