SuaraJogja.id - Kondisi telaga-telaga di Gunungkidul saat ini membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Sejumlah telaga dilaporkan mengalami penurunan debit air bahkan kekeringan. Perubahan pola pemanfaatan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjadi pemicu telaga-telaga di Gunungkidul banyak terbengkalai.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Hari Sukmono, menjelaskan bahwa perubahan pola pemanfaatan air oleh masyarakat menjadi salah satu penyebab utama kondisi ini. Saat ini, anyak masyarakat yang memanfaatkan air permukaan melalui PDAM atau program Pamsimas.
"Akibatnya, sumber air di telaga yang selama ini menjadi bagian dari kearifan lokal mulai kurang terpelihara,” ujarnya, Rabu (1/1/2025).
Menurut Hari, banyak telaga yang kehilangan fungsi ekologisnya karena tertutup endapan atau tertutupi oleh tanaman di sekitar. Hal ini menghambat munculnya sumber air alami di telaga tersebut.
Oleh karena itu, dia menilai perlunya kembali melakukan upaya untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya melestarikan telaga, termasuk menjaga daerah tangkapan air. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan sumber air di wilayah ini.
Hari Sukmono juga menyebutkan perlunya inovasi teknologi untuk memanen air hujan sebagai salah satu solusi. Karena dahulu, masyarakat Gunungkidul memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan teknologi baru, seperti bak penampungan air yang lebih efisien, maka masyarakat bisa mengoptimalkan sumber daya yang ada.
"Air hujan memiliki pH yang aman untuk dikonsumsi, sesuai kajian yang dilakukan oleh pakar dari UGM,” tambahnya.
Sekretaris Daerah Gunungkidul, Sri Suharyanta, menegaskan bahwa pemerintah telah berupaya meningkatkan akses air bersih dengan berbagai program infrastruktur. Pihaknya telah membangun sistem perpipaan melalui PDAM dan Pamsimas, serta menjalin kerja sama dengan Kementerian PUPR.
"Salah satu program unggulannya adalah Instalasi Pengolahan Air [IPA] di Eropa Timur yang sudah berfungsi untuk menyediakan air bersih," jelas Sri.
Baca Juga: Destinasi Baru jadi Magnet Wisatawan, Gunungkidul Raup PAD Rp1,4 Miliar
Selain itu, pemerintah juga melaksanakan konservasi melalui penanaman pohon di sekitar telaga, termasuk flamboyan, untuk meningkatkan daya serap dan kualitas lingkungan sekitar.
Hanya saja, meskipun berbagai upaya telah dilakukan, pemerintah menyadari bahwa konservasi telaga memerlukan kerja sama semua pihak, termasuk masyarakat dan investor.
"Setiap investasi yang masuk ke Gunungkidul harus melalui kajian lingkungan yang ketat untuk memastikan keberlanjutan fungsi hidrologi," tegas Sri Suharyanta.
Dengan kombinasi pendekatan konservasi, teknologi, dan edukasi masyarakat, pemerintah optimis bahwa dilema telaga di Gunungkidul dapat diselesaikan. Langkah ini tidak hanya akan memastikan ketersediaan air bersih tetapi juga menjaga ekosistem alami yang menjadi warisan penting bagi wilayah ini.
Kontributor : Julianto
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Fakta Pahit Buruh Pengupas Bawang di Jogja, Kerja Seharian Hanya Diupah Rp3 Ribu
-
Ospek Bukan Ajang Perpeloncoan, Rektor UNY: Perlakukan Mahasiswa Sebagai Raja-Ratu
-
BRI Cetak Rekor MURI: Hadirkan Kredit Kendaraan Serentak di 131 Lokasi
-
Dokter dan Nakes Viral Komentar Nirempati, FKKMK UGM Sebut Pembekalan Etika Bermedsos Sejak Maba
-
Dinkes DIY Siapkan 240 Kg Obat untuk Korban Gempa NTT, Pastikan Stok Jogja Tak Tertanggu