SuaraJogja.id - Salah satu ikon seniman sekaligus pengusaha di bidang budaya asal Yogyakarta, Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Tanoyo Hamijinindyo atau yang lebih dikenal sebagai Hamzah Sulaiman sudah berpulang pada 23 April 2025.
Namun sosok ini ternyata meninggalkan warisan terakhir yang luar biasa sebelum dirinya pergi untuk selamanya.
Setahun lalu di tengah sakitnya yang berkepanjangan, Kanjeng-sapaan Hamzah bersama sutradara kenamaan Nia Dinata dan selebritis Dena Rahman, sang produser serta Kalyana Shira Foundation mencoba membuat satu film dokumenter tentang sepak terjangnya di dunia seni kabaret di Yogyakarta.
Siapa sangka, film yang kini telah selesai dibuat dengan judul 'Jagad’e Raminten' menjadi persembahan terakhir bagi sosok almarhum bagi dunia seni di Indonesia sesaat menuju peringatan 100 hari meninggalnya sosok Kanjeng Hamzah Sulaiman.
Bahkan menjadi legacy atau warisan dan sebuah perayaan atas semangat inklusivitas dan keberagaman yang ia bangun lewat dunia kabaret untuk komunitas, kesenian dan kemanusiaan.
"Awalnya memang film ini dibuat saat Kanjeng masih hidup, dan prosesnya kami lanjutkan sampai beliau wafat. Tapi alih-alih mengubah arah filmnya, saya hanya menambahkan ending yang sesuai dengan takdir beliau," ujar Nia Dinata disela pemutaran perdana 'Jagad'e Raminten' di Yogyakarta, Minggu (22/6/2025) malam.
Dalam film berdurasi 95 menit ini, Jagad'e Raminten tidak hanya mengangkat warna-warni dunia Raminten, tetapi juga memotret perjalanan Kanjeng dalam membentuk Raminten di Yogyakarta.
Film ini menggambarkan bagaimana Raminten cabaret menjadi wadah ekspresi seni yang inklusif. Seni yang tak banyak diangkat dalam banyak perbincangan.
Kanjeng dalam film itu diceritakan tidak hanya menjalankan bisnis. Namun lebih dari itu membina sebuah keluarga besar termasuk di dalamnya karyawan, penampil pertunjukan, serta keluarga dan para sahabat.
Baca Juga: Diabetes Renggut Nyawa Hamzah Raminten: Warisan Budaya & Bisnisnya Dikenang
Karenanya saat Kanjeng meninggal dunia, tak hanya keluarga namun juga karyawan, bahkan tukang-tukang becak yang sering mangkal di depan tokonya di kawasan Malioboro pun ikut yang merasa sangat kehilangan. Karangan bunga dari mereka jadi bukti
Karenanya melalui film tersebut, Nia memiliki tiga harapan utama.
Pertama, ia ingin menyemangati semua pihak yang terlibat dalam kabaret, terutama anak-anak angkat Kanjeng Hamzah, agar tetap melanjutkan apa yang sangat dicintai oleh sang tokoh, yakni kabaret sebagai bentuk seni perlawanan yang hidup dan berdaya.
"Saya ingin menunjukkan bahwa mereka masih bisa hidup dari kabaret, bahwa seni ini punya tempat dan bisa terus dinikmati," paparnya.
Film itu juga mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Sebab melalui Jagad’e Raminten, warisan Kanjeng Hamzah tetap hidup, tidak hanya di atas panggung kabaret, tetapi juga dalam semangat mereka yang ingin terus menyuarakan keberagaman, merayakan perbedaan, dan membangun ruang aman bagi semua.
"Ini sebuah warisan budaya, cinta, dan kemanusiaan yang tak akan lekang oleh waktu," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 5 Sepatu Skechers Max Cushioning yang Empuk untuk Jalan Kaki Jauh dan Olahraga
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Rekomendasi Produk Viva untuk Eksfoliasi Wajah, Mulai Rp12 Ribuan
- Apakah Pertalite Akan Naik Harga 26 September 2026? Ini Kata Bahlil
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Influenza A Terdeteksi di DIY, 24 Kasus Muncul, Sekolah Belum Diliburkan
-
Pestapora 2026 Siap Makin Meriah, BRImo Bawa Program Spesial
-
Cak Nun hingga Eross Sheila on 7, Jejak 77 Tahun MUHI Yogyakarta Diabadikan dalam Buku
-
Wishlist Steam Menumpuk? Ini 5 Cara Menyiasati Musim Diskon Besar
-
Sukses di Jogja, ZAP Fest 2026 Siap Sambangi 2 Kota Lain dengan Konsep Beauty, Music, dan Lifestyle