Angka ini jauh di bawah okupansi saat libur Idul Fitri yang mencapai 75 persen.
"Menurut BMKG, masih gelap dan berawan. Okupansi hanya 20–40 persen, padahal ini libur panjang. Kita berharap naik tanggal 7–8 Juni ini, tapi sampai sekarang reservasinya belum kelihatan," ungkapnya.
Deddy menyebutkan, keberadaan homestay dan vila yang lebih murah dimungkinkan yang menjadi pilihan utama wisatawan saat ini ketimbang menginap di hotel. Apalagi homestay dan vila seringkali tidak dibebani pajak dan izin seperti hotel berbintang.
Karenanya PHRI DIY mendesak agar pemerintah pusat tidak hanya memberi izin secara administratif, tapi juga melonggarkan kebijakan efisiensi anggaran yang selama ini membelenggu belanja Pemda.
Terlebih dampak kebijakan efisiensi anggaran tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha.
Namun juga terhadap tenaga kerja, supplier, hingga pelaku UMKM yang menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata.
"Kalau pemerintah pusat memang serius, jangan hanya membolehkan, tapi juga longgarkan anggaran Pemda. Tanpa itu, bagaimana bisa jalan? Anggarannya sudah digeser untuk program lain. Kami ini punya multiplier effect. Kalau hotel bisa jalan, tenaga kerja, pemasok makanan, hingga UMKM juga hidup. Ini bukan hanya soal kita, tapi soal ekonomi daerah secara keseluruhan," tandasnya.
Secara terpisah Cluster Marketing Communication Manager Wyndham Garden Yogyakarta, Anna Mariam Rahagi, menyatakan, hotel menyambut baik pelonggaran kebijakan rapat instansi pemerintah di hotel.
Namun belum adanya kepastian efisiensi anggaran dari pusat, hotel kini harus fleksibel dan menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi.
Baca Juga: 6 Juni 2025 Idul Adha Serentak, MUI DIY Ingatkan Soal Takbir Tertib dan Solidaritas Sosial
Alih-alih berharap terlalu banyak pada pasar pemerintahan, Wyndham Garden memilih untuk melakukan shifting market (mengubah strategi pasar). Yakni menyasar wisatawan umum dan menggandeng komunitas lokal.
Hotel itu membuat paket-paket desa wisata dan menggandeng UMKM seperti Pasar Gebrag selama Juni 2025 ini. Acara mingguan ini mengangkat produk lokal dari para pelaku UMKM sekaligus menjadi ruang interaksi yang santai, meriah, dan terbuka untuk semua kalangan.
"Kami sudah shifting market. Kami kerja sama dengan desa wisata dan tempat-tempat wisata lain untuk bikin paket yang memudahkan wisatawan. Jadi, enggak lagi terlalu bergantung pada dinas atau instansi," jelasnya.
Hotel itu juga menurunkan harga paket rapat agar tetap terjangkau oleh instansi yang anggarannya terbatas. Terlebih saat ini Kementerian Keuangan menganggarkan biaya makan dan snack untuk tingkat menteri, wakil menteri dan eselon 1 sebesar Rp171.000 per orang.
"Kalau biasanya half-day meeting [rapat setengah hari] dipatok harga Rp 300 ribu per orang, sekarang kita bikin paket bisa Rp 183 ribu [per orang]. Tapi ya konsekuensinya menyesuaikan juga, seperti mengurangi variasi makanan," ungkapnya.
Anna menambahkan, meskipun sudah mulai ada pergerakan di sektor perhotelan DIY, terutama dari instansi lokal, namun kontribusi dari pusat atau luar daerah masih minim.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Segera Diadili Pengadilan, 13 Tersangka Kasus Little Aresha Dipindah ke Lapas Perempuan Gunungkidul
-
Chapter Jogja 2026 Perkuat Sirkulasi Ekosistem Seni Rupa Kontemporer Yogyakarta
-
Hakim Sebut Tak Terbukti Berperan Aktif, Raudi Akmal Kini Jadi Tersangka Dana Hibah pariwisata
-
Data Pusat Tak Akurat, DPRD Jogja Desak Aturan Lokal agar Bantuan Pendidikan Tepat Sasaran
-
MJM 2026: Bank Mandiri Hadirkan Mandiri Bakti Kesehatan, Dukung UMKM dan Warisan Budaya Yogyakarta