- Pakar UGM mengkritik pengerahan TNI saat aksi demonstrasi saat ini
- Zainal Arifin Mochtar menilai TNI turun saat kondisi perrang
- Meminta Kapolri saat ini mundur bukan keputusan bijak
SuaraJogja.id - Pakar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar, melontarkan kritik keras terhadap pengerahan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pengamanan demonstrasi.
Ia menilai langkah tersebut tidak hanya salah kaprah, tapi juga memperlihatkan ketidakmampuan pemerintah menyelesaikan masalah dari akarnya.
"Sebenarnya nggak boleh ya [TNI amankan demo], TNI itu harus balik ke barak," tegas Zainal saat ditemui wartawan, Senin (1/9/2025).
Pria yang akrab disapa Uceng tersebut, TNI dibentuk untuk kondisi perang dan menjaga pertahanan negara. Bukan justru mengatur massa di jalanan.
"TNI tidak bersifat untuk menangani demonstrasi. Harusnya ini kerja-kerja kepolisian," ucapnya.
Menurut Uceng, pengerahan tentara dalam pengamanan aksi demonstrasi justru mengindikasikan ketidakpercayaan pada efektivitas Polri.
Zainal menilai akar masalahnya bukan pada aparat lapangan semata, melainkan pada cara pemerintah merespons kritik rakyat.
Ia turut menyindir kebijakan pemerintah yang dinilai kerap menghindar dari inti persoalan. Misalnya saja yang terbaru melarang fitur live di platform TikTok.
"Tiba-tiba yang dilarang ada live TikTok, karena kemarin katanya video itu kemarahan itu terjadi karena live TikTok. Bukan itu [masalahnya] live TikTok itu adalah cara untuk memproteksi diri," tuturnya.
Baca Juga: Trauma 98 Mengintai? Mahasiswa Jogja Geruduk DPRD, Soroti Keterlibatan TNI dalam Aksi Massa!
Ditegaskan Uceng, persoalan sebenarnya justru terletak pada rendahnya legitimasi pemerintahan.
Mengganti Kapolri saat ini dengan kondisi yang ada sekarang tak lantas menjamin keadaan bakal langsung berubah baik.
"Memang kalau misalnya dianggap polisi tidak mampu lalu ganti kapolri, tiba-tiba semua polisi langsung menjadi insaf baik, enggak juga," tegasnya.
Menurut Uceng, ketika legitimasi pemerintah lemah, sulit mengharapkan rekrutmen pejabat maupun aparat yang berkualitas dapat tercapai.
"Kalau legitimasi pemerintahan rendah kayak sekarang, gimana kita bisa percaya bahwa dia bisa menemukan orang bagus, ditaruh menjadi kapolri, tiba-tiba kemudian semuanya selesai," ujarnya.
Oleh sebab itu, ia mendesak Presiden untuk berhenti menambah masalah dengan menurunkan tentara ke jalan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
Terkini
-
Jadi Bank Beraset di Atas Rp500 Triliun, BRI Raih Empat Penghargaan Bergengsi Pada 2026
-
Puncak AXIS Nation Cup 2026 Segera Tiba, Tim Futsal SMA Terbaik Siap Adu Kekuatan
-
JKT48, Bernadya, dan Inul Daratista Satu Panggung di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap