SuaraJogja.id - Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman mencatat ada 30-40 persen sekolah dasar (SD) negeri di wilayahnya memerlukan perhatian serius terkait kondisi bangunan.
Hal ini terungkap usai insiden atap ruang kelas VI Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kledokan, yang berada di Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Sleman ambrol pada Minggu (4/5/2025) dini hari. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Sri Adi Marsanto, menuturkan bahwa prosentase itu diambil dari total 374 SD Negeri yang ada di Bumi Sembada.
Adi bilang informasi terkait kelaikan bangunan sekolah itu dihimpun dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang dilaporkan oleh masing-masing satuan pendidikan.
"SD Negeri total 374, kalau berdasarkan dapodik itu, sebenarnya berharap diisi dengan jujur dan up to date," kata Sri Adi ditemui di SDN Kledokan, Senin (5/5/2025).
Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya keakuratan data dalam sistem Dapodik untuk memotret kondisi riil sekolah-sekolah.
Dijelaskan Adi, bahwa prasarana yang dimaksud mencakup dua aspek utama, yaitu kondisi fisik bangunan serta peralatan atau perabotan di ruang kelas.
"Itu yang ngisi kan nanti dari satuan pendidikan, cuma kalau saya prosentase mungkin ada sekitar 30-40 persen yang memang perlu perhatian khusus secara kondisi bangunan," ungkapnya.
Pihak Disdik Sleman pun mengaku rutin melakukan pemutakhiran data melalui Dapodik.
Baca Juga: SDN Kledokan: Atap Kelas Ambrol, Siswa Kelas 1-3 Belajar di Rumah, MBG Jalan Terus
Namun, Adi mengakui ada keterbatasan dalam mendeteksi kerusakan tersembunyi, seperti di bagian atas plafon atau di bawah atap, yang sulit terjangkau oleh pemeriksaan visual biasa.
"Seperti ini memang secara berkala kita sudah update Dapodik, tapi ada mungkin bagian-bagian tertentu yang mungkin secara detail kita tidak bisa mengcover karena di atas plafon, di bawah genteng," terangnya.
Sebagai langkah tindak lanjut atas insiden ambrolnya atap salah satu kelas di SDN Kledokan itu, Disdik Sleman telah menginstruksikan kepada bidang teknis untuk segera meminta seluruh sekolah memperbarui data kondisi sarana dan prasarana masing-masing.
Adi bilang targetnya, pemutakhiran data itu sudah harus rampung dalam dua minggu ke depan. Sehingga dapat dipetakan kembali sekolah-sekolah yang diperlukan perbaikan.
"Ke depan, dua minggu ke depan, kami sudah ingatkan ke bidang teknis untuk mengingatkan lagi ke satuan pendidikan untuk mengupdate Dapodik kondisi sarpras, ketersediaan sarpras di satuan pendidikan, dalam dua minggu ke depan selesai," tegasnya.
Adi berharap pembaruan data ini dapat mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari. Ia menekankan bahwa pencegahan kerusakan bangunan harus dilakukan sejak dini melalui identifikasi kondisi fisik sekolah yang lebih detail dan berkala.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
Pilihan
-
Reshuffle Kabinet: 'Orang Jokowi' Tersingkir, Sugiono Disebut Rangkap Jadi Menko PMK
-
Diberhentikan dari Kapolri, Listyo Sigit Prabowo Disebut Bakal Jadi Kepala KSP
-
Listyo Diberhentikan, Suyudi Dilantik Prabowo Siang Ini Jadi Kapolri Baru Usai Disetujui DPR
-
Listyo Sigit Prabowo Segera Diganti, DPR Setujui Komjen Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
Terkini
-
DIY Masuk Periode Kekeringan Berkepanjangan, Tiga Kabupaten Dibayangi Kebakaran
-
Raih Ekstra 27.000 GarudaMiles dari Transaksi dengan BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas
-
Kemarau Diprediksi hingga Desember, Kulon Progo Perpanjang Siaga Kekeringan
-
Cara PIMPASA Imigrasi Yogyakarta Cegah Perdagangan Orang Lewat Pangan dan Wayang
-
Direproduksi Antar Generasi, 200 Lebih Kasus Bullying Terjadi di Kota Jogja