Sementara produk Indonesia yang dijual ke Amerika jadi mahal karena kena tarif tinggi.
Persoalan ini dikhawatirkan akan memukul industri lokal.
Namun menariknya, di tengah tekanan dari AS, Cina bisa jadi justru akan mengambil peluang.
Apalagi selama ini negara itu selalu bermain dengan cara halus.
"Ketika negara-negara lain ditekan oleh kebijakan keras seperti ini, Cina bisa saja datang menawarkan pendekatan lunak, skema-skema kerja sama yang lebih fleksibel. Mereka tidak pernah mengancam secara terbuka. Tapi diam-diam membangun pengaruh melalui pendekatan soft power," ujar dia.
Meski Indonesia dirugikan, jika Trump berharap tekanan tarif ini akan membuat negara-negara seperti Indonesia kembali merapat ke Amerika, hal itu tidak akan terjadi. Bahkan bisa sebaliknya bisa jadi boomerang untuk AS.
Negara-negara akan melihat tawaran Cina lebih masuk akal, lebih menghormati mereka.
Bahkan negara-negara sekutu Amerika seperti Eropa dan Australia mulai menunjukkan ketidaknyamanan terhadap kebijakan sepihak Trump.
Karenanya ke depan pemerintah Indonesia harus memainkan peran dengan lebih cerdas dan elegan. Faris mendorong agar Indonesia belajar dari pendekatan negara-negara seperti Singapura yang mampu menjaga hubungan baik dengan dua kekuatan besar dunia.
Baca Juga: Prabowo Didesak Rangkul Pengusaha, Tarif Trump 32 Persen Bisa Picu PHK Massal di Indonesia?
"Kita ini negara middle power. Kita harus berperilaku sesuai dengan postur itu. Jangan menunjukkan bahwa kita terlalu lemah, terlalu banyak meminta. Kita harus bisa menjaga keseimbangan. Kita tidak bisa memilih salah satu sepenuhnya, karena dua-duanya penting. Kalau kita condong total ke Amerika, kita akan kehilangan Cina, padahal perdagangan kita paling besar dengan Cina," ungkapnya.
Strategi Indonesia ke depan, imbuhnya harus fokus pada dua hal.
Yakni menjaga keseimbangan hubungan luar negeri dan meningkatkan kualitas diplomasi.
"Kalau kita tunduk sepenuhnya ke salah satu pihak, kita akan rugi. Tapi kalau kita bisa membangun relasi yang saling menghormati, baik Amerika maupun Cina akan tetap melihat kita sebagai mitra penting," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Pasar Ngijon Siap 'Digemparkan', Mulai dari Jathilan, Talkshow Menarik hingga Hiburan Gratis!
-
BRIvolution Reignite Perkuat Bisnis Inti dan Mesin Pertumbuhan Baru BRI
-
Pasca Ramai Dugaan Diskriminasi Siswa, Disdikpora DIY Wajibkan Sekolah Sediakan Ruang Belajar Agama
-
Usai Menang Praperadilan, Raudi Akmal Terlihat Langsung Turun ke Masyarakat
-
Kisah Rosidah di Sumenep, UMKM Gula Merah Tumbuh Pesat Setelah Memanfaatkan KUR BRI