Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Ilham Baktora | Hiskia Andika Weadcaksana
Minggu, 08 September 2024 | 21:20 WIB
Masyarakat Kampung Tompeyan Kelurahan Tegalrejo Kota Yogyakarta mengembangkan Kebun Tegal Anggur. (dok.Istimewa)

SuaraJogja.id - Lahan terbatas tidak menyurutkan semangat masyarakat Kampung Tompeyan Kelurahan Tegalrejo Kota Yogyakarta untuk terus berkarya. Buktinya kini hanya memanfaatkan halaman rumah warga, budidaya anggur yang dirintis sejak beberapa tahun lalu sudah berkembang pesat.

Ketua Kelompok Tanaman Buah Dalam Pot Kota Yogyakarta, Eka Yulianta menuturkan bahwa pengembangan budidaya tanaman dan bibit anggur ini sudah dilakukan sejak awal pandemi Covid-19 hingga tahun 2024. Sejak awal pembibitan, masyarakat memanfaatkan halaman rumah yang ada untuk menanam anggur dan menyemai menjadi bibit anggur.

Hasilnya pun sudah dapat dirasakan sekarang, setidaknya pada awal pembibitan ada sekitar 120 jenis anggur. Untuk saat ini Kebun anggur atau yang dinamai Tegal Anggur berfokus pada jenis anggur yang mudah berbuah.

"Jadi kami ini sering menerima tamu dimana kegiatannya utamanya petik buah anggur, tamu datang ke sini untuk melihat buah jadi harus ada anggur yang berbuah tidak peduli jenisnya apa," kata Eka, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Pola Hidup Tak Sehat, Biang Kerok Tingginya Diabetes di Yogyakarta

Berbagai jenis anggur dikembangkan menjadi bibit di Kebun Tegal Anggur Tompeyan. Ada sekitar 50 jenis varian anggur yang ditanam dan dikembangkan bibitnya antara lain tamaki, ninel, nizina, bogema, trans, dixon serta julian.

"Kalau untuk saat ini hanya ada sekitar 50-an jenis buah anggur yang kami kembangkan," imbuhnya.

Pembibitan tanaman anggur itu dilakukan mulai dari stek batang tanaman anggur yang sudah dibuahi. Nantinya pengunjung dapat memetik sendiri buah anggur di lokasi.

"Dari melihat dan memetik buah, kemudian apa yang akan dibawa pulang," ucapnya.

Selain itu, warga turut berinovasi dengan produk olahan dari buah anggur. Mulai dari selai hingga sirup buatan warga bisa juga dinikmati.

"Kami juga membuat beberapa produk turunan dari buah anggur itu sendiri. Kalau makan di sini kami buatkan buntil daun anggur. Ada produk keripik daun anggur, sambal anggur, selai dan sirup," tuturnya.

Baca Juga: Dinyatakan Lolos Tes Kesehatan, Tiga Bakal Paslon di Pilkada Kota Yogyakarta Masih Diminta Perbaiki Berkas Pencalonan

Sementara itu Penjabat Wali Kota Yogyakarta Sugeng Purwanto memberikan apresiasi masyarakat Kampung Tompeyan. Dia menilai masyarakat cukup berhasil dalam mengembangkan Kebun Tegal Anggur.

Menurutnya, keberadaan Kebun Tegal Anggur sebagai bukti bahwa pertanian dapat dilakukan dimanapun termasuk di tengah perkotaan.

"Kampung Tompeyan itu sudah berhasil menjadi percontohan, di lahan yang se-sempit ini dengan kontur tanah yang seperti ini [di pinggir sungai dan full paving blok] bisa memiliki kebun buah anggur," tutur Sugeng.

Disampaikan Sugeng, dalam bertani sudah tidak ada alasan lahan sempit. Masyarakat hanya perlu menumbuhkan niat untuk bertani dan adaptif terhadap lingkungan di sekitarnya.

"Di lahan sempit, di perkotaan seperti ini pilihlah tanaman yang bisa tumbuh di lahan sempit dengan hasil yang memiliki nilai ekonomi tinggi," ucapnya.

Sugeng mengatakan konsep pertanian di tengah perkotaan harus mampu memanfaatkan dan mengoptimalkan tanah yang hanya sejengkal. Pihaknya juga mendorong masyarakat agar mampu menangkap hilirisasi.

Menciptakan sebuah produk dengan mengambil bahan pokok dari daerah lain di luar Kota Yogyakarta. Namun diolah dan dipasarkan di Kota Yogyakarta.

"Masyarakat Kota Yogyakarta harus memiliki kemenangan. Harus bisa menghasilkan produk-produk yang unik, out of the box dan berbeda dengan daerah-daerah lainnya sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi," ujar dia.

Load More