SuaraJogja.id - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin kembali menyoroti kasus perundungan atau bullying di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran. Menurutnya berbagai kasus bullying itu sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
"Ini bullying ini sudah ada puluhan tahun, menurut saya itu bukan cara yang baik mendidik para dokter-dokter kita," kata Budi ditemui di Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), Rabu (4/9/2024).
Sistem untuk menangkal kasus-kasus bullying itu pun, kata Budi sebenarnya sudah ada. Namun penindakan tegas termasuk memberi hukuman yang tak dilaksanakan itu membuat sistem tersebut tidak berjalan.
"Ini di Indonesia itu semua aturan ada. Memang ada sistemnya dan sistem itu harus bisa membedakan secara jelas. Jadi nanti di sini kita akan lakukan itu ke polisi supaya memang ya kalau benar kita jaga kalau salah harus dihukum," ujarnya.
"Indonesia itu biasanya kalau sudah suruh menghukum itu yang susah, itu akibatnya sistem yang ada tidak pernah jalan," imbuhnya.
Budi menyebut jika memang hukum atau aturan itu ditegakkan dengan baik maka sistem tersebut akan berjalan pula. Sekaligus menjadi percontohan masyarakat di lingkungan kedokteran itu sendiri.
"Kalau itu dihukum saya rasa orang Indonesia kan lihat 'oh ini baik ini tidak baik', kalau tidak baik dihukum dengan demikian mereka akan memilih jalan yang baik," tuturnya.
Disinggung terkait dugaan pemalakan dr. Aulia oleh seniornya pada PPDS, Budi mengakui memang sudah ada angkanya. Namun saat ini semua sudah diserahkan ke kepolisian.
"Iya angkanya ada, angkanya ada tapi nanti karena itu sudah sampai di polisi biarin ke polisi aja," tegasnya.
Baca Juga: Terjadi Dugaan Perundungan Siswa SD Elit Berjejaring Nasional di Gunungkidul, Polisi Periksa 7 Anak
Diketahui, Kemenkes menemukan dugaan jika dr. Aulia yang juga dipalak oleh seniornya pada PPDS. Korban yang disebut sebagai bendahara angkatan dalam PPDS di Undip disebut menerima pungutan dari teman seangkatannya untuk diserahkan kepada senior. Pemalakan tersebut dijelaskan berkisar Rp20-40 juta per bulan.
Berita Terkait
-
Yogyakarta Bergerak Lawan Bullying, 10 Sekolah jadi Pilot Project Cegah Perundungan
-
Lautan jadi Ruang Persalinan, Mahasiswa KKN UGM Selamatkan Nyawa Ibu dan Bayi di Pulau Liki
-
Kementerian Kesehatan hingga BKKBN Gelar High Level Meeting, Fokus Integrasikan Sejumlah Rencana Kesehatan
-
Terjadi Dugaan Perundungan Siswa SD Elit Berjejaring Nasional di Gunungkidul, Polisi Periksa 7 Anak
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP POCO RAM Besar dan Kamera Bagus, Cek di Sini!
- Promo Alfamart Hari Ini 30 April 2026, Tebus Suka Suka Diskon 60 Persen
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Sepatu Lari Diadora Diskon 50 Persen di Sports Station, Harga Jadi Rp200 Ribuan
- 5 Cushion Matte untuk Menutupi Bekas Jerawat dan Noda Hitam, Harga Terjangkau
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Peringatan Dini BMKG: Akhir Pekan di Jogja Berpotensi Hujan Badai Petir dan Angin Kencang
-
Wajib Coba! 7 Kuliner Legendaris Jogja Paling Dicari Wisatawan, Lengkap Pagi hingga Malam
-
BBRI Masih Menarik di Tengah Tekanan Saham Bank, Fundamental Kuat Jadi Andalan
-
UMP Jogja Masih Rendah, Buruh Lelah Suarakan Kenaikan Upah dan Kesejahteraan saat May Day
-
Sahid Tour Siap Berangkatkan 492 Jamaah Haji, Beri Bekal Lewat Program Manasik 3 Hari