- Clara Sumarwati, perempuan pertama Asia Tenggara penakluk Everest, meninggal dunia di usia 60 tahun.
- Prestasinya pada 1996 sempat menuai kontroversi di Tanah Air karena minimnya bukti dokumentasi.
- Perjuangan hidupnya diwarnai tekanan mental berat setelah pencapaian bersejarah tersebut.
SuaraJogja.id - Dunia petualangan dan pendakian Indonesia berduka. Clara Sumarwati, sosok yang tercatat dalam sejarah sebagai perempuan pertama dari Indonesia dan Asia Tenggara yang berhasil mencapai puncak Gunung Everest, meninggal dunia.
Ia wafat pada usia 60 tahun di Yogyakarta, Kamis (2/10/2025).
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh pihak keluarga. Sang kakak, Rita Heru Setyatini, mengungkapkan bahwa Clara meninggal setelah berjuang melawan penyakit komplikasi.
"Benar, meninggal tadi jam 16.10 dikarenakan gulanya naik, ginjal, terus kolaps," kata Rita saat dihubungi.
Prosesi pemakaman jenazah dijadwalkan berlangsung pada Jumat (3/10/2025) di pemakaman Sidikan, Umbulharjo, Yogyakarta.
Siapa Clara Sumarwati?
Nama Clara Sumarwati adalah simbol keberanian dan ketangguhan. Pada 26 September 1996, ia berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di titik tertinggi Bumi, puncak Everest (8.848 mdpl).
Pencapaian monumental ini tidak hanya mengharumkan nama Indonesia, tetapi juga membuktikan bahwa perempuan Tanah Air mampu menorehkan prestasi di tingkat dunia.
Lahir di Yogyakarta, 6 Juli 1967, semangat petualangan Clara sudah terasah sejak masa kuliah.
Baca Juga: Lampu Merah Bebas Pengamen? Jogja Siapkan Jurus Jitu 'Zero Gepeng'
Aktif di Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Atma Jaya, ia mulai menaklukkan berbagai puncak gunung sebagai persiapan.
Sebelum Everest, ia telah lebih dulu mencapai puncak Annapurna IV di Nepal (1991) dan Aconcagua di Argentina (1993), menunjukkan kapabilitasnya sebagai pendaki kelas dunia.
Namun, jalan menuju atap dunia tidaklah mudah. Upaya pertamanya pada 1994 bersama tim Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat (PPGAD) harus terhenti di ketinggian 7.000 meter karena kondisi alam yang tidak memungkinkan.
Tak menyerah, ia kembali dengan tekad lebih kuat pada 1996 dan berhasil menuntaskan misinya.
Ironisnya, prestasi besar Clara justru disambut dengan keraguan di negerinya sendiri.
Sepulangnya ke Indonesia, klaim pencapaian puncak Everest yang ia sampaikan menuai kontroversi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
Terkini
-
Tanpa Kembang Api, Ribuan Orang Rayakan Tahun Baru dengan Doa Bersama di Candi Prambanan
-
Gudeg Tiga Porsi Seharga Rp85 Ribu di Malioboro Viral, Ini Kata Pemkot Jogja
-
Pariwisata Melonjak saat Nataru, Sosiolog UGM Ungkap Risiko Tersembunyi di Balik Ramainya Yogyakarta
-
Kisah Mahasiswa Yogyakarta: Ubah Hambatan Kerja Paruh Waktu Jadi Peluang Karier
-
Bantul Siaga! Puncak Musim Hujan 2026 Ancam Bencana Cuaca Ekstrem